
Gadis itu kini mengerutkan dahinya, terdiam untuk sesaat di dalam pikirannya yang rumit. Kemudian, ia pun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah sang dokter dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.
“Kamu!... ” Ia mendekat, mengangkat kedua tangannya dan menyentuh wajah dokter muda itu secara tiba-tiba.
“Kamu apakah benar-bebar bisa melihat saya?!!... ma.. maksudnya melihat saya secara fisik!! secara nyata!! bukan dengan mata batin!! ” Ucapnya, yang membuat sang dokter kini menaikan salah satu alisnya dengan bingung.
Sama sekali tidak mengerti dengan apa yang gadis itu bicarakan.
“Tunggu, kamu tenang dulu ya!... ” ia melepaskan tangan gadis itu dari wajahnya, kemudian menggiring nya untuk duduk di sebuah kursi panjang rumah sakit. “.... sepertinya cedera pada kepala kamu memang cukup parah, sampai ngomongnya melantur begitu!” Ucap dokter itu, berusaha untuk menenangkan sang gadis yang kini tampak gelisah dan bingung.
Namun Kata-katanya itu justru mendapatkan reaksi aneh dari si gadis. Bukannya menjadi tentang, ia kini justru malah semakin emosi. “Saya tanya, apa kamu bisa melihat saya?!!!.... kamu mengerti ucapan saya kan?!!... jadi tolong jawab!!! ” Ucapnya, yang bertanya dengan nada dan suara tinggi.
Membuat perhatian semua orang kini kembali tertuju kepada mereka.
Menyadari hal itu, sang dokter pun segera mengangkat salah satu jari telunjuknya dan menempelkannya di bibir. Hal itu ia lakukan untuk membuat sang gadis diam agar tidak memancing keributan, apalagi ini adalah rumah sakit!.... banyak pasien yang sedang beristirahat, tidak baik jika sampai mereka merasa terganggu.
“Iya saya bisa lihat kamu!!.... ” Dokter itu pada akhir menjawab pertanyaan gadis tadi dengan sedikit berbisik. Kemudian, ia meraih tangan gadis itu agar duduk di dekatnya. “... Kenapa kamu menanyakan hal yang aneh?... sudah jelas saya bisa melihat kamu, itu karena saya tidak buta!... memangnya kamu hantu, samapai saya harus menggunakan mata batin untuk melihat?!” Ucapnya dengan panjang lebar.
Berusaha untuk memberikan jawaban yang tepat agar gadis itu puas dan tidak berisik lagi.
Setelah terdiam beberapa lama untuk mengamati perubahan emosi sang pasien, dokter itupun kini menghela nafasnya dengan berat. Kemudian, ia berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada gadis itu. “Ayo! luka kamu sepertinya memang harus segera di tangani dengan serius!!.... saya akan menghubungi guru kamu, dia sekarang pasti sedang panik karena kamu sempat hilang tadi. ” Ucapnya, dengan begitu lembut.
Membuat Shera merasa bahwa dia adalah orang baik yang tidak perlu untuk di waspadai.
“Saya.... Saya akan ikut kamu! ” walaupun ragu-ragu, gadis itu pun ada akhirnya menerima uluran tangannya, membuat sang dokter tersenyum tipis karena ucapannya di patuhi dengan muda. “Tapi bisakah setelah itu kita berbicara?.... saya ingin menanyakan beberapa hal kepada anda, itupun jika anda tidak keberatan. ” Ucap gadis itu lagi, dengan nada bicara yang terkesan lebih tenang dan sopan dari sebelumnya.
Mendengar hal itu, sang dokter pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia tersenyum sembari berkata. “Baiklah, kebetulan saya juga ingin menanyakan beberapa hal!.... kita akan berbicara lagi setelah lukamu selesai di obati! ” Ucapnya, kemudian menggandeng tangan gadis itu untuk berjalan mengikutinya.
__ADS_1
...»»————>✥<————««...
Perban putih kini melilit kepala gadis itu, aroma dari antiseptik pun kini dapat tercium di seluruh ruangan. Walaupun luka di kepalanya mendapatkan beberapa jahitan, gadis itu sama sekali tidak mengeluh.
Bahkan ia tidak merubah ekspresi wajahnya sedikitpun, membuat sang dokter merasa kalau dirinya kini sedang mengobati mayat ketimbang seorang gadis yang hidup.
Namun setelah di lihat-lihat, rupanya gadis itu cukup cantik juga!.... pada awalnya sang dokter tidak menyadarinya karena seluruh wajah dan kepala gadis itu tertutupi oleh darah. Namun setelah di bersihkan, ia pun sempat tertegun untuk sesaat.
Kulit wajahnya begitu putih dan halus, dokter itu bisa merasakannya dengan jelas di saat ia sedang mengobati luka gadis itu tadi.
