
"si*al!!!!" ucap Rama memukul stang mobil ketika di depannya antrian mobil hanya bisa berjalan merayap.
"tuan, tuan muda Dani tidak mau berhenti meminum alkohol ini" lapor seseorang melalui headset yang di pakai nya.
"kalian awasi, sebisa mungkin jangan sampai bocah itu berlebihan dalam minum. Sebentar lagi Niel dan Raihan akan sampai"
Rama melajukan mobil nya dengan pelan, sungguh kemacetan di malam hari adalah hal yang menjengkelkan terlebih saat ini ia sedang terburu-buru.
Sementara Niel dan Raihan sudah sampai di bar. salah satu anak buah Niel menyambut mereka lalu tak berlama lagi mereka langsung masuk ke bar.
langkah kaki mereka terhenti ketika melihat Dani sudah tepar di atas meja. Kedua tangan nya telungkup di atas meja dan kepala nya memiring ke kanan. Terlihat wajah nya sudah merah, jika di lihat dengan jeli mata Dani terlihat memerah seperti menangis.
Sedang kedua anak buah di samping kanan dan kiri Dani berupaya menjauhkan minuman beralkohol yang sedari tadi di minum oleh Dani.
"berikan aku satu gelas lagi" ucap Dani dengan suara lemah.
"CEPAT!!!!" teriak Dani karena bartender itu hanya diam saja.
Dani akan memberontak sebelum kemudian ia kembali terduduk ketika ia seperti mendengar suara yang di kenal nya memanggil, meski sayup-sayup.
Niel dan Raihan yang hendak melangkah kembali menjadi diam di tempat. Sebab disana, di depan mereka seorang gadis tomboy sedang berdiri di belakang Dani.
"Dani udah cukup!" seru gadis itu.
Dani mencoba menegakkan badannya kemudian berbalik, dengan bersandar pada tubuh salah satu anak buah Niel ia berusaha mengenali suara gadis itu.
"lihat, hei lihat. Bahkan ketika aku mabuk aku melihat wajah wanita itu" racau Dani.
"kenapa kau diam saja" lanjut Dani ketika seseorang yang di sandari hanya diam saja.
"ayo-ayo, berikan aku segelas lagi. apakah kau tau aku kesini karena ingin melupakan gadis itu, ayo cepat berikan satu gelas lagi" Dani meraih gelas dan merebut botol alkohol dari tangan anak buah Niel.
satu gelas penuh akan di minum oleh Dani, namun kemudian gadis itu merebut paksa dan langsung melempar gelas itu ke lantai.
Pyaaarr...
Suara gelas itu, Dani yang di bawah pengaruh alkohol pun emosi dan kesal.
"hei kau, apa yang kau lakukan??" hardik Dani.
"cukup be*go!!!" seru gadis itu.
"lu mau penyakit lu kambuh hah???" teriak gadis itu.
Dan benar, baru saja gadis itu diam Dani memegang perut samping nya. Keringat dingin tiba-tiba keluar sangat banyak. Dani meringis, ia mendes*ah kesakitan saat merasakan perih menjalar di perut nya.
__ADS_1
"apa kalian lihat, cepat bawa dia ke rumah sakit!!!" seru gadis itu berteriak.
Kedua anak buah Niel langsung tersadar dan menggotong tubuh Dani membawa nya keluar. Sementara gadis itu membuntuti mereka, Niel dan Raihan hanya terpaku. Membiarkan gadis itu mengurus Dani.
"menurut mu, bukan kah gadis tomboy itu terlihat peduli pada bocah itu?" tanya Raihan memandang ke arah mereka berempat.
Niel mengangguk kan kepala nya setuju. "biar lah itu menjadi perasaan mereka. cepat hubungi Nana, suruh dia menyiapkan ruangan untuk Dani" perintah Niel.
Sementara ketika anak buah Niel akan memasukkan tubuh Dani pada mobil yang mereka bawa. Mereka di hentikan oleh Rama yang yang baru sampai.
"bawa ke mobil ku, aku akan bersama Niel dan Raihan nanti" perintah Rama.
Tak banyak berkata mereka langsung memasukkan tubuh Dani dan menuju rumah sakit terdekat.
Rama menyipitkan mata ketika baru sadar ternyata ada gadis yang ikut bersama mereka. Detik selanjutnya ia tersenyum tipis.
