
Tadinya, gadis itu ibarat seekor burung kecil yang lupa akan sarangnya, terbang ke sana kemari dengan penuh gelisah dan kebingungan. Namun setelah beberapa saat, ekspresi wajahnya itu pun kini berubah, sama sekali tidak ada raut gelisah, kepanikan dalam dirinya pun tiba-tiba hilang entah kemana.
Ketimbang seekor burung kecil yang tersesat, gadis itu kini lebih mirip seperti kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompong nya.
Memperkenalkan dirinya kepada dunia dengan wujud baru yang tampak indah dan cantik.
Dalam hati, Shera sama sekali tidak merasa bersalah karena telah mengambil tubuh orang lain dan mengaku-ngaku kalau itu adalah miliknya sendiri. Bahkan ia sama sekali tidak memikirkannya, gadis itu lebih memilih untuk merayakan kelahirannya kembali.
Apakah dia tidak punya hati?
Mengapa ia tidak merasa bersalah?!...
Tentu saja karena itu memang bukan salahnya!!.... ia bahkan tidak tau mengapa dirinya bisa sampai berakhir di dalam tubuh gadis ini.
“Hahaha!!...Mengagumkan, sungguh mengagumkan!! ” Ia bergumam, menyentuh wajah barunya itu dengan penuh rasa gembira sembari tertawa kecil.
Apabila ia telah hidup kembali, itu artinya kini ia dapat melakukan segala hal yang ia mau!!.... Shera juga tidak perlu lagi merasa iri dengan orang-orang, karena kini dia akan mewujudkan semua keinginannya yang selama ini ia pendam.
“Tidak apa-apa, Shera!...kesempatan berharga ini datang untuk kau nikmati, jadi berbahagialah!!...setelah ini lakukan apapun yang kau mau!! ” ia bergumam kepada dirinya sendiri di dalam hati.
Berfikir bahwa dirinya memang pantas untuk mendapatkan semua ini setelah melalui penderitaan yang cukup lama.
Di sisi lain, Dokter Bian yang melihatnya sedari tadi pun kini mengerutkan dahinya. Otaknya benar-bebar tidak bisa menebak isi pikiran gadis itu!.... kenapa emosinya selalu berubah-ubah?.... untuk sesaat ia akan tampak tenang, kemudian tiba-tiba ia menjadi marah, sedih, dan gembira secara bergantian tanpa ada sebab yang jelas.
Menurutnya, gadis itu kini tidak hanya mengalami hilang ingatan. Melainkan menjadi gila karena luka berat akibat benturan keras di kepalanya!
__ADS_1
“Apakah dia membutuhkan psikiater?.... sungguh sangat di sayangkan jika gadis semanis ini menjalani hidup sebagai orang gila! ” Ucapnya, yang bergumam dalam hati.
Dokter itu bahkan menujukan ekpresi prihatin di wajahnya secara terang-terangan.
...»»————>✥<————««...
Di tempat lain, beberapa pasang mata kini nampak sedang memperhatikan sebuah adegan yang memperlihatkan sekelompok siswi putri sedang melakukan kekerasan terhadap seorang siswi lainnya melalui rekaman cctv sekolah.
Sebagian dari mereka kini mengepalkan tangannya, merasa begitu geram dengan perbuatan buruk yang para siswi-siswi itu lakukan. “Pak, anak-anak nakal ini harus segera di tangani!!” Ucap dari seorang satpam dengan emosi yang mengebu-ngebu.
“Sabar pak! sabar!!... kita lihat dulu sampai akhir, biar nanti tidak terjadi kesalah pahaman! ” Ujar dari seorang guru bk yang mencoba untuk menenangkan satpam tadi.
Namun ucapannya itu justru malah di sambut dengan sengit oleh sang satpam. “Salah paham bagaimana lagi, pak?!!.... jelas-jelas anak-anak itu sudah melakukan hal buruk!!.... mereka harus segera di beri sangsi berat atas tindakannya!! ” Ucapnya dengan suara yang meninggi.
