
Saat gadis itu melangkahkan kakinya di ruang keluarga sebelum pergi menuju tangga untuk ke lantai atas, pandangannya pun lebih dahulu bertemu dengan seseorang yang melirik nya dengan tatapan sinis.
“Apa lagi ini? siapa wanita itu?” Gumamnya, yang bertanya dalam hati.
Kemudian, saat ia melihat warna rambutnya yang nampak unik. Shera pun segera menghentikan langkahnya, dan membuka mulutnya untuk bertanya langsung kepada wanita itu. “Anda siapa?.... dari penampilan anda, sepertinya anda bukan orang sini! ” Ucapnya.
Mendengar hal itu, sang wanita tadi pun kini tersenyum sinis. Kemudian ia memandang gadis itu dengan tatapan remeh sembari berkata. “Heh! sekarang kamu sudah banyak berubah ya?!... dasar anak autis!! ” Ucapnya, yang mencibir secara tiba-tiba dan tanpa sebab.
Shera yang mendengar hal itupun kini tak kuasa untuk menyembunyikan raut wajah heran. Padahal ia hanya menanyakan sesuatu yang sederhana kepada wanita itu, namun entah kenapa jawaban yang ia justru malah di luar dugaan.
Merasa tak terima, Shera pun kini memasang wajah datar. Tatapan mata gadis itupun kini berubah dingin selagi ia kembali membuka mulutnya dan berkata. “Sungguh tidak sopan, begitukah caramu berbicara kepada orang lain?!.... padahal kau terlihat begitu cantik, namun sayangnya kau tidak tau sopan santun!! ” Ucapnya, yang menegur wanita tadi dengan begitu tegas.
Kemudian, saat ia melihat wanita itu menatap marah ke arahnya. Shera pun segera memalingkan wajahnya dan melangkah sembari berkata. “Sudahlah, aku tidak ada waktu untuk berurusan dengan manusia sepertimu!... di makan pun tidak enak!!” Ucapnya dengan kesal, sembari terus menaiki tangga dengan raut wajah marah.
...»»————>✥<————««...
Di sisi lain, Ezra yang sedari tadi tengah tidur sembari mendengarkan lagu pun kini tiba-tiba terbangun di saat ia merasakan sebuah tatapan dingin dari seseorang.
__ADS_1
Kedua matanya yang tertutup itupun perlahan-lahan mulai terbuka, kemudian dengan dahi yang berkerut, ia pun melirik sekitarnya hingga pandangannya bertatapan langsung dengan sepasang mata lebar yang menatapnya dengan tajam.
“Ah, kamu siapa?... ” Tanya pemuda itu dengan suara serak serta kesadaran yang masih belum terisi penuh.
Dan Shera yang mendengarnya pun kini hanya menghela nafasnya dengan panjang kemudian menutup pintu kamarnya dengan kencang lalu berkata. “Saya tidak tau!!!.... kau pikirkan saja sendiri!!!....” Ucapnya dengan berteriak marah.
Kemudian, gadis itupun melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi sembari mengoceh-ngoceh tidak jelas. “Hah!! demi apa?!!.... kenapa hari ini begitu banyak orang-orang aneh di dalam rumah?!!.... aku baru saja pulang setelah lelah berjalan di bawah terik sinar matahari, kemudian saat berada di luar aku malah bertemu dengan paman yang aneh, lalu di ruang keluarga ada wanita yang galak, dan sekarang ada pemuda asing di dalam kamar ku?!... Ah!! sudahlah!! terserah kalian saja!!! ” Marahnya, sembari menyalahkan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk memenangkan pikiran.
Sedangkan Ezra yang mendengar suara gadis itu yang begitu tidak asing di telinganya pun kini akhirnya tersadar sepenuhnya, dan segera turun dari ranjang lalu melangkah mendekat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. “Ma... Maya?... itu kamu kan, Maya?!! ” Panggilnya, sembari bertanya untuk memastikan.
Dan Shera yang mengetahui kalau pemuda yang ada di dalam kamarnya itu adalah kakaknya sendiri pun kini segera berkata. “Kakak?.... Tunggu, apa?! kakak?!!!” Tanyanya, yang mengulangi salah satu kata yang Ezra ucapkan dengan tidak percaya.
Setelah itu, gadis itupun segera mematikan shower dan melilitkan handuk di tubuhnya sebelum ia membuka pintu dan menatap wajah pemuda tadi. “Kamu... Kamu benar-benar kakak saya?! ” Tanyanya lagi, yang masih merasa tak percaya.
Kemudian, Ezra pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain sembari berkata dengan nada gugup. “I... Iya, jadi cepat pakai bajumu!!.... apa kamu tidak malu sama kakakmu sendiri?! aku ini cowok loh!” Ucapnya, yang menegur sang adik yang bertindak ceroboh di hadapan seorang laki-laki.
Mendengar hal itu, Shera sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Bahkan gadis itu tidak tampak malu dan malah dengan santainya berjalan menuju lemari lalu mengambil salah satu pakaian dan mengenakannya dengan cepat.
__ADS_1
“Jika anda kakak saya, maka tidak perlu malu!.... lagipula kita adalah saudara, bukan?! ” Ucapnya, dengan begitu santai dan seperti tidak ada beban.
Kemudian, dalam hatinya gadis itupun melanjutkan. “Yah, di mataku kau hanyalah seorang bayi!.... ketahuilah bahwa aku jauh lebih tua dari mu!! ” Ucapnya lagi, sembari melirik Ezra yang masih memalingkan wajahnya dengan rona mera di pipi.
“Saya sudah selesai berpakaian, jadi kakak tidak perlu seperti itu! ” Ucapnya, kemudian ia duduk di sebuah kursi di meja rias sembari mengeringkan rambutnya.
Melihat sang adik yang sudah tidak marah-marah lagi, Ezra pun kini menghela nafasnya lega. Kemudian, ia menyeret sebuah kursi kecil dan mendekatkan nya ke samping Shera. “Tadi, kenapa kamu marah-marah?... ” Tanyanya dengan lembut, Setelah itu ia mendudukkan dirinya dan membantu sang adik untuk mengeringkan rambut. “... Baru kali ini kakak lihat kamu bersikap seperti itu, mama dan papa bilang kalau kamu mengalami hilang ingatan, tapi sepertinya ada hal lain juga yang turut hilang darimu!” Ucapnya lagi.
Dan Sheren yang mendengarkannya pun kini hanya diam dan tak mau menjawab.
“Maya, coba bilang sama kakakmu ini!.... sebenarnya ada apa, hem? ” Tanya Ezra sekali lagi.
Kemudian Shera pun mulai membuka mulutnya dan berkata. “Wanita yang ada di ruang bawah tadi sudah membuatku kesal!.... mulutnya begitu pedas dan tajam, aku sangat tidak suka dengannya!! ” Ucapnya, yang berkata dengan jujur.
Sedangkan Ezra yang mendengar hal itupun kini sedikit terdiam dan berfikir, kemudian ia teringat akan seseorang dan segera berkata. “Oh! itu pasti tante!.... dia orangnya memang suka ceplas-ceplos kalau ngomong, jadi jangan di dengerin, entar kamu sendiri yang repot malahan! ” Ucapnya, yang sedikit memberi nasehat.
Shera yang mendengar hal itu pun kini mendengus kesal, kemudian ia memalingkan wajahnya yang cemberut itu sembari berkata. “Saya mengerti, lain kali saya akan mengabaikannya! ” Ucapnya, yang membuat Ezra kini tersenyum dan menepuk-nepuk kepala adiknya itu dengan lembut.
__ADS_1