
Cerita baru othor jangan ketinggalan ya gaes, berikan like nya biar othor tambah semangat.
***
Rombongan penyambut yang terdiri dari orang tua Raihan, Santi, Dani dan istri, serta Boby dan keluarga kecil nya tengah menata makanan di meja di makan sementara bik Surti dan beberapa pelayan lain membersihkan tempat untuk mereka duduk nanti, menggelar tikar dan menyiapkan jajanan.
Mereka bersiap menyambut Zaifa dan baby girl ketika tuan Bram mendapat pesan jika mobil Raihan sudah di perjalanan.
"duhh,,, ngga sabar pengen ketemu non Zaifa. Udah lama bibik ngga ketemu" ucap bik Surti menatap ke arah gerbang.
"bibik ngga jenguk pas Zaifa di rumah sakit?" tanya Boby.
"enggak den, kata nyonya besar saya harus jaga rumah. karena kan tuan muda Niel sama nyonya besar ngga pulang selama seminggu ini"
Tuan Bram dan nyonya Adrin meringis mendengar itu, mereka menerima kabar mengenai kelahiran cucunya tepat ketika mereka baru saja tiba di negri sebrang untuk berlibur. memang seharusnya mereka pulang tapi mereka memutuskan untuk melanjutkan liburan. Padahal saat itu Raihan sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekat ketika Zaifa tengah mengalami kritis.
sebuah mobil berwarna hitam memasuki gerbang, bik Surti dan yang lain sudah bersiap menyambut. pintu mobil terbuka dan keluar lah mama Niken yang menggendong bayi, kemudian Rafli yang lantas membuka bagasi dan mengambil kursi roda. Rafli membuka pintu tengah dan Raihan pun keluar dengan memapah Zaifa.
Santi dengan sigap mengambil alih tas besar yang di bawa oleh Rafli. Rafli tersenyum hangat menanggapi perhatian Santi. Mereka pun masuk bersama dan yang pertama di hampiri oleh Raihan adalah bik Surti.
"ya Allah non,,, Alhamdulillah akhirnya non pulang ke rumah. Bibik kesepian tau di rumah sendirian. Bibik pengen kesana tapi ngga ada yang nganter."
Zaifa terkekeh mendengar ocehan bik Surti yang ia rindukan itu. Kursi roda di ambil alih oleh bik Surti lalu mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Raihan masuk belakangan dan bersamaan dengan orang tua nya.
"selamat Rai..." ucap tuan Bram.
"kamu udah jadi papa sekarang" sahut nyonya Adrin.
Raihan tersenyum miring, ia ingat seminggu yang lalu ketika ia menangis meratapi keadaan Zaifa orang tua nya tak hadir dan justru berlibur ke negara tetangga untuk berlibur.
"kenapa harus datang? Istri ku sudah baik-baik saja sekarang. mama ku juga tak keberatan merawat anak ku" ucap Raihan dengan sadis kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"ya Ampun, cantik banget sih baby girl nya lihat pipi nya tembem banget" seru Santi yang memang belum mengunjungi Zaifa di rumah sakit.
"yuk kenalan dulu sama kakak Azril, siapa tau kalian cocok" seru Diva heboh.
"ada-ada aja kamu Div. Mereka masih sama-sama bayi" sahut Fatma.
Diva terkekeh, ia memang sedikit konyol tapi sungguh wajah cantik dari putri sahabat nya itu membuat ia ingin menjodohkan dengan putra nya yang baru berusia satu bulan lebih.
"aku ngga rela aja kalo bayi cantik ini nanti di miliki sama cowok lain"
Mereka semua terkekeh mendengar ucapan Diva. Bahkan Boby mengacak rambut sang istri dengan gemas. Zaifa menatap bahagia ke arah mereka semua yang dengan antusias menyambut putri kecil nya.
"kau bahagia sayang?" bisik Raihan.
"iya mas, sangat bahagia. Aku ngga nyangka kalo bakal segitu bahagia nya disaat putri ku di sambut hangat oleh mereka"
Raihan mengecup pucuk rambut Zaifa yang terbungkus dengan jilbab instan itu. Tak lama mama Niken datang dengan membawa sepiring buah-buahan.
