SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 98


__ADS_3

"kenapa yang?" tanya Raihan yang baru saja keluar dari ruang kerja Niel.


"ini loh mas, aku kok kayak denger Rara bilang sesuatu" ucap Zaifa.


Raihan mendekat, ia melihat putri nya yang sedang tidur terlelap namun sesekali mulut nya bergerak mengatakan sesuatu dengan pelan. Sama seperti Zaifa, Raihan mendekatkan telinga nya di bibir sang putri.


"ngapain kalian?" tanya Rama dari belakang.


"ohh princess nya Udah bobok ternyata" lanjut Rama kemudian duduk di sofa.


"Tante Niken mana?"


"di kamar, tadi ada telepon dari klien. Santi kan udah mulai mempersiapkan pernikahan nya jadi mama yang handle butik untuk sementara"


Rama mengangguk, Raihan dan Zaifa pun duduk tak jauh dari Rama.


"Rai, aku boleh minta tolong"


Raihan menatap Rama sembari mengangkat alis nya seolah bertanya 'apa'.


"ntar malem di suruh ngelamar Patricia. kamu tau aku udah ngga punya keluarga. Selama ini aku juga tinggal di apartemen. Aku cuma bisa minta tolong sama keluarga kamu"


"kita saudara Ram, kamu ngga perlu seperti itu. Aku nanti bilang sama mama Niken dan juga Tante Nana. Semoga nanti malam mereka bisa menghadiri acara pertunangan mu sebagai keluarga"


Rama tersenyum, ia merengkuh tubuh Raihan. Bersyukur setelah kepergian ayah nya dan ibu nya yang entah kemana Rama di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi nya. Meskipun dulu papa nya bangkrut tapi Raihan, Dani, Boby dengan suka rela memberikan dana untuk membangkitkan kembali perusahaan itu dan sekarang perusahaan itu menjadi milik mereka berempat.


"Persiapan udah ada?"


"aku udah beli cincin nya" jawab Rama.


"cincin? yang lain?"


"emang ada??"


Zaifa dan Raihan saling pandang kemudian menepuk jidat nya.


"emang apa lagi yang harus di persiapkan Rai, Zai,?"


"hantaran kak, perasaan udah sering lihat orang lamaran"


Rama terkekeh, untuk hantaran tentu saja ia sudah menyiap kan nya.


"aku kira apa. Itu sudah di tangani sama Shila."


"ngomong-ngomong tentang Shila bagaimana hubungan nya sama Alex?"

__ADS_1


"mereka sudah berencana langsung menikah"


"ngga tunangan?"


"Shila bilang, Alex sudah yatim piatu sama seperti dirinya. Kalau untuk tunangan mereka pun sudah tak memiliki keluarga. Daripada mereka sedih karena melakukan lamaran tapi tanpa keluarga jadi mereka memutuskan untuk langsung menikah?"


"kapan?"


"bulan depan"


Huaaa.... huaa....


Zaifa dan Raihan terlonjak kaget mendengar suara tangisan Rara yang sangat kencang. Mereka bertiga menghampiri box Rara, dan ternyata Rara sudah tengkurap dan mencoba bangkit namun terjatuh mungkin karena masih mengantuk.


Zaifa segera menggendong putri nya yang masih menangis.


"cup cup,, sayang... Mama disini nak" ucap Zaifa menepuk ****** Rara lembut.


"iill,, illl"


Raihan dan Zaifa saling pandang. Siapa yang di panggil oleh putri nya.


"Rara mau di gendong sama om Rafli?" tanya Raihan.


"papa... Iil, il"


"kenapa sayang?" tanya mama Niken yang keluar dari kamar dengan terburu-buru.


Rara menoleh ke arah mama Niken dan mengulurkan kedua tangan nya.


"ma il, il"


Mama Niken terdiam, ia mencoba menafsirkan bahasa Rara. Namun ketika ia hendak berucap suara Rama membuat mama Niken mengurung kan nya.


"Rara kangen sama uncle Niel ya?" tanya Rama.


