
Raihan memeluk Zaifa, kegiatan bercinta malam ini sedikit lebih erotis dan membahagiakan dari sebelumnya. Raihan selalu memberikan kata positif agar mood Zaifa terus membaik dan terbukti ucapan cinta dan pujian yang Raihan lontar kan membuat Zaifa semakin agresif dan Raihan berdoa semoga kegiatan panas nya malam ini akan segera menghadirkan calon bayi di rahim Zaifa.
"semoga kali ini jadi ya mas" ucap Zaifa penuh harap.
"semoga saja sayang" jawab Raihan mengecup kening Zaifa.
"jika pun belum, maka kita harus terus berusaha dan berpikiran positif. Mungkin kita masih di suruh berpacaran terlebih dahulu"
Zaifa mengangguk, ia sedikit menenangkan dirinya. Ia tak perlu merasa iri, sebab Zaifa yakin dengan takdir tuhan.
Raihan merapatkan pelukan nya lasa Zaifa, kemudian mereka sama-sama terlelap setelah berolahraga panas di atas ranjang.
***
"jadi bener kan kalo waktu itu Fatma beneran Dateng pas aku lagi di rumah sakit" ucap Dani.
"bukan hanya Dateng, bahkan Fatma yang udah bawa kau ke rumah sakit Dan" jawab Rama.
"serius?"
Rama mengangguk, ia pun melirik Niel yang terlihat santai. Niel yang merasa di perhatikan pun melihat ke arah Dani.
"dia bahkan berada di ruangan mu lama Dan, setelah itu ia pamit pulang. Tapi sepertinya waktu itu ia bilang kalo ingin ke rumah sakit lain" jelas Niel.
"siapa yang sakit?" tanya Dani.
Rama dan Niel pun sama-sama mengangkat bahu nya sebab tak tau.
"emang kenapa?" tanya Rama curiga.
Dani menghela nafas nya, ingatan nya teringat pada obrolan nya dengan Fatma tadi pagi.
__ADS_1
Tadi pagi.....
"kamu ngapain ke sini?" tanya Dani pada Fatma yang berkunjung di pagi hari.
"aku cuma mau jelasin sesuatu sama kamu. mungkin ini emang ngga penting, tapi maybe akan lebih baik kalo aku jelasin ke kamu."
Fatma mengatur nafas nya sebentar, sebenarnya gadis itu merasa gugup sekarang. Sebab ia pun merasa sedikit malu karena sebelum-sebelumnya sudah menolak Dani berulang kali. tapi entah kenapa ia merasa takut jika Dani akan salah paham dengan dirinya.
"malah diem?" sindir Dani.
Fatma menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkan nya perlahan. Di tatap nya manik mata Dani sebelum ia berkata.
"cowok yang di mall waktu itu bukan siapa-siapa ku, dia memang temen aku. Karena keluarga kami terikat, aku sama dia udah bareng-bareng sejak kecil. Tapi aku sama nggak memiliki perasaan lebih dari teman sama dia. Dia emang suka iseng manggil aku sayang kalo aku di ganggu sama cowok. Dan waktu di mall itu dia melakukan nya juga. Aku lupa bilang sama dia kalo kita....."
"kita?" tanya Dani penasaran, sebab Fatma menjeda lama ucapan nya.
"kita pernah Deket" jawab Fatma lirih dan menundukkan kepalanya.
"aku sama dia terikat dalam perjodohan, sebab selama ini biaya hidup ku di tanggung sama keluarga dia. Dan sekarang ibu ku lagi sakit, aku ingin menolak bantuan dari keluarga nya tapi lagi dan lagi aku ngga kuasa Dan, aku ngga memiliki apapun untuk di jual atau di gadaikan untuk biaya rumah sakit ibu." jelas Fatma. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dani terdiam. sedikit demi sedikit ia mulai meresapi ucapan Fatma dan mencoba menempatkan dirinya di posisi Fatma saat ini.