"dasar Dani bo*doh. Jelas-jelas gadis itu juga cinta sama dia"
"hei"
Rama menoleh dan mendapati kedua sahabat nya.
"kita perlu nyusulin engga?" tanya Rama.
"iya. kita tunggu bocah itu sampai sadar" jawab Niel.
***
"terima kasih ya bik, udah mau ngurus perkebunan Rani. Makasih juga loh udah kirim uang nya ke rekening Rani. Bibik udah ambil bagian nya kan?" tanya Zaifa.
"udah non Rani, tapi sekolah nya nggak papa toh di kelola sama anak-anak yang baru lulus sekolah itu?" tanya bik Surti.
Saat ini Zaifa dan bik Surti tengah melakukan video call. Selepas makan malam Zaifa merasa bosan dan akhirnya ia menghubungi bik Surti.
"bik Surti ya mbak?" tanya Santi yang baru datang.
Santi membawa dua gelas cappucino hangat dan sepiring tempe mendoan pesanan Zaifa.
"iya San, kamu mau ngobrol. Sini"
Santi pun duduk di dekat Zaifa dan dapat terlihat wajah bik Surti di layar kamera Zaifa.
"hai bik, bik Surti apa kabar?" tanya Santi.
"bibik baik mbak, mbak Santi gimana. Kayak nya betah disana. Makin cantik" puji bik Surti.
__ADS_1
Zaifa tersenyum mendengar itu, memang setelah tinggal di rumah mama nya. Santi terlihat jauh lebih cantik. kulit nya pun terlihat lebih bersih.
"bibik berlebihan, Santi betah di sini sebab Tante Niken dan mbak Zaifa baik banget" jawab Santi.
"syukur lah kalo begitu, sudah dulu ya mbak. Bibik udah ngantuk"
"iya bik, selamat malam" ucap Zaifa.
Zaifa meletakkan hp nya di meja dan meraih segelas cappucino milik nya.
"mbak, kayak nya aku mau pindah ngekos aja deh" ucap Santi.
Zaifa mengernyit kan kening nya heran. "kenapa?" tanya Zaifa.
"aku ngerasa ngga enak tinggal disini, apalagi disini ada mas Niel. Aku sungkan"
Zaifa meraih tangan Santi kemudian menggenggam nya.
"Santi, aku ngga pernah mikir yang aneh-aneh kalo kamu tinggal disini. kakak pasti juga ngga keberatan. tapi kalo kamu kurang nyaman, kamu boleh nyari kost yang terpenting adalah jaga dirimu. buat dirimu nyaman dan bahagia. Jangan sungkan, perkara kost nanti aku akan tanya kan pada kak Dani."
"terima kasih mba"
***
Mobil yang di kendarai Dani telah sampai di rumah sakit Medika. mereka sudah di sambut oleh Nana, dokter yang selalu menangani Dani.
Dani di letakkan di brangkar dan langsung di bawa ke UGD. Tak lama mobil Niel sampai di pelataran rumah sakit. mereka segera menyusul ke dalam dan mendapati Fatma, gadis tomboy yang tadi ikut serta membawa Dani.
Fatma mendongak menatap ketiga teman pria yang di sukai nya. Ada rasa malu jika di dekat mereka. Namun, rasa peduli nya terhadap Dani membuat dirinya menekan rasa malu.
"thanks Fat" ucap Raihan.
Fatma menoleh, "buat apa?" tanya Fatma.
"gue tau sebenarnya Lo peduli sama temen kita. tolong nanti Lo temuin dia. Dia pasti bahagia" ucap Raihan.
Niel dan Rama pun mengangguk membenarkan.
Tak lama pintu ruangan terbuka, mereka mendapati dokter nama menghampiri mereka.
"Dani tidak apa-apa, hanya asam lambung nya kambuh. Seperti nya ia baru saja minum alkohol" ucap dokter Nana.
"apakah saya bisa masuk dok"
Dokter Nana menoleh ke Fatma, sekilas seperti pernah mengenal nya kemudian ia pun mengangguk kan kepalanya.
__ADS_1
"gadis itu......" dokter Fatma memandang punggung Fatma yang telah masuk ke ruangan Dani.
"iya dok, dia lah gadis itu" jawab Rama.