SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 60


__ADS_3

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah tiga bulan Santi berada di kota metropolitan ini. Bertemu dengan keluarga Zaifa yang baik hati dan mendapat pekerjaan yang sesuai hoby nya yaitu menggambar. Bahkan gambar hasil nya bisa menjadi rancangan yang di rekomendasikan di butik mama Niken.


Begitu juga dengan Rafli, Rafli seperti menemukan kehidupan baru di sini. Meskipun ia menjadi supir di keluarga mama Niken, tapi gaji nya bukan kaleng-kaleng. sebenernya Rafli pernah di tawari pekerjaan menjadi salah satu staf di perusahaan milik Niel. tapi Rafli menolak dan lebih memilih menjadi supir pribadi.


Saat ini keduanya sedang menikmati weekend bersama. Hubungan Rafli dan Santi pun setiap hari semakin dekat. Meskipun belum ada sebuah hubungan yang mengikat mereka tapi kedua nya sama-sama merasa nyaman. Satu sama lain sudah memiliki perasaan masing-masing tapi belum ada yang berani mengungkapkan nya.


"mas Rafli ngga kerja?" tanya Santi.


"enggak, nyonya Niken sedang berkunjung ke rumah nona Zaifa bersama tuan Niel. Aku dengar nona Zaifa sedang tidak sehat" jawab Rafli.


"benar kah?" tanya Santi terkejut.


"ya, tadi pagi-pagi sekali tuan Raihan menelpon nyonya Niken dan mengatakan bahwa nona Zaifa sangat lemas dan pucat. sebab itu nyonya dan tuan Niel langsung datang ke rumah tuan Raihan. Bahkan mereka berdua melewatkan sarapan"


"mbak Zaifa sakit apa ya" ucap Santi.


"gimana kalo setelah ini kita berkunjung ke rumah tuan Raihan mas, kamu tau kan rumah tuan Raihan?" tanya Santi.


"ya aku tau, nyonya Niken pernah berkunjung ke sana beberapa kali dan aku masih hafal jalan nya"


"baiklah, kalo begitu kita harus bergegas ke sana sebelum jalanan macet"


Santi dan Rafli lantas segera menghabiskan cappucino panas yang tinggal setengah. Mereka juga memakan kue brownies lumer pesanan mereka yang tinggal dua potong. setelah itu mereka ke kasir dan membayar pesanan mereka. Setelah itu kedua nya masuk ke mobil mama Niken yang di pinjam oleh Rafli.


"kita berhenti di toko kue langganan mbak Zaifa ya mas. Itu di depan sana tak jauh dari sini, aku pernah dengar kalo mbak Zaifa sangat menyukai kue-kue yang ada di toko 'Ana Cake' itu"


Rafli mengangguk, ia pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang dan membelokkan di pelataran toko kue yang bertuliskan 'Ana Cake' itu.

__ADS_1


Santi dan Rafli masuk ke toko dan di sambut ramah oleh pegawai toko kue itu. Santi melihat-lihat di etalase dan terdapat beberapa bolu dan kue brownies serta kue-kue yang di tata demikian rapi dan cantik.


Santi menunjuk kue yang menggunggah selera dan menarik mata itu. Pegawai pun mengambil dan membungkus nya dengan rapi. setelah mendapat beberapa kue Santi dan Rafli pun keluar dari toko itu dan melanjutkan perjalanan.


***


Sementara di salah satu rumah di kawasan perumahan elit. Di dalam rumah yang bernuansa klasik modern itu Zaifa sedang mengalami mual yang hebat. Meskipun tidak ada yang ia muntah kan tapi Zaifa tetap merasa mual dan muntah terus menerus.


Raihan di buat kelabakan, beruntung saat ini weekend jadi ia tak terlalu bingung membagi waktu. Zaifa menolak sarapan sebab ketika menghirup bau dari makanan Zaifa langsung muntah. Mama Niken bahkan merasa sedih sebab makanan yang ia beli tadi sebelum kesini belum ada yang menyentuh nya.