Melihat hal itu, sang guru bk pun kini berusaha untuk tetap tenang dan sabar. “Iya Pak, iya!... saya tau, anak-anak itu pasti akan mendapatkan ganjarannya!.... ” Ia terdiam untuk sesaat, melirik ke arah layar yang memperlihatkan rekaman dari kamera cctv. “.... Tapi terlebih dahulu kita harus melihat ke___ loh, mereka lari ke mana itu?!!” Ucapnya, yang menggantung kata-katanya di tengah jalan dan berseru saat melihat siswi-siswi itu berlari menuju ke suatu arah.
Walaupun menjengkelkan, namun itu adalah hal yang wajar. Karena tidak mungkin bukan pihak sekolah akan menaruh kamera cctv di dalam kamar mandi putri?.... hal itu justru akan mengundang banyak masalah.
Alhasil, mereka pun kini mempercepat rekaman. Di mana saat ini terlihat siswi-siswi tadi keluar dari kamar mandi sembari tertawa dan pergi begitu saja dari tempat itu.
“Nah kan pak!!.... sekarang apa lagi yang mau bapak lihat?!!.... sudah jelas-jelas kalau mereka pelakunya kan!” Ucap satpam tadi, dengan masih menunjukan gejolak emosi yang timbul akibat rasa kesal yang menyelimuti dirinya.
Walaupun gadis bernama Maya itu bukan siapa-siapa nya, satpam itupun tetap merasa sakit hati dengan perbuatan mereka!!
Pasalnya, ia juga memiliki seorang putri yang seusia dengan gadis itu. Dan saat matanya melihat dengan jelas tindakan kekerasan yang gadis itu alami, instingnya sebagai seorang ayah pun meneriakkan kekesalan.
__ADS_1
Sedangkan guru bk yang melihat hal itupun kini tidak bisa lagi berbuat apa-apa, karena perbuatan siswi-siswi itu memang sudah sangat keterlaluan. “Baiklah, kalau begitu saya akan segera memanggil orang tua mereka ke sekolah!” Ucapnya, yang pada akhirnya membuat keputusan.
...»»————>✥<————««...
Kembali pada Shera, gadis itu kini terlihat sedang duduk di dalam ruangan sendirian. Dokter Bian dan guru tadi sudah meminta izin untuk keluar sebentar, dan sebagai gantinya sang dokter pun meminjamkan Shera alat stetoskop untuk di mainkan.
Padahal seharusnya itu tidak boleh, namun saat dokter Bian melihat sepasang mata yang menatap dirinya dengan penuh harap, hatinya pun menjadi luluh, dan pada akhirnya ia mengizinkan gadis itu untuk meminjamnya sebenar.
Tentunya saja dengan beberapa perjanjian yang tidak boleh di langgar, seperti merusak atau melempar benda itu sembarangan!
Dug!.... Dug!.... Dug!....
Suara dari detak jantung kini dapat terdengar di saat Shera meletakkan bagian bell stetoskop pada dadanya. Degupan yang begitu jelas terasa ini membuatnya tidak henti-henti tersenyum dengan lebar sembari memejamkan matanya guna menikmati sensasi itu.
Bagaikan alunan melodi musik, suara jantung itu pun dapat membuat dirinya merasa senang. Ternyata tidak sia-sia juga Shera memperlihatkan wajah memelasnya itu pada dokter tadi.
Dan setelah beberapa saat, pintu ruangan pun kembali terbuka. Memperlihatkan sosok dokter Bian dan guru tadi yang kini melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
“Maaf ya Shera, tadi kami keluar sebentar!.... kamu enggak kesepian kan? ” Ucap dokter Bian yang bertanya sembari tersenyum lembut.
Mendengar hal itu, Shera pun menggelengkan kepalanya. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata. “hem, tidak apa-apa!... tidak masalah! ” ia menjawab dengan singkat, lalu kembali bermain-main dengan alat itu tadi dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya.
Sedangkan sang guru yang melihat kelakuan muridnya itu pun kini hanya bisa menghela nafas, ia tak berani lagi menegur dan berbicara dengan Shera. Pasalnya, setiap kali ia membuka mulut gadis itu akan melirik nya dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Mungkin ketidak nyamanan Shera kepada guru itu timbul akibat sang guru terus-menerus memanggilnya dengan nama Maya dan bukan Shera.
__ADS_1
Walaupun ia telah mengakui bahwa tubuh ini adalah miliknya, namun gadis itu tetap tidak ingin di panggil dengan nama orang lain. Karena itu terasa seperti penghinaan terhadap dirinya.