“Nah, apa sekarang kamu sudah merasa baikan?..... tampaknya saya tidak perlu melakukan operasi! ” Ucapnya dengan lembut.
Dan tanpa sadar tangannya pun sedari tadi menggenggam tangan gadis itu, hingga seseorang datang dan masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Maya!! kemana kamu tadi?.... gara-gara kamu bapak jadi panik sampai lari-larian kesana kesini, kayak orang gila tau gak?!! ” Ucap guru itu dengan sedikit berteriak karena rasa kesal bercampur panik.
Membuat guru tadi semakin geram dan merasa gatal untuk memberi hukuman kepada murid kurang ajarnya itu. “Masih berani tanya bapak bicara dengan siapa?!!.... jelas-jelas bapak ini sedang berbicara sama kamu!!” Ucapnya, masih dengan nada kesal. “Dengar ya Maya, kamu kalau lagi sakit jangan keluyuran sembarangan!!.... kan bapak jadi gak enak sama dokternya!! ” Ucapnya lagi, yang memberikan sebuah teguran.
Namun hal itu tampaknya tidak di hiraukan oleh sang murid, gadis itu kini bahkan memalingkan wajahnya dan tanpa rasa sungkan ia pun berkata. “Kamu orang yang sangat tidak sopan!.... bahkan kamu meninggikan suara di saat berbicara dengan seorang wanita.” Ucapnya dengan dingin, dan masih menggunakan logat bicara yang terkesan aneh.
Mendengar hal itu, sang guru pun semakin di buat kesal. Namun saat ia akan kembali memarahi Shera, sang dokter pun dengan segera mengangkat tangannya dan menyuruh guru itu untuk tetap diam dan tenang.
“Jadi benar, nama kamu itu Maya?” Tokter itu bertanya dengan lembut sembari masih menggenggam tangan gadis itu.
“Maya, Maya, Maya!!!.... Siapa Maya?!! nama saya Shera bukan Maya!!!” Gadis itu kini mulai terlihat kesal, kemudian menatap dokter dan guru itu dengan tajam secara bergantian. “Kenapa sedari tadi kalian memanggil-manggil saya Maya?!.... sungguh menjengkelkan rasanya jika seseorang memanggil mu dengan nama asing yang bukan namamu sendiri!!!” Ucapnya lagi, dengan nada kesal dan ekspresi tak suka di wajahnya.
Mendengar hal itu, sang dokter pun kini melirik bet nama yang ada di seragam gadis itu. “Di situ jelas tertulis nama Maya, tapi kenapa anak ini berkata bahwa namanya adalah Shera dan bukan Maya?! ” Ia bergumam dalam hati, kemudian secara tidak sengaja pandangannya pun melihat ke arah lain.
__ADS_1
Arah yang seharusnya tidak boleh di lihat!!....
“Ah! sial!!... lihat apa mataku tadi?!! ” dokter itu segera memalingkan wajahnya, diam-diam mengumpat diri sendiri dalam hati.
Namun setelah beberapa saat, ia pun menyadari satu hal. Sebenarnya ia masih ragu, namun tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?....
“Jadi nama kamu Shera, bukan Maya? ” Dokter itu bertanya dengan serius.
Dan di jawab dengan serius pula oleh gadis itu. “Iya, nama saya Shera!! ” Ucapnya, dengan tegas.
Kemudian, sang dokter pun melirik ke arah guru tadi dengan tatapan penuh arti. Setelah beberapa saat terdiam dan berbicara melalui pikiran, pada akhirnya mereka pun menganggukkan kepalanya seperti sedang menyepakati suatu hal.
“Shera!... ” Dokter itu kini memanggil namanya dengan lembut, membuat gadis itu menolehkan kepalanya dan menatapnya dengan diam. “... kamu kenal dia siapa? ” Tanyanya, sembari menunjuk guru tadi.
Mendengar hal itu, Shera pun menganggukkan kepalanya, dan menjawab dengan yakin. “Dia kepala sekolah! ” Ucapnya.
Kemudian dokter itu kembali berkat “Kalau boleh saya tau, alamat rumah kamu di mana? ” tanyanya lagi.
Namun pertanyaan yang begitu sederhana itu kini malah membuat sang gadis terdiam dalam keheningan dengan wajah bingung serta kerutan mendalam di dahinya. “Saya... Saya tidak ingat! ” Jawabnya dengan wajah sedih.
Melihat hal itu, salah satu tangan sang dokter pun terangkat dan menyentuh pipi Shera dengan lembut sembari berkata. “Tidak apa apa, tidak masalah! ” ia mencoba menenangkan nya, kemudian kembali berkata. “Shera, apa kamu ingat nama saya? ” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Shera pun mengangguk, kemudian dengan ragu-ragu ia menjawab. “Dokter Abian?... ”
“Panggil saja Bian, biar lebih santai! ”
“Dokter Bian?!...”
__ADS_1