
Raihan bangun pagi dengan semangat. setelah tadi malam Zaifa memberikan servis yang mampu membuat Raihan terbang melayang. Ia tak menyangka istrinya bisa melakukan itu, entah mendapat pengetahuan dari mana.
"anda tampak bahagia tuan?" tanya Alex yang menyambut Raihan di depan pintu ruangan nya.
"memang nya kenapa? memang nya kamu jomblo yang tidak pernah merasakan memiliki pasangan" jawab Raihan sinis.
Alex hanya menghela nafas, seandainya ia memiliki keberanian maka ia akan berteriak di depan wajah Raihan dan mengatakan bahwa Raihan lah yang membuat dirinya tidak sempat berpacaran seperti pemuda pada umum nya.
"ngomong-ngomong bagaimana hubungan mu dengan gadis itu Lex?" tanya Raihan ketika mereka sudah masuk di ruangan Raihan.
"gadis si-siapa yang taun maksud?" tanya Alex tak mengerti.
"ck, kau berpura-pura tak tau. jangan menggantungkan perasaan wanita Lex. Nanti kau di tinggal" ejek Raihan.
"saya benar-benar tak mengerti tuan"
"Shila?"
Alex terpaku, dari mana bos nya bisa mengendus hubungan yang sudah ia simpan rapi ini.
"eem..... I-itu...."
"sudah lah Lex, jangan seperti itu. Tidak baik menyembunyikan sesuatu dari bos mu ini. Lagipula seharusnya kau tak lupa jika Niel adalah sahabat sekaligus kakak ipar ku. Sedangkan Shila adalah sekretaris Niel. Ingat sepandai-pandainya kamu menyimpan rahasia tetap saja aku bisa tau"
Alex menghela nafas kasar. Memang benar apa yang di katakan oleh bos nya ini.
"jadi kapan kau akan menikahi gadis itu?"
***
Di perusahaan milik Niel, sama seperti Raihan. pagi ini Niel tengah mencecar Shila dengan pertanyaan tentang hubungan gadis itu dengan Alex.
"jadi benar kau menjalin hubungan dengan Alex?" tanya Niel.
"seharusnya tuan bos tak perlu bertanya jika memang sudah tau" ucap Shila.
"cck, kau memang seperti Zaifa yang suka sekali memancing emosi ku"
"memancing emosi bagaimana pak bos?"
"Shila, kau tau Alex adalah orang yang gi*a pekerjaan sementara dirimu adalah wanita yang memerlukan kasih sayang dan perhatian. Kau yakin akan bersama Alex?" tanya Niel lembut.
Shila menatap Niel, gadis berkaca mata itu sedikit menunduk. Ucapan Niel memang benar, siapa yang menyangka bahwa Niel dan Shila memiliki hubungan saudara meskipun hanya sepupu jauh. Shila adalah anak dari saudara ipar ayah nya. Shila sudah kehilangan kedua orang tua nya sejak kecil dan oleh keluarga orang tua Shila, Shila di titip kan di panti asuhan dan kemudian setelah beranjak remaja Shila tanpa sengaja bertemu dengan Niel.
__ADS_1
"aku tak akan memaksa mu, selama kau yakin Alex bisa membuat dirimu bahagia maka aku tak akan melarang hubungan kalian"
"aku yakin mas, seperti dirimu yang bisa menjaga perasaan kepada dokter Wulan. Seperti pak Raihan dan mbak Zaifa yang bisa saling percaya. Aku yakin Alex bisa menjadi lelaki yang setia" ucap Shila tegas dan yakin.
"jadi kapan dia akan menikahi dirimu?"
***
Zaifa sedang berjemur di halaman rumah nya bersama baby girl. Dengan di temani oleh bik Surti mereka bercakap-cakap tentang masalah di pedesaan.
"jadi bagaimana dengan pak bewok dan buk Dewi bik?" tanya Zaifa.
"semenjak Santi hilang di malam pernikahan itu, banyak tetangga yang mendengar kalo mereka sering berantem. paling parah si Dewi itu sampai di tampar sama si bewok. Memang kurang ajar pria macam bewok itu." seru bik Surti emosi.
"terus bagaimana sekarang bik?"
