
Shila berangkat ke kantor dengan keadaan lesu. Ia masih memikirkan cara agar bisa mendekatkan Rama dengan Patricia. Jelas saja Shila di Landa kebingungan sebab Rama bukan lah bos nya meskipun Rama salah satu pemegang saham di kantor Niel.
"aduh, gimana ya ini?" gumam Shila.
Sangking asyik nya memikirkan bagaimana menjodohkan Rama dan Patricia akhirnya Shila menabrak seseorang yang membuat dirinya terkejut.
"aduh, maaf" cicit Shila.
"Shila! kenapa kamu jalan sambil ngelamun?" tanya orang itu.
Shila mendongak dan melihat bahwa ternyata yang ia tabrak adalah sang bos.
"eh, pak bos Niel" ucap Shila nyengir.
Niel mengangkat satu alis nya heran. ada apa dengan sekretaris nya di pagi ini. Niel kemudian menggeleng tak peduli dan menerus kan langkah nya namun Shila menahan nya.
"pak bos tunggu!" seru Shila kemudian berjalan cepat menghampiri Niel.
"ada apa?"
"saya boleh minta tolong"
"apa?"
"tapi kita bicara di ruang bapak aja deh, ini penting banget."
"dih?"
"really really urgent sir" ucap Shila dengan bahasa inggris namun pelafalan nya medok.
Niel mencebik namun ia berjalan dan di ikuti oleh Shila di belakang nya.
***
Setelah melewati hari-hari dengan aktivitas yang positif. Santi akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan kesibukan dan rutinitas baru nya yaitu menggambar desain-desain pesanan klien mama Niken. Santi juga sudah mendaftar sebagai mahasiswi jurusan designer di kampus yang ada di kota itu. hal itu sangat di dukung oleh mama Niken dan Rafli sebagai kekasih nya.
Ya, setelah acara tiga bulanan kehamilan Zaifa. Rafli memberanikan diri mengungkapkan perasaan nya. Meskipun Santi sempat ragu sebab Rafli pernah mencintai Zaifa tapi Rafli berhasil meyakinkan gadis itu bahwa sekarang hanya Santi lah satu-satunya gadis yang di cintai oleh Rafli.
mereka bahkan berencana melakukan pertunangan setelah acara pernikahan Dani dan Fatma selesai di laksanakan.
__ADS_1
Saat ini, di sore hari Santi dan Rafli berjalan-jalan sore menikmati keindahan kota metropolitan yang jalanan nya ramai pengendara. Mereka sengaja berjalan kaki sebab ingin merasakan angin sore. Mereka berhenti di sebuah rumah makan Padang untuk mengisi perut mereka yang sejak siang belum di isi.
"pak pesan nasi padang nya dua ya. Makan disini" ucap Rafli pada bapak-bapak penjual.
"iya mas, silahkan duduk dulu" jawab bapak itu.
Santi mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah makan sederhana yang lumayan rame itu. Meskipun tempat nya tak sesejuk restoran dan tak seindah cafe modern tapi pengunjung di rumah makan itu lumayan banyak.
Santi menatap ke arah belakang di mana bapak penjual tadi sedang menyiapkan pesanan para pelanggan termasuk pesanan nya dan Rafli. Mata Santi memicing ketika ia melihat punggung seorang wanita yang sedang mencuci piring bekas pembeli.
punggung itu tak asing, tatanan rambut yang di sanggul asal membuat Santi tiba-tiba teringat sesosok ibu nya. kebiasaan ibu nya di desa selalu menyanggul asal rambut nya ketika hendak mencuci piring atau baju, dan ketika hendak melakukan apapun.
tapi, Santi menggeleng. Tidak mungkin bukan jika ibu nya ada disini. Sedang mencuci piring lagi, sudah pasti itu adalah istri dari bapak penjual tadi.
"ada apa yang?" tanya Rafli.
Rafli ikut memandang ke arah perempuan yang masih dengan aktivitas nya mencuci piring yang menumpuk itu. Rafli meraih jemari Santi, Rafli berpikir jika saat ini Santi sedang merindukan sang ibu yang ada di desa.
