Shera

Shera
Keluarga


__ADS_3

Mata kedua orang itu kini melirik sekitar, menatap setiap sudut ruang tamu dengan ekspresi cemas bercampur panik. Sang wanita kini menarik-narik lengan baju suaminya, berusaha menarik perhatian pria itu agar menatap ke arahnya.


“Sayang, anak itu... ” Ia menggantung ucapannya, menatap ke sebuah sofa yang dimana diatasnya kini terbaring seorang gadis yang tengah tertidur pulas.


Begitu pula dengan sang pria, ia sama sekali tidak menoleh ke arah istrinya. Tatapannya kini tertuju pada sosok gadis itu, ada sebuah perasaan lega yang mengaliri hatinya walaupun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.


“Kenapa dia tidur di sini?! ” Pria itu bertanya dengan dingin, kemudian melangkahkan kakinya mendekat dan berjongkok di depan gadis itu. “Aku kira dia akan menangis ketakutan di kamarnya, kejadian seperti itu pasti membuatnya merasa sangat terpukul! ” Ucapnya lagi, sembari mengulurkan tangannya dan membelai kepala gadis itu yang terbalut perban.


Sedangkan sang istri yang mendengar perkataan suaminya itupun kini menghela nafasnya, lalu ia ikut berjongkok di sisi pria itu sembari berkata. “Mungkin anak ini sedang menunggu kita?... ” tebaknya, kemudian. “Cepat bawa dia ke kamarnya, kasihan dia kalau dibiarkan tidur di sini!! ” Ucapnya, yang menyuruh suaminya itu.


Dan tanpa menjawab dan banyak bicara, pria itupun segera mengangkat tubuh putrinya dan membawanya dalam gendongan. Sedangkan Shera yang merasakan goncangan pun kini hanya mengerang rendah, namun ia sama sekali tidak berniat untuk membuka mata dan memilih untuk mengabaikan lingkungan sekitar lantaran merasa kantuk.


...»»————>✥<————««...


Pintu dari sebuah kamar kini terbuka lebar, membiarkan pria itu masuk sembari menggendong putrinya yang sedang tertidur lelap.


Dari ambang pintu, sang istri kini hanya berdiri sembari menatap ayah dan anak itu dengan senyum lembut di bibir. Dalam hati ia memang sangat khawatir dengan keadaan putrinya itu, apalagi saat ia melihat perban putih yang melilit di kepalanya.


Namun, entah mengapa kini hatinya mulai merasa hangat dan tenang. Mungkin hal itu di sebabkan karena ia merasa putrinya kini telah aman jika sudah bersama dengan suaminya.


“Ayahmu itu sangat khawatir dengan keadaan mu, nak! ” Ia bergumam dalam hati, menyenderkan kepalanya pada dinding sembari menatap putrinya yang kini di baringkan di atas ranjang oleh suaminya dengan begitu hati-hati.


Kemudian, ia mulai melangkah masuk dan mendekat ke arah mereka. Suaminya itu kini tampak sedang duduk di pinggiran kasur sembari membelai kepala putrinya dengan begitu lembut dan halus.


“Sayang, kalau khawatir kamu bisa kok bangunin dia dan tanya gimana kabarnya! ” Ucap wanita itu, yang memberi saran sembari memeluk suaminya dari belakang.

__ADS_1


Mendengar itu, sang suami pun sedikit menoleh dan melirik nya untuk sekilas, kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menatap sang putri sembari berkata. “Jangan, biarkan saja dia tidur!.... aku tidak ingin membangunkannya. ” Ucapnya dengan suara yang sedikit di kecilkan.


Membuatnya terdengar seperti berbisik lantaran tak ingin mengganggu kenyamanan tidur putrinya itu.


Sedangkan sang wanita pun kini hanya bisa mengangguk pasrah dan mengiyakan ucapan suaminya itu, kemudian ia ikut duduk dan memandangi wajah putrinya yang sedang terlelap sembari tersenyum lembut.


“Baiklah kalau begitu... ” ia melepaskan pelukannya, kemudian mengambil ponsel di sakunya dan berjalan keluar sembari berkata. “Aku akan pergi sebentar dan menghubungi wali kelasnya dulu!” Ucapnya, lalu melangkah pergi.


...»»————>✥<————««...


Di sisi lain, Shera yang sedang tertidur pun saat ini tengah memimpikan sesuatu. Di mana dirinya kini sedang berjalan di tepi danau sembari menatap sekelilingnya dengan penuh heran.


“Di mana ini?... ” Gadis itu bergumam, dan bertanya-tanya dalam hati.


Kemudian ia mendekatkan dirinya ke arah air, lalu menundukkan kepalanya dan menatap pantulan dirinya yang terlihat cantik dengan rambut pirang serta mata biru yang berkilau.


Dan di saat ia sibuk memandangi pantulan wajahnya di air, sosok gadis lain pun muncul dari arah belakang dan berdiri menatapnya dengan tatapan mata yang terlihat sayu.


