Shera

Shera
Menggunakan tangan orang lain?


__ADS_3

Shera kini diam-diam memperhatikan pria yang berdiri di hadapannya itu. Sosok yang begitu rupawan dan namapk gagah dengan badan tinggi kekar yang berotot, apalagi dengan garis wajah yang sempurna itu membuatnya terlihat sangat tampan dan menawan.


Untuk sesaat Shera sempat terdiam dalam lamunannya, ini adalah pertemuan pertama mereka dan ia sama sekali tidak mengenalinya. Namun walaupun begitu, entah mengapa Shera sama sekali tidak menaruh rasa takut terhadapnya.


Sebenarnya ia juga tahu bahwa Arsenio bukanlah orang yang bersih dari dosa, tangan pria itu kotor dengan darah dan masalalunya sangat kelam dengan teriakan dan jeritan seseorang.


Hal itu jelas sangat mengerikan, seharusnya ia merasa waspada dan was-was terhadapnya. Namun sesuatu di dalam hatinya berkata bahwa suatu saat pria ini bisa melindunginya dari bahaya, ia bisa menjadi tameng pelindung dan benteng yang kokoh untuk dirinya bersembunyi.


Menghadapi hal itu Shera pun kini sedikit bimbang, firasatnya tidak pernah salah, namun pria ini jelas adalah seseorang yang berbahaya.


Di sisi lain, Arsenio yang melihat kalau gadis itu kini tengah melamun dan memikirkan sesuatu pun kini mengerutkan dahinya dengan heran, kemudian ia berdehem untuk menarik perhatiannya sebelum berkata. “Ekhem! Nona apakah kau ingin sesuatu?... Teh atau kopi hangat misalnya?” Tanyanya, yang membuat gadis itu kini tersadar dari lamunannya dan menatapnya dengan sedikit terkejut.


“Hah?! O...Oh! secangkir teh hangat, terimakasih!” Jawabnya, setelah benar-benar tersadar dari lamunan.


Mendengar hal itu Arsenio pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan, lalu ia menyiapkan dua cangkir yang berisi teh dan kopi hitam untuk dirinya dan gadis yang bersamanya saat ini.


Dan sembari menuangkan air panas pada kedua cangkir tersebut, pria itupun membuka mulutnya dan berkata. “Kamu terlihat sangat muda, berapa usiamu?” Tanyanya, yang hanya untuk basa-basi saja.


Sedangkan Shera yang baru saja mendudukkan dirinya di sebuah sofa pun kini sedikit berfikir, kemudian setelah beberapa saat ia pun berkata. “Enam belas, enam belas dan hampir tuju belas tahun!” Jawabnya.


Mendengar hal itu, untuk sekejap Arsenio pun sempat terdiam dan terkejut. Rupa-rupanya gadis ini masih di bawah umur dan belum bisa di sebut sebagai seorang wanita dewasa. “Yaampun, bagaimana bisa aku memiliki pemikiran mesum terhadap anak-anak sepertinya?!... Walaupun aku seorang bajingan namun aku tetap tahu aturan!!” Gumamnya, yang merutuki kebodohannya dalam hati.

__ADS_1


Namun setelah beberapa saat, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Kalau tidak salah gadis ini sedang di incar oleh seseorang, ia bahkan sampai tertabrak mobilnya lantaran berusaha kabur dari orang tersebut. “Oh yah, lalu bagaimana dengan Braxton?... bukankah kau bilang kalau pamanmu itu kini sedang mengincar mu?” Tanyanya, sambil melirik kebelakang untuk sekilas.


Mendengar pertanyaan itu, sebuah helahan nafas berat pun terdengar dari mulut gadis itu. Kemudian ia pun memalingkan wajahnya ke arah lain dan berkata dengan ekspresi kesal. “Aku berani berkata bahwa dia adalah bajingan yang tidak waras, ia bahkan menggoda dan secara terus terang memaksaku untuk tidur dengannya!!” Ucapnya dengan raut wajah kesal yang penuh amarah.


Sedangkan Arsenio yang telah selesai membuatkan secangkir teh untuk gadis itupun kini melangkahkan kakinya mendekat, kemudian ia meletakkan cangkir teh dan kopi miliknya di atas meja sebelum ia mendudukkan tubuhnya tepat di samping gadis itu.


“Mengapa tidak melawan? kau bisa memberitahu keluargamu yang lain!”