Raihan dan Zaifa saling pandang. Apakah mungkin sebutan il adalah uncle Niel. Sama seperti Rama yang di panggil Ama oleh Rara. dan sesuai dugaan Rama bocah kecil itu mengangguk meskipun masih menangis.


"Rara pengen ketemu sama uncle ya?" tanya mama Niken.


"ya udah, kita kesana ya. kita ke rumah uncle Niel tapi Rara ngga boleh nangis lagi ya" sahut Zaifa.


bocah itu kemudian diam dan mengulurkan tangannya pada Zaifa. Zaifa segera menggendong sang putri dan mengambil tas yang memang berisi perlengkapan Rara.


"ayo pa kita ke rumah uncle Niel"

__ADS_1


Raihan mengangguk, ia merogoh saku nya mencari kontak mobil.


"pakai mobil ini aja. Sekalian mau ke rumah Niel juga. Yuk"


Raihan dan Zaifa mengangguk mengikuti langkah Rama.


"mama ngga ikut ya nak, mama lagi banyak pesanan"


"iya ma, mama jangan lupa makan ya. Oh iya ma, nanti malam Rama minta tolong untuk melamar kan Patricia"


"syukur lah akhirnya mereka mengambil langkah ke jenjang yang serius. Baik lah, mama akan selesai kan pekerjaan mama sore ini juga"


Zaifa mengangguk, ia segera menyusul langkah sang suami. Sampai di luar Rama sudah menunggu mereka. dan tak lama mereka langsung menuju kediaman dokter Nana.


Setelah perjalanan 30 menit karena perjalanan yang lancar dan tidak macet akhirnya mereka sampai di kediaman dokter Nana. mereka berhenti tiga meter sebelum gerbang masuk rumah itu, mereka di buat heran dengan pintu gerbang yang terbuka dan beberapa orang yang duduk persis di depan gerbang.


"ada acara apa ya pa?" tanya Zaifa.


"enggak tau, coba kita turun dulu yang"


Mereka pun turun dan menghampiri kerumunan itu. Sampai dekat mereka tercengang dengan pemandangan di depan. bagaimana bisa Niel yang tidak suka duduk bersama ibu-ibu kini Niel sedang duduk lesehan di jalan dan bersama ibu-ibu sedang melakukan rujakan.


"kak?" seru Zaifa.


"iill..." ucap Rara dengan suara kecil.


"eh, adek kakak kesini rupanya. Sini gabung sini, kita makan rujak sama-sama dek" ajak Niel.


Zaifa melihat ke arah Wulan yang terlihat pasrah melihat Niel sedang mencomot buah mangga yang masih berwarna putih kemudian mengunyah nya seolah mangga itu sudah matang. Gigi Zaifa ngilu melihat nya.


"bagaimana bisa kakak ku makan buah mangga itu kak? Padahal selama ini kak Niel tidak suka dengan makanan asem"


"itu hal yang wajar dek, biasanya orang hamil ngidam sesuatu yang segar dan cenderung memiliki rasa asam. sama seperti sekarang"


"huft, beruntung bukan kak Wulan yang ingin makan mangga muda itu"


Wulan terkekeh mendengar ucapan Zaifa. Wulan kemudian melirik ke arah Rara yang sedang menatap lekat Niel. Sebagai dokter yang sedikit belajar tentang anak Wulan bisa menyimpulkan bahwa Rara sedang merindu pada uncle Niel.


"mas..." panggil Wulan lembut membuat Niel menoleh.


"makan rujak nya udah ya, besok lagi. liat ada Rafa yang kangen sama kamu"


Niel menoleh ke arah sang keponakan, apa yang di katakan istrinya benar. Rara dengan mata berkaca-kaca menatap dirinya. Tak tega dengan itu, Niel beranjak dan langsung mengambil alih tubuh Rara.


Dan sesuai prediksi Rama jika Rara sedang merindukan sang uncle. setelah di gendong oleh Niel, Rara menjadi bocah yang aktif seperti biasanya. Mereka yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2