"makan dulu sayang, kau belum sarapan tadi"
"dia cantik ya mas, sama seperti Raihan dulu" ucap nyonya Adrin.
Tuan Bram mengangguk membenarkan, ia ingin menggendong sang cucu tapi ia berani sebab ia takut Raihan bertambah marah dengan nya. Ia hanya bisa menatap sang cucu yang menggeliat lucu ketika pipi nya di jawil oleh orang-orang.
"tuan Bram, anda tak ingin menggendong cucu anda?" tanya mama Niken duduk di sofa samping tuan Bram.
"a-apakah boleh?"
"tentu saja boleh, bukan begitu sayang?" tanya mama Niken menatap Zaifa.
Zaifa yang memang duduk di sofa tak jauh dari situ pun beralih memandang Raihan. Sedang Raihan hanya menatap Zaifa balik dengan tatapan yang teduh seolah memperbolehkan Zaifa menjawab. Akhirnya Zaifa pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Mama Niken yang melihat itu pun segera mengambil alih sang cucu dari orang-orang yang ingin bergantian menggendong nya.
"kalian makan-makan dulu deh, dedek manis mau ***** dulu sama mama. Dedek juga mau di gendong sama opa Bram" ucap mama Niken.
Mereka pun beralih mengobrol ke sudut ruangan sembari di temani oleh camilan yang sudah di siap kan tadi. Sementara mama Niken membawa cucu kecil nya dan memberikan nya kepada tuan Bram.
"cucu opa cantik sekali" ucap tuan Bram memperhatikan setiap sudut wajah sang cucu yang begitu mirip dengan Raihan kecil.
"dia sangat mirip dengan papa nya, mama nya hanya kebagian bentuk mata nya saja. dan tahi lalat nya persis dengan sang mama"
"iya, dia sangat mirip dengan Raihan"
Mereka larut dalam kebahagiaan menyambut bayi kecil yang bahkan penglihatan belum jelas. tapi, itu adalah kebahagiaan mereka semua. Karena rasa sayang dalam persaudaraan dan hubungan yang erat.
***
"jadi dia sudah memiliki seorang putri? Hhe hhee...." ucap seorang pria memegang foto seorang wanita yang duduk di kursi roda. sedang bayi nya di gendong oleh sang Oma. Sementara suami dari suami wanita itu mendorong kursi roda itu.
"selamat Zaifa... Selamat... akhirnya keinginan mu menjadi seorang ibu terkabul. Maafkan aku yang menolak kehadiran seorang anak dalam pernikahan kita"
Pria itu menatap berkaca-kaca foto di tangan nya. Ia tertawa kemudian tersenyum sinis dan tak lama ia akan tertawa lagi, tertawa dengan sangat keras tapi air mata menetes dari sudut mata nya.
"aku masih sangat mencintai mu....." lirih nya kemudian menangis seperti seseorang yang baru saja merasakan patah hati.
Sementara seseorang yang di tangisi nya sekarang sedang menikmati waktu malam di balkon kamar nya. Di hadapan nya ada Raihan yang memegang nampan berisi segelas susu kedelai dan sepiring buah-buahan.
Untuk bayi perempuan mereka, mereka tak perlu khawatir karena bayi merah itu sudah di urus oleh sang paman, para opa, Oma nya.
"kau terlihat sangat bahagia sayang" ucap Raihan.
Zaifa yang sedang mengunyah melon pun mendongak, menatap Raihan yang berdiri bersandar pada pagar balkon.
__ADS_1
"tentu saja aku bahagia, dari dulu aku sudah menginginkan menjadi seorang ibu. aku sempat khawatir sulit memiliki anak sebab rahim ku pernah di vonis hampir kering. tapi aku beruntung setahun lebih dua bulan kita menikah Kita sudah memiliki seorang bayi perempuan yang sangat cantik"
Zaifa memeluk perut Raihan, sementara Raihan membalas pelukan itu dengan mengelus lembut rambut Zaifa yang malam ini di biarkan terlihat. Berulang kali Raihan mengecup pucuk rambut Zaifa sebagai ucapan bangga dan terima kasih untuk sang istri.