"kabar nya si Dewi pergi ke kota ini, tapi sudah lama bibik disini kok ngga pernah ketemu"
"kalo pak bewok?"
"si bewok udah ilang entah kemana. karena kan tanah sama rumah di jual ke pak lurah sama si Dewi buat lunasin hutang nya sama di Bala"
"hutang nya banyak ya bik?"
"kasian Santi ya. Apa Santi udah tau tentang ini bik?"
"Santi mana tau non, Santi kan belum pernah pulang lagi ke desa. Yang pulang cuma Rafli, itu pun Rafli ngga tau apa-apa"
Zaifa mengangguk mengerti, tak pernah berfikir bahwa keluarga Santi akan berantakan. dan tak pernah terbayangkan bagaimana perasaan Santi saat mengetahui kenyataan ini.
Padahal tanpa mereka sadari, bahwa gadis yang mereka bicarakan sedang berdiri di belakang mereka dengan jarak yang tak terlalu jauh sehingga pembicaraan mereka jelas terdengar di telinga nya.
Santi berbalik, awal nya ia ingin mengunjungi 'Zaira' putri kecil Zaifa. Tapi mendengar pembicaraan Zaifa dan bik Surti membuat dada nya terasa sesak. Akhirnya ia memutuskan berbalik dan pergi.
Setelah Santi pergi, Rafli datang dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan segelas su*u kedelai untuk Zaifa.
"loh, Santi mana non?" tanya Rafli.
"Santi?" tanya Zaifa dan bik Surti.
"iya. Tadi katanya mau kesini. Kita bareng kok tadi kesini selepas saya mengantar nyonya besar ke butik. tapi pas sampai saya ke dalam karena mau membuat teh ini"
Zaifa dan bik Surti saling lirik, apakah jangan-jangan Santi mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
***
Santi duduk di rumah makan yang beberapa bulan lalu ia datangi bersama Rafli. Tujuan nya kesini selain untuk sarapan tapi juga untuk mengetahui sebuah kebenaran.
"mang, nasi goreng satu sama es teh tawar ya" seru Santi.
"beres neng"
Santi memperhatikan dapur warung itu, dimana biasanya seorang wanita berdiri disana untuk mencuci piring. Tapi saat ini wanita itu tak terlihat. Santi begitu gelisah, takut kalau-kalau apa yang ia lihat waktu itu benar ibu nya.
Sampai pesanan Santi di antar oleh mamang penjual, wanita itu tak muncul. Santi mencoba tenang dan menikmati makanan pesanan nya. Hingga sepiring nasi goreng dan segelas es teh tawar milik nya habis tak tersisa wanita yang ditunggu tak kunjung muncul.
Santi duduk sejenak di bangku itu bermaksud untuk menunggu beberapa saat lagi. Ia menelusuri tiap sudut siapa tau wanita yang di cari nya sedang melayani pembeli. tapi ternyata tak ada. bahkan mamang penjual tampak kuwalahan karena harus melayani pembeli sekaligus mencuci piring.
Santi celingukan hingga tanpa sadar mamang penjual kembali menghampiri dirinya.
"maaf neng, ada apa ya? Kok kayak nya lagi nyari sesuatu?" tanya mamang itu.
"oh, enggak mang. Saya mau tanya sesuatu boleh?" tanya Santi tersadar.
"mau tanya apa?"
"ibu yang suka bantu mamang cuci piring kok ngga kelihatan, kemana?"
Mamang itu terdiam sejenak seperti berpikir. Melihat penampilan Santi ada apa gerangan mencari ibu pencuci piring di warung nya.
"memang nya ada apa neng?"
"tanya aja Mang, kayak nya wajah ibu itu ngga asing"
"ohh,, tunggu aja neng. Biasanya emang Dateng agak siang"
Santi melihat jam di pergelangan tangannya, ia ada jadwal bertemu dengan klien siang ini.
"em, ya udah deh mang kalo agak siangan. Saya masih ada urusan, jadi ngga bisa terlalu lama"
Santi merogoh tas nya dan mengambil selembar uang biru.
"ini ya mang, saya permisi dulu. Kembalian nya buat mamang aja"
mamang hanya memandang punggung Santi hingga beberapa saat kemudian.
"mang.!!"
__ADS_1