
"wooyy!!!!"
Seru seseorang membuat Raihan berdecih kesal. Ia kemudian membalik badan dan menatap kedua sahabat nya yang cengengesan.
"tahan dulu bro. jangan buru-buru, setidaknya tahan sampai dua Minggu" ucap Dani merangkul pundak Raihan dan membawa nya agak menjauh.
Sementara Niel menghampiri Zaifa, gadis cantik yang ternyata adalah adik kandung nya.
"kau sangat cantik dek" puji Niel.
"terima kasih kak" ucap Zaifa menatap Niel.
"heeii kenapa menangis" seru Niel melihat mata Zaifa berkaca-kaca.
Raihan dan Dani menoleh ke arah mereka berdua. Dani menahan tubuh Raihan yang hendak maju dan memisahkan kakak adik yang saling berpelukan.
"biarkan mereka Rai, meskipun Zaifa adalah calon istri mu tapi ingat saat ini Niel adalah kakak kandung nya" nasihat Dani.
"cih, lihat lah pria itu pasti sangat bahagia sebab bisa memeluk kekasih ku yang cantik" cibir Raihan.
"sudah lah, jangan cemburu dengan calon kakak ipar mu"
Dani kemudian membawa Raihan duduk dan menyodorkan sebotol minuman agar perasaan nya agak tenang.
Sementara tak jauh dari sana Zaifa masih menangis terisak-isak di pelukan Niel. Niel pun mengelus punggung Zaifa lembut agar adik nya itu sedikit tenang.
"kenapa hem?" tanya Niel melepas pelukan Zaifa.
Zaifa memandang pria yang menjadi sahabat kekasih nya dan ternyata adalah kakak kandung nya. pantas saja selama ini setiap kali berhadapan dengan Niel perasaan nya selalu dekat dan merasa akrab. Ternyata ini alasan nya. Mereka adalah sekandung.
"maafin Zaifa yang engga bisa mengenal kakak. Sekarang saat kita udah ketemu tapi Zaifa justru akan segera menikah."
Niel mengusap jejak air mata di pipi Zaifa kemudian menangkup wajah kecil itu dan mengecup dahi nya.
"seharusnya kakak lah yang harus meminta maaf sebab terlambat menemukan mu. padahal kakak sudah memiliki firasat setiap kali dekat dengan mu. tapi, kakak begitu lambat menyadari"
"tak apa kak, yang terpenting kita sudah berkumpul sekarang"
__ADS_1
mereka pun kembali berpelukan membuat seseorang di sebelah sana berang dan berjalan cepat kemudian memisahkan pelukan mereka.
"hentikan Niel, kau membuat ku marah" ucap Raihan melepas paksa pelukan itu kemudian membawa Zaifa ke pelukan nya sendiri.
"cih, bilang saja kau cemburu kan. Ingat Rai, Zaifa adalah adikku. Kau tak berhak melarang seorang kakak memeluk adiknya sendiri" ujar Niel.
"tak peduli apa pun alasannya, Zaifa adalah milikku" tegas Raihan.
"apa pun itu lah, terserah padamu."
"ayo Dan kita pergi saja. Biarkan Raihan mengurus segalanya dan awas saja jika sampai meminta bantuan kita. lebih baik sekarang kita membantu persiapan Boby saja"
Dani dan Niel pun berlalu meninggalkan sejoli itu.
"kau tak boleh bersikap seperti itu mas"
"biarkan saja"
"permisi tuan, nona. Tempat pemotretan sudah di siapkan" ucap pegawai yang tadi.
"baik lah, tolong perbaiki riasan ku dulu mbak" ucap Zaifa.
"baiklah, kau jangan terlalu lama"
Zaifa mengangguk kemudian masuk ke ruangan ganti untuk make over kembali.
***
sementara di hotel, Diva pun sudah mulai di rias sebab hari sudah mulai malam. Acara pertunangan berlangsung pukul delapan malam. Saat ini di aula hotel sudah banyak tamu undangan yang berdatangan, dari mulai teman-teman Boby, rekan bisnis nya dan rekan bisnis ayah nya, keluarga dan para pegawai di perusahaan sang ayah pun turut serta di undang.
