Shera

Shera
Pria kurang ajar!


__ADS_3

Mereka berdua pun kini segera kembali ke rumah, Ezra yang terlebih dahulu turun dari dalam mobil itupun kini berjalan memutar dan membuka pintu mobil di sisi yang lain. Setelah itu, ia pun sedikit menundukkan kepalanya, menatap wajah seorang gadis yang berada di dalam mobil sembari berkata.


“Kamu masuk aja dulu, besok masih sekolah kan?” Ucapnya, dengan begitu lembut.


Sedangkan Shera yang mendengar hal itupun kini menolehkan wajahnya, kemudian berkata. “Lalu bagaimana dengan kakak? Apakah kakak juga tidak akan masuk?” Tanyanya balik.


Ezra pun menggelengkan kepalanya, melihat hal itu Shera pun segera keluar dari mobil. “Baiklah kalau begitu, tapi kakak harus segera masuk!... Udara malam sangat dingin dan tidak baik untuk tubuh.” Ucapnya lagi, namun sebelum ia sempat melangkahkan kakinya, tiba-tiba...


Cup!!


“Selamat malam!” Ucap Ezra, setelah mendaratkan sebuah kecupan lembut pada kening adiknya itu.


Di sisi lain, Shera yang mendapatkan perlakuan seperti itupun kini menyentuh dahinya yang dikecup tadi. Menganggap bahwa itu adalah sebuah bentuk dari rasa kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya, ia pun tersenyum lembut dan sedikit berjinjit untuk mengecup pipi Ezra.


Cup!


“Selamat malam juga, kak!” Ucapnya, lalu melangkahkan kakinya pergi begitu saja tanpa memperhatikan wajah sang kakak yang kini terlihat begitu memerah.


Ezra yang mendapatkan kecupan balasan di pipi itupun kini memukulkan tangannya ke mobil, menundukkan wajahnya dan berusaha menyembunyikan rona mera yang nampak begitu jelas itu.


“Sial!!” Ia bergumam pelan.


Setelah itu ia pun menyenderkan tubuhnya ke mobil dan mengambil sepuntung rokok lalu menyalakannya dengan menggunakan korek api.


Ezra menghisap rokok yang menyela itu, membiarkan rasa pait yang khas menyebar di dalam mulut hingga tenggorokannya sembari memejamkan kedua matanya dan membayangkan wajah seorang gadis yang begitu manis.

__ADS_1


Huffff~


Ia mengeluarkan segumpalan asap putih dari dalam mulutnya, meniupnya hingga itu menyebar di sekelilingnya bagaikan sebuah kabut pekat di malam hari. Ezra pun lalu menolehkan wajahnya ke arah lain, menatap jalanan yang baru saja di lalui oleh gadis itu.


“Andai kamu bukan Maya, dan andai saja kita bukan kakak adik!” Gumamnya dalam hati.


Kemudian, ia pun menundukkan kepalanya kembali dan menggaruk-garuk tengkukkannya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah yang nampak begitu frustasi.


...»»————>✥<————««...


Di sisi lain, Shera yang baru saja memasuki rumah pun kini melirik sekelilingnya yang nampak begitu sepi dengan lampu-lampu yang telah dipadamkan. Melihat bahwa di situ tidak ada orang sama sekali, gadis itupun kini menghela nafasnya dengan lega, kemudian ia melangkahkan kakinya menaiki tanggal menuju lantai dua dengan sedikit mengendap-endap agar tidak ketahuan.


“Huff, syukurlah!... Nampaknya semua orang kini tengah tertidur, jadi aku bisa kembali ke kamar dengan tenang tanpa harus di marahi!” Ucapnya, yang bergumam dalam hati.


“Apa yang sedang om lakukan di kamar saya?!” Tanyanya dengan begitu ketus, sama sekali tidak ada keramahan dalam setiap Kata-kata yang ia ucapkan.


Mendengar hal itu, Braxton yang sedari tadi duduk di meja belajar Shera pun kini tersenyum miring dan berkata. “Memang kenapa? Apa itu membuatmu kesal, sayang?” Tanyanya balik, dengan sebuah panggilan yang terkesan sangat menggelikan untuk didengar.