"aku ngga bisa sama dia, tapi aku juga ngga punya apapun untuk di berikan pada keluarga nya sebagai timbal balik atas keluarga nya. mereka emang ngga meminta apapun, tapi aku malu Dan, aku malu banget. Akan terasa tidak sadar diri sekali jika aku mengembalikan apa yang mereka berikan sementara ibu masih membutuhkan biaya rumah sakit untuk berobat"
Fatma menyeka air matanya, ia tak memiliki niat apapun menceritakan ini pada Dani. Tapi entah mengapa hati kecil nya menyuruh nya untuk bercerita pada Dani. Pria yang selalu di tolak nya.
"ibu ku sakit leukimia, setiap Minggu harus cuci darah. gaji dari pekerjaan ku hanya cukup untuk biaya makan dan membeli obat ibu. Sementara biaya cuci darah dan rumah sakit di tanggung oleh keluarga lelaki itu. Aku mau menolak Dan, aku ngga mau terikat sama siapapun. Aku tersiksa, aku sakit. Aku ngga cinta sama dia, aku...."
Dani menepuk pundak Fatma dengan lembut. Kini ia tau sumber permasalahannya. Baik lah, jika begitu maka Dani memerlukan bantuan Alex dan Raihan untuk hal ini.
"maaf, aku udah keterusan cerita sama kamu. tapi sungguh aku ngga ada niat apapun cerita ini ke kamu. Aku hanya mengikuti kata hati ku. Aku ngga mau kamu salah paham, karena aku sayang sama kamu Dan, aku cinta sama kamu. tapi aku sadar, aku ngga pantes itu sama kamu. Makasih udah nyatain perasaan kamu ke aku, aku harap kamu nemuin wanita yang lebih baik dari aku. Aku permisi, semoga kamu lekas sembuh"
__ADS_1
Fatma beranjak kemudian berlalu, sementara Dani merenung hingga kedatangan dokter Nana menyadarkan dirinya.
Kembali saat ini...
"keluarga cowok itu apa?" tanya Niel.
"entah lah" jawab Dani.
"dari cerita mu, sebenarnya Fatma memiliki perasaan yang sama seperti dirimu Dan, hanya saja ia merasa sungkan jika harus memutuskan perjodohan nya dengan pria itu. Tapi sepertinya kita harus melakukan sesuatu biar cowok itu melepas Fatma dengan suka rela. keluarga nya mungkin menolak jika Fatma yang memutuskan perjodohan, tapi jika cowok itu sendiri yang memutuskan?"
Brilian! Ide Rama sangat brilian. Niel dan Dani memandang ke arah Rama. senyum misterius Rama mengundang rasa penasaran Niel dan Dani. tapi Dani berharap semoga rencana Niel akan membawa kebaikan untuk hubungan nya dengan Fatma.
***
Raihan dan Zaifa bersiap untuk pergi dari hotel. Hari ini Raihan akan ke rutinitas awal yaitu bekerja. Raihan sudah bersiap dengan jas limit nya yang ia pesan tadi pagi saat ia baru saja bangun tidur. Sebenernya belum ada toko buka di jam subuh begitu, tapi jika Raihan maka itu tak berlaku.
"kau sangat tampan mas" puji Zaifa.
Raihan menghampiri Zaifa yang duduk di tepi ranjang, Raihan mengelus jilbab Zaifa kemudian mengecup nya. Ia meraih jemari lentik milik Zaifa kemudian mengecup nya lama.
"kau juga sangat cantik sayang. Kau adalah anugrah terindah selama aku hidup. Kau sangat berarti di hidup ku. Jangan pernah berubah, aku sangat menyayangi mu. Hidup ku akan hancur jika kau pergi"
Zaifa memeluk pinggang Raihan, ia menenggelamkan wajahnya di perut sang suami. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin milik Raihan.
"selama bukan kau yang menyuruh ku pergi, maka aku tak akan pergi mas. Maaf jika sebelumnya aku seperti anak kecil yang menghindari mu. tapi aku janji, setelah ini aku akan mengikuti kemana pun langkah mu. Aku akan mencintai mu sepenuh hatiku."
Raihan mengecup bibir Zaifa ketika Zaifa mendongak. pagi itu adalah pagi yang membahagiakan untuk mereka berdua. dan mereka berharap kebahagiaan itu akan segera di lengkap dengan kehadiran benih cinta di rahim Zaifa.
_____
Maaf guys, update satu bab hari ini ya. Sebab jaringan agak Lola hari ini. terima kasih, jangan luka like 🙏
__ADS_1