Mereka tak bisa makan saat melihat Zaifa muntah-muntah, bukan karena jijik tapi karena tak tega jika harus merasa kenyang sedang kan Zaifa belum makan apapun. bahkan air putih pun keluar lagi saat Zaifa mencoba untuk minum.


"sayang, kita periksa ke rumah sakit ya?" bujuk Raihan.


Zaifa menggeleng kan kepalanya, ia hanya malam melakukan perjalanan yang sudah pasti akan memakan banyak waktu sebab saat ini weekend. Pasti jalanan ramai sekali dan macet.


"aku enggak apa-apa mas, aku pengen rebahan di kamar aja" jawab Zaifa dengan suara lemas.


Tak perlu berlama-lama, Raihan langsung menggendong Zaifa menuju kamar nya dan merebahkan tubuh lemas itu di atas ranjang kemudian menyelimuti nya sampai dada.


"apakah kau ingin sesuatu sayang?"


Zaifa menggeleng, ia memeluk lengan kekar Raihan.


"temani aku mas, rasanya sangat nyaman jika mas ada di dekat ku"


Raihan pun duduk di tepi ranjang, di biarkan nya Zaifa memeluk lengan nya. Semakin lama mata Zaifa semakin sayup dan kemudian terpejam. Raihan bersyukur setidaknya melihat sang istri tidur lebih baik daripada harus melihat nya tersiksa sebab rasa mual dan muntah yang terus-terusan.

__ADS_1


Tok tok


Pintu di ketuk, Raihan melirik Zaifa yang sudah terlelap. Raihan pun melepas lengan dari pelukan Zaifa dengan pelan-pelan agar tak mengganggu tidur nya.


Saat pintu terbuka, rupa nya mama Niken yang ada di depan pintu. Mama Niken membawa segelas air jahe hangat dan ingin memberikan nya pada Zaifa.


"mama bawa wedang jahe Rai, siapa tau bisa menghangatkan perut Zaifa dan tidak merasa mual lagi" ucap mama Niken.


"Zaifa lagi tidur ma, mama tolong jaga sebentar. Aku akan menelpon dokter Roy agar kesini dan memeriksa Zaifa" pinta Raihan.


"kau sarapan saja, Niel sudah meminta dokter Nana untuk kesini. Kebetulan dokter Nana sedang ada di rumah dan katanya dokter Nana langsung berangkat kesini mungkin sebentar lagi akan datang"


"baik lah, tolong jaga Zaifa ma"


"iya, kau sarapan saja. Niel juga sedang sarapan"


Raihan pun melangkah pergi dan hendak menuju ruang makan untuk sarapan. Tapi baru dua langkah ia berjalan suara orang muntah langsung menjaga Raihan berbalik dan masuk kembali ke kamar begitu pun mama Niken yang langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kamar Raihan.


"sayang...." ucap mama Niken.


Mama Niken memijat tengkuk Zaifa, Zaifa terduduk di pinggiran wastafel. tubuh nya terasa lemas namun perut nya seperti di aduk dan ia tetap muntah meskipun tidak ada apapun yang ia muntah kan. sungguh Zaifa merasa lemas sekali hingga kemudian tubuh nya lunglai dan akan jatuh ke lantai jika saja Raihan tak sigap menangkap nya.


Raihan langsung membawa tubuh Zaifa ke ranjang dan menyelimuti nya. Rasanya ia begitu sedih melihat Zaifa yang biasanya ceria pagi ini harus terlihat lemas dan pucat.


"kau sarapan saja, biar mama yang tunggu Zaifa. Jangan sampai lambung mu bermasalah Rai, ini sudah beranjak siang" ucap mama Niken.


Raihan pun berlalu meninggalkan Zaifa meskipun ia tak tega.

__ADS_1


"semoga dugaan mama benar sayang, kau akan segera menjadi calon ibu." gumam mama Niken setelah Raihan keluar dari kamar.


__ADS_2