SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 73


__ADS_3

yuk gaes baca juga cerita baru othor ya, sambil nunggu cerita yang ini update. selalu dukung othor ya biar semangat terus buat berkarya.


***


"shhh... aduh mas" ringis Zaifa meremat lengan Raihan.


Raihan yang melihat wajah istrinya meringis langsung melihat ke arah buk Surti yang agak jauh di belakang nya.


"bik!!" panggil Raihan setengah berteriak.


Bik Surti pun langsung berjalan cepat ketika melihat majikan nya terlihat di papah oleh Raihan.


"kenapa non?" tanya bik Surti.


"sakit bik" keluh Zaifa dengan suara lirih.


"aduh den, mending non Zaifa di bawa pulang ke rumah aja. Seperti nya non Zaifa mengalami kontraksi" jelas bik Surti.


Raihan yang mengerti bahwa perempuan baya itu pasti lebih paham tentang kehamilan akhirnya menurut. Raihan langsung menggendong tubuh Zaifa dan menuju rumah nya. Sementara bik Surti membuntuti di belakang sembari membawa kresek berisi makanan yang tadi sempat di lihat oleh Zaifa.


tubuh Raihan mulai berkeringat, karena mereka berjalan sudah lumayan jauh dari rumah. terlebih tubuh Zaifa yang sedikit berisi karena kehamilan nya membuat Raihan sedikit kelelahan. Namun, ketika memandang wajah istri nya yang terus meringis tenaga Raihan seperti di isi ulang dan Raihan berjalan cepat sebab tak ingin membuat sang istri merasa kesakitan lebih lama.


Akhirnya, gerbang rumah Raihan sudah terlihat. sang satpam yang melihat bos nya menggendong nyonya rumah pun ikut panik. Satpam itu langsung berlari ke dalam rumah untuk memberi tahu kepada mama Niken yang kebetulan memang di rumah itu karena ingin menemani dan menunggu sang putri melahirkan.


"nyonya... nyonya besar.!!!" teriak pak satpam itu.


Mama Niken yang sedang ada di dapur karena menyiapkan makan pagi pun terkejut mendengar teriakkan dari pak satpam.


"iya pak, saya disini di dapur" jawab mama Niken setengah berteriak.


Pak satpam yang mendengar suara mama Niken pun langsung menuju dapur.


"ada apa pak?" tanya mama Niken yang sedang menata sarapan di meja makan.


"itu nya, non Zaifa di gendong sama den Raihan. kelihatan nya juga non Zaifa kesakitan" jelas pak satpam.


"yang bener pak, bukan nya mereka lagi jalan-jalan pagi ya"


"iya nya, tapi mereka...."


"mama....."

__ADS_1


belum sempat pak satpam berkata kembali suara panggilan Raihan sudah membuat mama Niken berjalan ke depan.


"kenapa ini Rai?" tanya Raihan.


"Raihan ngga tau ma, tadi di jalan tiba-tiba Zaifa mengeluh sakit di perut nya" jelas Raihan.


Mama Niken berjongkok dan menatap wajah sang putri yang terlihat sayup.


"dimana bik Surti?" tanya mama Niken.


"di depan ma lagi nelpon dokter Nana"


"pak tolong siap kan mobil ya. nanti kalo ada apa-apa kita bisa langsung berangkat ke rumah sakit" perintah Raihan yang melihat pak satpam di dalam rumah.


"siap den"


Pak satpam pun langsung keluar rumah dan menyiapkannya mobil. Ia ikut khawatir dengan keadaan sang nona. Sebab Zaifa adalah majikan yang sangat baik kepada mereka para pekerja nya. bahkan Zaifa tak membedakan atau memandang rendah para pekerja di rumah nya. semua sama rata.


"ya Gusti, semoga keadaan non Zaifa baik-baik aja" lirik pak satpam kemudian lekas menuju garasi.


"sakit ma.." rengek Zaifa.


"sabar ya sayang, coba tarik nafas dan hembuskan pelan-pelan" ucap mama Niken.


"apa kayak gini yang mama rasain dulu pas mama mau lahirin aku?" tanya Zaifa.


Mama Niken tersenyum, di elus nya dengan lembut pipi sang putri. Kemudian meraih punggung tangan Zaifa dan di cium nya.