“Shera, apa kamu mau bicara denganku? ” Tanya gadis itu, dengan nada bicara yang terdengar ragu-ragu.


Sedangkan Shera yang menyadari keberadaan orang lain selain dirinya pun kini segera menoleh ke belakang, kemudian menatap sosok gadis itu dengan pandangan mata yang sulit untuk di artikan.


Untuk beberapa saat, mereka berdua saling terdiam dalam keheningan. Namun suara tawa kecil pun tiba-tiba terdengar dan memecah itu semua.


“Hahaha, justru akulah yang terkejut karena kamu mau berbicara denganku! ” Ucapnya sembari tertawa, kemudian menatap gadis remaja berambut coklat di hadapannya itu dengan senyum tipis yang tampak ramah. “Ada apa? Kenapa kau ingin berbicara dengan ku?.... apakah kau menginginkan tubuhmu kembali? ” Tanyanya, pada sosok yang tak lain adalah Maya yang asli.

__ADS_1


Namun gadis itu kini hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Shera, kemudian menundukkan kepalanya dan menatap ujung kakinya sembari berkata. “Aku tidak menginginkannya, karena sekarang itu milikmu!... ” ia terdiam untuk sesaat, dan memejamkan matanya. “.... lagipula sekarang aku sudah mati, dan kematian ini adalah pilihanku sendiri!” Lanjutnya.


Mendengar hal itu, Shera pun kini mengerutkan dahinya sembari menatap gadis di hadapannya itu dengan bingung. “Pilihanmu?.... aku sama sekali tidak mengerti, mengapa kau lebih memilih mati ketimbang menikmati hidup?! ” Ucapnya, yang bertanya-tanya lantaran tak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu.


Sedangkan Maya kini menggelengkan kepalanya, kemudian memalingkan wajahnya dan membungkam mulutnya dengan rapat.


Membuat Shera secara tidak langsung mengambil sebuah kesimpulan bahwa gadis itu sama sekali tidak ingin mengatakannya dan lebih memilih untuk merahasiakannya.


“Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya maka tidak apa-apa! ” Ucapnya, sembari menghela nafas.


Kemudian, salah satu tangannya pun terulur dan menyentuh dagu gadis itu hingga membuatnya menoleh dan menatap ke arahnya. “Akan tetapi, setidaknya kau harus menyampaikan tujuanmu!.... mengapa kau membawaku ke sini? dan hal apa yang ingin kau katakan kepadaku?! ” Ucapnya.


Mendengar hal itu, Maya pun kini menatap mata biru Shera dengan canggung. Ia sepertinya tampak ragu untuk menyampaikan keinginannya. “Sebenarnya aku ingin kau mengabulkan satu permintaan ku! ” Ujar gadis itu.


“Permintaan?!... jika itu menghidupkan mu kembali, maka aku tidak bisa!!.... aku bukan tuhan dan tidak tau caranya!!! ” Sahut Shera dengan tegas.


Ia bahkan belum mendengar permintaan gadis itu.


“Tidak, bukan itu! ” Maya menggelengkan kepalanya, kemudian berkata. “Aku hanya memintamu untuk menjaga keluarga ku!.... karena satu-satunya hal yang membuatku menyesal saat mati hanyalah mereka!!... aku tidak berguna, bodoh dan sangat menyedihkan!!.... bahkan aku sama sekali tidak pernah bisa membuat mereka tersenyum banga terhadapku!!!” Ucapnya, dengan wajah sedih.


Mendengar hal itu, Shera pun kembali menghela nafasnya dengan berat. “Hah!! perkataan mu itu seperti anak yang sedang depresi saja!....” Ia bergumam sembari mendesah pelan, kemudian menepuk bahu gadis itu dan kembali berkata. “.... Jika kau mengkhawatirkan mereka, lalu mengapa kau memilih untuk mengakhiri hidup?!!.... tidakkah kau paham seberapa berharganya kehidupan itu?!!.... apakah kau tau apa yang aku rasakan selama ini?!!..... Aku mati dengan begitu mengenaskan, kemudian rasa hampa datang dan menyiksaku sedikit deni sedikit!!.... Melihat anak-anak seperti kalian yang tertawa ringan, aku pun selalu merasa iri!!.... ”


“Karena itulah kau saja yang hidup dan menggantikan ku!!! ” Teriak Maya yang memotongnya ucapan Shera.


Kemudian, gadis itupun kini mulai melangkah mundur. Perlahan-lahan mulai menciptakan jarak antara dirinya dan Shera sembari berkata. “Aku sudah lelah dan tak sanggup lagi, karena itulah kau saja yang menggantikan ku!!... ” Sosoknya kini mulai tertelan kabut yang muncul entah dari mana. “.... Aku memberikan kebebasan kepadamu, kau boleh melakukan apapun yang kau mau!.... dan sebagai gantinya, aku hanya menginginkan satu hal... ” Ia menjeda ucapnya, disaat sosoknya telah benar-benar hilang dari pandangan.

__ADS_1


“Jagalah keluargaku, karena meraka adalah keluargamu saat ini!! ”


__ADS_2