SETELAH DI CERAI

SETELAH DI CERAI
bab 46


__ADS_3

Tok tok tok


Pintu kamar Santi di ketuk dari luar, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tepat jam ini akan di laksanakan nya ijab qobul, oleh sebab itu ibu Santi mengetuk kamar Santi untuk memanggil keluar. Namun, beberapa kali mengetuk tidak ada sahutan dan pintu tetap tertutup.


Bu Dewi, ibunda Santi merasa was-was, takut jika Santi memilih kabur padahal acara sudah di gelar. Namun, mencoba berfikir positif mungkin Santi masih marah dan enggan keluar. Oleh sebab itu, Bu Dewi mencoba mengetuk kembali dan mencoba membuka handle pintu. Ternyata tak di kunci.


Bu Dewi bernafas lega kala melihat di atas ranjang Santi tengah tertidur. Tapi, bukan kah kata perias Santi sudah di rias dan sudah bersiap sejak Maghrib tadi. Jika di bawa tidur riasannya pasti akan rusak. Bu Dewi pun dengan geram langsung menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Santi.


Bu Dewi membekap mulut nya kaget. yang ada di balik selimut bukan lah Santi. Melainkan bantal dan bantal guling yang di susun agar terlihat seperti orang yang tidur. pantas saja di tutup selimut sepenuhnya, sebab Santi tak pernah melakukan itu.


Bu Dewi memeriksa jendela, kunci nya seperti di bobol dan berarti mungkin saja ada yang membantu Santi kabur.


"gawat.... Ini gawat.. piye Iki (gimana ini)"


Bu Dewi mondar-mandir di dalam kamar Santi dengan perasaan campur aduk. Ada marah, sedih, dan juga lega. bagaimana pun Bu Dewi sedikit tidak rela jika putri nya harus menikah dengan juragan tua. Meskipun kaya tapi sebagai seorang ibu ia tak rela melihat anak nya menjadi istri nomer tiga.


Karena Bu Dewi yang terlalu lama di dalam kamar, mengundang kegeraman pak Bala di ruang depan. Bagaimana pun pria tua itu sudah tak sabar ingin mencicipi daun muda seperti Santi. Meskipun Santi miskin tapi setidaknya pak Bala yakin bahwa Santi masih pera*an.


"kemana istri mu wok?!" tanya pak Bala.


Pertanyaan pak Bala membuat orang yang menyaksikan ikut bertanya-tanya.


"alah paleng Yo kabur. Santi Lo ayu, Yo Ndak mungkin gelem Karo wong sing wes tuo" suara bisik-bisik terdengar.


(alah paling juga kabur, Santi itu cantik ya ngga mungkin mau sama orang tua)


Mendengar bisikan itu membuat pak bewok geram. wajah pak Bala pun sudah memerah menahan amarah. Sementara dua wanita yang ada di sebelah kiri pak Bala saling lirik kemudian sama-sama tersenyum sinis.


Pak bewok segera berdiri dan menuju kamar putri nya. disana ia mendapati sang istri yang sedang mondar-mandir tak jelas sembari menggigit kuku tangan nya.


"ada apa buk? Kenapa lama sekali?" tanya pak bewok tak sabar.

__ADS_1


"gawat pak gawat..." ucap Bu Dewi resah.


"gawat gawat ngopo (kenapa) buk?"


"Santi Ndak ada pak. Ndak ada."


"opo (apa) maksud mu Bu?" seru pak bewok.


"tadi ibu tinggal Santi sebentar karena ibu mau buang air besar. pas ibu kembali eh Santi wes ngga Ono (sudah ngga ada) pak. Piye Iki pak, piye"


Pak bewok menelisik kamar Santi dan melihat jendela yang sudah di bobol. Gigi nya gemeletuk kemudian tanpa sepatah kata pun ia pergi meninggalkan istrinya.