"kau rindu ibu?" tanya Rafli lembut.
Santi mengalihkan pandangan nya dan menatap Rafli. Ia menatap sendu kekasih yang baru beberapa Minggu ini resmi menjadi kekasih nya. Santi pun mengangguk, bohong jika ia tak rindu dengan keluarga nya terlepas apa yang telah melakukan pada Santi.
"kau mau mengunjungi mereka?" tanya Rafli.
"kita izin dulu dengan nyonya Niken"
Santi tersenyum dan mengangguk. mereka melepas tautan tangan mereka ketika bapak itu mengantarkan pesanan mereka. Dan ketika bapak itu berbalik, ibu pencuci piring itu pun sedang berdiri dan hendak meletakkan piring ke rak yang di sediakan. Santi tak sempat melihat wajah nya sebab ketika Santi menoleh ibu itu sudah menunduk karena meletakkan piring di rak paling bawah.
Santi dan Rafli pun memakan nasi Padang itu dengan senang. Sebab rasanya sangat nikmat dan persis seperti makanan desa. pantas saja rumah makan ini ramai pengunjung karena makanan yang di jual enak dan menggugah selera. Santi jadi ingin membungkus satu untuk di makan nanti malam ketika ia sudah di kostan.
***
"kau meminta nomor Rama? Untuk apa?" tanya Niel.
Shila terdiam, mau tak mau ia harus menjawab dengan jujur. atau jika tidak bos nya ini akan menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak.
"sebenernya...."
"kau menyukai Rama?" tebak Niel.
__ADS_1
"tidak pak, bukan saya"
"lalu?"
"sebenernya kemarin malam saya bertemu dengan nona Patricia, putri dari pak Hadi klien kita yang kemarin"
"heeem"
"lalu, tadi malam kami bertemu di sebuah cafe dan nona Patricia meminta saya untuk menjodohkan dirinya dengan tuan Rama." jelas Shila jujur.
Shila mendongak menatap Niel, gadis berkaca mata itu menunggu tanggapan dari Niel.
Satu detik
Dua detik
sampai lima belas detik Shila menghitung tapi Niel tetap diam. ia ingin memanggil namun takut di marahi. Sebenarnya apa yang sedang di pikir kan oleh bos nya ini. Shila mencoba memberanikan diri untuk mendekat dan bermaksiat menyadarkan Niel namun sebelum itu tiba-tiba Niel tertawa dengan sangat keras hingga membuat Shila terlonjak kaget.
"haha haha haha" tawa Niel dengan keras.
Shila mengernyit heran, apa yang salah? Kenapa tiba-tiba bos nya tertawa begitu keras. Membuat Shila bergidik.
"kau serius Shil?" tanya Niel masih dengan di selimuti tawa.
"se-serius bos" jawab Shila.
"haha haha,,, akhirnya jomblo akut itu ada yang melirik juga"
Niel mengusap ujung mata nya yang berair. Ini merupakan kejutan yang mampu menghilangkan rasa lelah nya. Sudah seharian ia menahan rasa penasaran tentang hal penting apa yang akan di sampaikan oleh sekretaris nya. sebab tadi pagi tiba-tiba ia mendapat telepon dari sang mama untuk mengawasi restoran karena mama Niken sedang menemani putri nya yang tengah ngidam minta di buat kan roti panggang.
Dan akhirnya sore ini ia mendengar hal penting itu dan siapa yang menduga bahwa hal penting itu justru menjadi hiburan untuk Niel.
"mana nomor gadis itu?" tanya Niel setelah berhenti tertawa.
"gadis siapa pak?"
"tentu saja gadis yang menyukai Rama siapa lagi" ketus Niel.
"oh, nona Patricia?"
__ADS_1
"Hem"
Shila merogoh ponsel nya dan mencari kontak Patricia setelah ketemu ia memberikan ponsel kepada Niel. Niel pun menyalin nomor itu dan menyimpan nya. Ia memandang kontak yang ia beri nama 'masa depan rama' dengan senyum misterius.