Shera

Shera
Ketahuan?


__ADS_3

Di sisi lain, dokter yang sedang memeriksa keadaan Shera pun kini terlihat sedang bingung. Berulang-ulang kali ia memeriksa kondisi gadis itu dari atas kepala hingga ujung kaki namun tak kunjung mendapatkan apapun.


“Anak ini jelas baik- baik saja!” Gumam dokter itu dalam hati.


Arsenio yang melihat raut bingung pada wajah dokter tersebut pun kini mengerutkan dahinya, kemudian ia berjalan mendekat dan berkata. “Dokter, apakah ada masalah yang serius?” Tanyanya.


Namun dokter itu hanya menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tuan, tidak ada yang salah dengan gadis ini... dia baik-baik saja!” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan dari pria itu tadi.


Mendengar hal itu, Arsenio pun tentu saja tidak merasa percaya. Pria itupun kini menatap dokter tadi seperti seseorang yang sedang menatap orang bodoh lalu berkata. “Omong kosong apa yang baru saja kau katakan? Dia baru saja terlindas oleh mobilku, tubuhnya mengeluarkan banyak darah, dan sekarang kau berkata kalau dia baik-baik saja? Sungguh tidak masuk akal!!” Ucapnya, yang menganggap kalau dokter itu tidak becus menjalankan pekerjaannya.


Namun sang dokter yang merasa yakin dengan hasil pemeriksaannya pun kini membantah omongan Arsenio dan dengan berani ia berkata.


“Saya tidak berbohong, gadis ini memang baik-baik saja!... tidak ada yang salah dengan tubuhnya, dia sehat dan tidak sedang terluka sedikitpun!!” Ucapnya, yang mencoba untuk menyakinkan pria di hadapannya itu.


Di sisi lain, Shera yang sedang menjadi bahan perdebatan itupun kini memijit keningnya yang berkerut. Awalnya ia memang tidak sakit, namun setelah mendengar perdebatan mereka yang berisik itu entah mengapa tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


“Tolong hentikan, saya sudah bilang kalau saya baik-baik saja!” Ucap Shera, yang membuat kedua orang itu kini terdiam dan berhenti berdebat.


Arsenio kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Shera, kemudian meraih salah satu tangan gadis itu dan berkata dengan lembut. “Apakah kau yakin? Beberapa waktu yang lalu kau jelas sedang terluka parah!” Ucapnya.


Dan Shera pun menggelengkan kepalanya lalu berkata. “Saya baik-baik saja, tak usah khawatir!” Ucapnya, kemudian setelah terdiam beberapa saat ia pun kembali berkata. “Ah iya! Biarkan dokter itu pergi, saya tidak membutuhkan perawatan!” Ucapnya lagi.


...»»————>✥<————««...

__ADS_1


Di tempat lain saat ini, Ezra yang terbangun dari tidurnya dan akan turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum pun kini tiba-tiba menghentikan langkah kakinya di saat ia melewati sebuah kamar dengan pintu yang tertutup.


Itu adalah kamar adik perempuannya, Maya atau yang sekarang lebih sering dipanggil dengan nama Shera. Melihat pintu kamar yang tertutup rapat, entah kenapa ia merasa sangat ingin untuk membukanya dan mengintip ke dalam agar ia dapat melihat adik perempuannya yang sedang tertidur lelap.


“Sebentar saja mungkin gak apa-apa, kan?” Gumamnya dalam hati.


Salah satu tangannya pun kini terulur untuk meraih gagang pintu itu, kemudian memutarnya hingga pintu perlahan-lahan terbuka dan menampakan isi kamar yang terlihat kosong dan sangat gelap gulita itu.


“Shera?” Ezra memanggil nama gadis itu pelan, mulai melangkahkan kakinya masuk dan berjalan menuju ranjang.


Namun saat ia menyalakan lampu dan tidak menemukan keberadaan gadis itu didalam kamar, raut wajahnya pun mulai berubah panik.