“Pfft! itu terdengar mudah, namun apakah mereka akan percaya?... saya tidak bisa menghabisinya dengan tangan saya sendiri, itu melanggar janji dan akan berdampak buruk pada diri saya sendiri.” Ucap Shera, yang menjawab pertanyaan dari Arsenio barusan.


Mendengar hal itu Arsenio pun terdiam untuk beberapa saat, lalu kemudian ia berkata. “Tapi, bukankah kau bisa meminjam tangan seseorang?... contohnya kau bisa menyewa pembunuh bayaran untuk mengatasinya dengan bersih dan rapih!” Ucapnya, yang membuat gadis itu kini menatap bingung kearahnya.


“Itu ide yang bagus, namun saya tidak tahu dimana saya bisa mendapatkan orang-orang seperti itu!” Ucap Shera, dengan masih memperlihatkan raut bingung pada wajah cantiknya.


Shera yang mendengar hal itupun kini terdiam untuk beberapa saat, dahinya kini mulai berkerut dan menunjukkan kesulitan. Jujur aja Shera masih merasa ragu, dirinya masih belum mengenal pria ini dengan sangat jelas.


Namun ketika ia melihat pancaran pada kedua mata tajam itu, Shera pun kini membuka mulutnya dan berkata. “Apakah anda bersungguh-sungguh?.... Mengapa anda begitu baik kepada saya sedangkan kita baru pertama kali ini bertemu?!” Tanyanya dengan bingung.


Mendengar pertanyaan itu, Arsenio pun kini sedikit terdiam. Sebenarnya ia juga merasa bingung dengan dirinya sendiri, mengapa ia sangat ingin menolong gadis ini?... mengapa ia begitu tidak rela melihat kesulitan yang gadis itu alami?


Dalam hati Arsenio tahu betul bahwa dirinya bukanlah seorang pahlawan yang menolong seseorang tanpa pamrih dengan kuda putih layaknya cerita dongeng. Dirinya adalah monster, kejam dan dingin bagaikan iblis. Namun begitu ia bertemu gadis ini, entah mengapa secara tidak sadar dirinya berusaha untuk bersikap sebaik mungkin.

__ADS_1


Seolah-olah hatinya tidak rela jika gadis ini mengenalnya sebagai pria yang mengerikan.


“Aku juga tidak tahu!” Arsenio kembali terdiam, namun dengan cepat ia kembali melanjutkan kata-katanya. “Mungkin ini adalah rasa belas kasih ku sebagai manusia!”


“Walaupun aku sendiri tidak begitu yakin tentang apa itu belas kasih**an! ” Lanjutnya dalam hati.


Dan selagi mereka larut dalam percakapan, tiba-tiba sebuah suara ketukan pintu pun terdengar dan mengalihkan perhatian mereka. Arsenio yang juga mendengarnya pun kini segera bangkit dari duduk, kemudian ia melangkahkan kakinya mendekat dan memutar gagang pintu itu untuk melihat siapakah orang yang tiba-tiba datang di antara percakapan mereka.


Cklek!!


“Tuan, dokter yang Anda minta telah tiba!... ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang sedang terjadi? apakah semuanya baik-baik saja?” Tanyanya, dengan sedikit perasaan khawatir.


Arsenio tidak langsung menjawab, pria itu terlebih dahulu menyuruh mereka masuk dan membawanya kepada Shera. “Aku ingin kau memeriksa anak itu, apakah dia benar-benar baik-baik saja!” Perintahnya kepada dokter yang datang bersama Finn tadi.


Mendengar hal itu, sang dokter pun kini hanya menganggukkan kepalanya dan segera melangkahkan kakinya untuk mendekati Shera. Di sisi lain, Finn yang juga melihat kehadiran Shera di antara mereka pun kini nampak mengerutkan dahinya dengan bingung.


Wajah gadis itu nampak sangat asing di matanya, ia yakin tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Namun, di saat ia melihat bahwa tuannya begitu perduli terhadap gadis yang entah siapa namanya itu, Finn pun secara tidak langsung dapat menyimpulkan hubungan di antara mereka.


Hanya saja ini masih sebatas asumsi yang tidak berdasar.


“Tuan, gadis ini...”

__ADS_1


“Aku tidak sengaja menabraknya, dan tadi dia seperti orang mati!” Ujarnya, yang membuat mulut Fin kini terbungkam untuk sesaat.


__ADS_2