"ya sayang, setiap calon ibu yang melahirkan pasti akan merasakan sakit yang luar biasa. Tapi, kesakitan itu akan terbayar ketika bayi yang ada disini lahir ke dunia dengan selamat" ucap mama Niken mengelus perut Zaifa.


"semoga Zaifa nanti bisa seperti mama ya, yang bisa melahirkan dengan selamat"


Deg.


Mama Niken tertegun, ia menatap wajah putri nya yang terlihat pucat dan sesekali meringis ia tau bahwa Zaifa masih merasa sakit.


"sayang, apakah sakit?" tanya Raihan.


"tak apa mas"


Raihan merutuk kepada dokter Nana yang tak kunjung datang. Hingga ia akan menyuruh bik Surti kembali menghubungi dokter Nana ketika Zaifa berteriak kesakitan.

__ADS_1


"sshh,, ma... sakit ma" rengek Zaifa dengan suara lirih.


semua yang ada di situ panik, bersamaan dengan itu dokter Nana masuk ke dalam rumah dengan tergesa.


"permisi Ken, biar aku periksa dulu"


Mama Niken menyingkir dan membiarkan sahabat nya itu memeriksa sang putri. Dokter Nana mengecek suhu tubuh, denyut nadi dan juga perut Zaifa. ketika ia meraba area bawah perut ia merasa tangan nya basah.


"Raihan, cepat siap kan mobil. Istri mu harus segera melahirkan karena air ketuban nya sudah pecah. cepat!!!" seru dokter Nana.


Raihan panik, ia langsung berlari keluar mengambil mobil. Tak lama ia masuk kembali dan menggendong tubuh sang istri. Sementara mama Niken mengambilkan perlengkapan yang telah di siap kan jauh-jauh hari.


"biarkan pak satpam yang menyetir Rai, jangan menyetir dalam kondisi panik" ucap mama Niken.


Raihan manut, ia duduk di bangku tengah sembari memangku kepala sang istri. Mama Niken duduk di bangku depan sembari sesekali melihat sang anak.


"jangan biarkan Zaifa tidur Rai!" seru mama Niken ketika melihat mata sang putri hampir terpejam.


"sayang tolong jangan tidur ya... Tolong jangan buat mas panik" kata Raihan mengecupi kening dan wajah sang istri.


"aku cuma ngerasa capek mas" ucap Zaifa.


"tolong yang, tolong apapun yang terjadi apapun yang kamu rasakan jangan pejam kan mata mu"


Zaifa tersenyum dan mengangguk, ia menatap wajah khawatir sang suami.


Di belakang mobil Raihan, dokter Nana mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang mengimbangi mobil Raihan. Ia sudah menghubungi Wulan untuk menyiapkan ruang operasi untuk Zaifa. Karena jika untuk melahirkan normal tentu Zaifa tak akan sanggup karena Zaifa sudah terlihat lemas.


Sementara di rumah, bik Surti pun tengah panik. ia khawatir dengan nona nya yang sudah di anggap seperti putri nya sendiri.


"ya Allah, semoga Engkau memberikan keselamatan dan kelancaran untuk nona Zaifa" lirih bik Surti mondar-mandir di ruang tamu.


"tuan muda Niel, ya aku harus menelpon tuan Niel"


Bik Surti mengambil telepon genggam dan menghubungi Niel.


Di kantor, saat ini Niel sedang berada di ruang meeting. ia sedang mendengarkan presentasi salah satu staf di depan sana. entah mengapa Niel terlihat gelisah. Tiba-tiba saja ia merasa ingin segera bertemu dengan sang adik.


Dan kegelisahan itu semakin menjadi ketika telepon nya yang dalam mode silent menyala. Ia melirik dan mendapati nomor rumah Raihan yang menghubungi nya. Tak berpikir panjang ia langsung mengangkat dan terdengar suara bik Surti dari sana.


"den gawat den, nona Zaifa akan melahirkan. Kondisi nya pucat dan lemas. sekarang nona Zaifa sedang di bawa ke rumah sakit Med*ika"

__ADS_1


brak...


Telepon genggam Niel jatuh dan membuat para anggota yang meeting menoleh ke arah Niel.


__ADS_2