Satu per satu meja yang di siapkan sudah di duduki oleh masing-masing orang. Terlihat juga para wartawan yang berdiri berjejer di pintu masuk dan juga sudah ada yang bersiap dengan kamera nya di depan panggung settingan itu.
Lampu flash terlihat menyala ketika enam orang memasuki ruangan itu. Sepasang kekasih di depan dan empat pria di belakang mereka. Para pria tampan dan satu wanita cantik membuat wartawan itu membidik mereka untuk di jadikan bahan berita.
Apalagi pria yang menggandeng wanita itu adalah putra tunggal tuan Bram, sang pebisnis dari perusahaan makanan ringan. Sementara empat pria di belakang mereka di ketahui adalah CEO di perusahaan yang juga cukup terkenal, sementara satu di antara mereka adalah sekretaris dari CEO dingin nan tegas, Raihan.
Mereka berjalan menatap lurus ke depan, hingga mereka sampai di meja paling depan yang memang di persiapkan untuk mereka. Alunan musik di setel untuk menemani para tamu undangan mengobrol santai.
__ADS_1
Pagar ayu pun sibuk kesana kemari untuk memberikan minuman pada para tamu undangan. Sedangkan untuk makanan sudah di siapkan di meja masing-masing.
"apakah Santi dan Rafli tak ikut Lex?" tanya Zaifa kepada Alex.
"tidak nona, mereka sudah kembali ke desa pagi tadi" jawab Alex.
"benar kah, sayang sekali."
"mereka bilang merasa sungkan disini, dan tidak enak jika sekolah di libur kan lagi"
"ya benar juga, aku kira mereka akan pulang sore nanti"
Mereka kemudian menatap ke arah tangga dimana Diva dan Boby sudah siap dan hendak turun.
Diva terlihat sangat cantik dengan gaun putih panjang dan berlengan pendek. Di bagian leher terdapat mutiara berwarna krim yang sangat cocok dengan kulit putih nya. rambut nya di sanggul pendek dan memakai mahkota seperti tuan putri.
"kau terlihat sangat cantik sekali Div" puji Zaifa.
Diva tersenyum kemudian duduk di samping Zaifa dan Boby duduk di samping Diva.
sontak meja mereka menjadi sorotan, sebab sang tokoh utama bercengkrama dengan teman-teman mereka. Mereka mengobrol hangat, mengabaikan orang-orang yang sedang menatap mereka.
Tak lama sang MC pun menyapa para tamu undangan dan menyebutkan rangkaian acara pada malam hari ini.
"selamat malam ladies and gentleman, para tuan dan nyonya dan juga para wartawan yang hadir pada acara engagement tuan Boby dan nona Diva." ucap MC itu lantang.
"tak usah berlama-lama, kita langsung saja masuk ke acara tukar cincin untuk sepasang kekasih yang malam hari ini terlihat sangat cantik dan tampan"
"kepada nona Diva dan tuan Boby di persilahkan naik ke atas sini"
Boby dan Diva pun berjalan dengan bergandengan tangan. Lampu flash dan sorot cahaya mengarah kepada mereka. Senyum merekah keduanya menular kepada orang tua dan para undangan.
Mereka pun sampai di depan podium kecil dimana cincin mereka telah di siapkan. Di samping Boby ada kedua orang tua nya dan di samping Diva ada Zaifa dan Raihan. Sebab Diva adalah anak yatim piatu.
Boby memasang cincin berlian yang berkilau di jari manis Diva, begitu juga Diva yang memasang cincin di jari manis Boby. Suara riuh tepuk tangan terdengar begitu saja..
Boby dan Diva menunjukkan jari mereka yang telah terpasang cincin agar di abadikan oleh seorang fotografer yang membidik kan kamera ke arah mereka.
__ADS_1
Setelah itu mereka kembali ke tempat duduk dan acara pun berlanjut. Banyak para tamu undangan yang berbincang dan dalam acara seperti ini di gunakan untuk saling berkenalan dengan Raihan dan wanita yang Raihan bawa.
Tak jarang bagi mereka yang memiliki hubungan bisnis akan bercengkrama untuk menjalin silaturahmi.