“Hah?! Kemana anak itu pergi?!” Ia bergumam, melihat jam di dinding dan mulai merasa cemas. “Ini sudah larut malam, apakah dia pergi keluar?!” Gumamnya lagi, yang bertanya pada diri sendiri.


...»»————>✥<————««...


Kembali pada Shera saat ini. Setelah dokter tadi berhasil menyakinkan semua orang bahwa gadis itu baik-baik saja, ia pun akhirnya dapat pergi dan meninggalkan mereka berdua dengan Fin yang masih berjaga di luar ruangan.


Sedangkan Shera yang sedari tadi sudah kelelahan pun kini tanpa sadar memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas di atas ranjang milik orang lain.


“Lihatlah, gadis ini bahkan tidak waspada!” Arsenio kini bergumam dalam hati, menatap lekat-lekat pada wajah cantik yang tertidur seperti bayi yang tak berdosa itu. “Apakah dia tidak memandangku sebagai laki-laki?... Namun dari pada itu, mengapa dia sangat aneh?... Segala sesuatu tentangnya benar-benar terasa ganjil, apakah aku harus menyelidikinya?” Gumamnya lagi dengan suara yang sangat pelan.


Mau seberapa banyak ia memikirkan kejadian tentang gadis itu akal sehatnya pun masih tidak cukup mampu untuk mencerna hal-hal gila yang dia lihat. Jelas ada yang aneh, namun ia tidak tahu pasti tentang keanehan itu.

__ADS_1


“Apakah pada saat itu ia memang tidak terluka?.... Ah, tidak mungkin! Aku jelas melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau kepalanya berdarah dan tubuhnya terluka parah.” Gumamnya, yang merasa yakin dengan apa yang ia lihat. “Namun, bagaimana bisa ia sembuh dengan cepat?... Tubuhnya bahkan tidak memiliki bekas luka, dokter juga mengatakan kalau dia baik-baik saja...ini jelas sangat aneh!” Gumamnya lagi.


Dan setelah cukup lama ia memandangi wajah gadis itu, Arsenio pun pada akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju balkon dan menghabiskan waktunya dengan menghisap rokok sembari memikirkan hal lain.


...»»————>✥<————««...


Sebelum matahari terbit dan memunculkan sinarnya, sebuah tangan milik seseorang kini terlihat sedang menepuk-nepuk wajah Shera dengan sangat pelan untuk membangunkan gadis itu.


Di sisi lain, Shera yang merasa terganggu itu pun kini mengerjapkan kedua matanya, kemudian ia menoleh dan menatap orang yang membangunkannya dengan wajah bingung lalu berkata.


“Kau siapa?” Tanyanya, yang seakan lupa dengan kejadian tadi malam.


Mendengar hal itu, Arsenio pun mengerutkan dahinya dengan kesal. Bisa-bisanya gadis ini hilang ingatan dan melupakan dirinya hanya dalam waktu kurang dari semalam.


“Apakah kau masih bermimpi, nona kecil?” Tanya Arsenio dengan sedikit rasa geram, kemudian ia mencubit pipi gadis itu agar ia segera tersadar dan berhenti hilang ingatan secara mendadak. “Ayo bangun, kau bilang padaku kalau kau ingin pulang sebelum pagi tiba? Apakah kau masih ingin tetap di sini dan menemaniku sepanjang hari, hem?” Tanyanya lagi, yang membuat Shera kini membelalakkan kedua matanya dengan panik.


“Oh tidak, ayah ku akan membunuhku jika dia tau kalau aku tidak pulang semalaman!!” Ucapnya Shera, dengan sedikit berseru lantaran merasa sangat panik.


Sedangkan Arsenio yang melihat hal itupun kini terkekeh kecil, kemudian membenarkan rambut Shera yang berantakan dan menutupi wajah cantiknya dengan salah satu tangan sembari berkata. “Aku kira kau hanya takut kepada paman mu, ternyata masih ada lagi yang lebih menakutkan!” Ucapnya, dengan nada bicara yang terdengar seperti gurauan.


“Uh, tidak ada waktu lagi!!”


“Tenanglah, aku akan mengantarmu!”

__ADS_1


__ADS_2