Shera yang di panggil dengan sebutan itupun kini mengerutkan dahinya dan menatap ke arah pamannya itu dengan tatapan jijik. “Anda tidak memiliki izin untuk memanggil saya seperti itu, dasar ba**ngan!” Ucapnya, yang tak segan-segan lagi untuk mengeluarkan makian.


Mendengar apa yang keponakannya itu ucapkan, Braxton pun kini berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shera. “Mulut kecilmu itu sudah sangat berani ya?” Ia menunjukkan sebuah senyuman penuh arti, kemudian mendorong tubuh mungil gadis itu ke arah dinding lalu menguncinya dengan kedua tangannya yang kekar. “Hem, aku jadi bertanya-tanya... apa jadinya ya jika aku memberikan sedikit pelajaran pada bibir yang kurang ajar ini?” Tanyanya, sembari menundukkan kepalanya dan mengarahkan bibirnya ke bibir ranum gadis itu.


Namun sebelum itu sempat terjadi, tiba-tiba...


Plak!!!

__ADS_1


Suara tamparan keras itu terdengar dengan sangat jelas, wajah Braxton kini menoleh ke arah lain dengan sebuah bekas tamparan merah pada salah satu pipinya.


“Jika anda lupa bagaimana caranya bersikap seperti manusia, maka menggonggong lah seperti anjing!” Ucap Shera, dengan begitu sarkas dan kasar.


Kemudian, gadis itupun mendorong tubuh Braxton untuk menyingkir dan menjauh. Memberikan jarak aman antara dirinya dan pria gila itu. “Saya tidak ingin membuat kesibukan lagi di malam hari, jadi sebaiknya anda segera pergi dari kamar saya!!” Ucapnya dengan begitu tegas sembari menunjuk ke arah pintu kamar yang terbuka.


Sangat jelas bahwa gadis itu kini benar-benar tidak menginginkan keberadaannya.


“Berani-beraninya kau...!” Braxton terdiam, memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh gadis itu tadi.


“Jika sampai ayahmu tau tentang ini... ”


“Pergi!!!” Shera memotong ucapan Braxton dan kembali mengusir pria itu untuk segera menghilang dari pandangannya. “Jika papa tau kalau anda baru saja ingin melecehkan saya, maka ia tidak akan tinggal diam!... Saya adalah satu-satunya putri yang ia miliki!!” Ucapnya lagi.


Braxton memang sangat menginginkan gadis itu untuk menjadi miliknya, walaupun ia adalah keponakannya sendiri namun itu tidaklah masalah. Akan tetapi, di sisi lain ia juga tidak ingin membuat keributan dengan Adam, karena Itu hanya akan menimbulkan banyak masalah terhadap dirinya nanti.


Meras kalau ini semua sudah cukup, Braxton pun mendengus dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang terbuka tadi. Namun saat ia akan keluar, pria itu terlebih dahulu menoleh ke belakang dan berkata. “Aku harap nantinya kau bisa bersikap lebih lembut lagi!” Ia terdiam dan memberi jeda, kemudian lanjut berkata. “Namun jika kau masih ingin bertarung dengan kasar bersama ku, maka kita bisa melakukannya di atas ranjang!... Aku pastikan bahwa nantinya kau akan merasa sangat puas, sayang!” Ucapnya, dengan kata-kata ambigu yang terkesan sangat fulgar.


Blammm!


Pintu kamar pun tertutup rapat, Shera yang mendengar hal barusan itu pun kini menghela nafasnya dengan berat dan bergumam pelan. “Hah, memang sebaiknya aku membunuh orang itu!” Ucapnya, lalu melangkahkan kakinya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. “Namun bagaimana jika itu membuat Adam sedih? Dari ingatanku, orang itu adalah satu-satunya saudara yang ia miliki!” Ucapnya lagi.


Ini semua sungguh membuatnya bimbang, menghilangkan nyawa seseorang adalah sesuatu yang sangat mudah baginya. Namun jika itu berhubungan dengan keluarga ini, maka situasinya akan menjadi sedikit sulit.


Dengan janji yang telah ia buat, maka Shera tidak akan bisa bertindak sembarangan terhadap anggota keluarga ini. Apalagi jika itu memiliki ikatan darah yang masih cukup dekat.

__ADS_1


__ADS_2