Pak bewok melalui jalan belakang pergi dari rumah nya, membiarkan orang-orang bertanya-tanya. Dengan berjalan kaki pak bewok menuju rumah yang sudah gedong tapi belum terlalu bagus.


"Rafli!!!!" seru pak bewok menggedor pintu rumah dengan keras.


"Rafli buka pintu nya. Opo njalok (apa mau) tak dobrak!!!!"


"Ono opo mas? (ada apa mas)" tanya ayah dari Rafli.


"dimana anak mu Man? Hah?" tanya pak bewok kasar.


"Rafli?"


"Iyo, siapa lagi anak mu kalo bukan Rafli" teriak pak bewok.


"Rafli Ndak ada di rumah mas sejak pagi dia pamitan pergi" jawab ibu dari Rafli.


Dada pak bewok terlihat naik turun karena emosi. Harapan memiliki bank berjalan dengan menjual sang anak pupus sudah karena Santi kabur. Ia hanya akan mendapat malu dan amukan pak Bala setelah ini.


pak bewok langsung berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Sama sekali tak sopan untuk adab bertamu.

__ADS_1


Orang tua Rafli hanya menggeleng kan kepala. akan sangat wajar jika Santi kabur sebab sudah tentu gadis cantik itu tak mau menikah dengan orang tua.


"aneh-aneh aja tetangga kita itu Bu" ucap Ayah dari Rafli.


"biarkan aja pak" jawab istrinya menenangkan.


Mereka pun kemudian menutup pintu dan masuk kembali ke dalam rumah.


***


"siapa kalian???" tanya Rafli geram kepada dua orang di depannya yang sedang menatap jalan.


Meskipun akan tak ada jawaban, tapi Rafli tak berhenti menanyakan siapa mereka. Rafli menatap ke arah gadis di sebelah nya. Gadis cantik yang memakai gaun pengantin itu seperti tengah pingsan.


ia menatap kembali ke arah pria yang sedang menyupir dan temannya itu. Apakah mungkin suruhan Zaifa, pasti bukan.


Rafli mencoba tenang kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia mengingat-ingat kejadian Maghrib tadi.


Setelah melihat dua orang mencurigakan Rafli mencoba mengikuti keduanya. Pikiran Rafli semakin jelek sebab dia pria itu menuju ke jendela kamar Sinta. Dua pria itu terlihat menengok kesana kemari dan setelah tak mendapati siapa pun mereka membobol jendela kamar Santi. Rafli akan berteriak namun tidak jadi. Sebab tiba-tiba Rafli berpikir mungkin saja ini adalah bantuan.


Meskipun Rafli belum bisa memutuskan apa ia mencintai Santi atau tidak. Tapi ia tak rela jika melihat Santi menikah dengan pria tua seperti pak Bala. Rafli melihat kedua pria itu sudah masuk ke dalam kamar Santi. Entah apa yang di lakukan hingga kemudian satu pria keluar dan terlihat tubuh Santi yang pingsan ia tangkap setelah pria dari dalam mengulurkan kepadanya.


Rafli membekap mulut nya kemudian berjalan mengendap-endap mengikuti dua pria yang membawa Santi. Hingga mereka sampai di ujung jalan tempat dimana mobil mereka di parkir. Kondisi Maghrib yang sepi membuat aksi mereka lancar. Sebab jalanan di desa masih lah sepi tak seramai di kota.


"berhenti!!" seru Rafli.


Dua pria yang baru saja memasukkan tubuh Santi dalam mobil berbalik. Mereka melihat Rafli dari atas sampai bawah kemudian berkata. "ikut lah jika ingin bersama gadis itu"


dan sekarang disini lah dia, mengikuti kata hati sebab tak ingin terjadi sesuatu dengan Santi.


Sementara di rumah Santi, pak Bala mengamuk ketika mendengar Santi kabur dari pernikahan. ia merasa malu dan rugi sebab acara di rumah Santi menggunakan uang milik nya.

__ADS_1


__ADS_2