
Arka kini berfikir sejenak, pikirannya kini merasa bimbang antara iya dan tidak. Sedari tadi gadis itu selalu bersikap begitu aneh dan mencurigakan, setiap kata yang keluar dari dalam mulutnya pun terdengar sangat ganjil dan penuh teka teki.
Dalam hati Arka merasa sangat bingung dan penasaran, namun mengesampingkan hal itu, ia pun memilih untuk mengalah dan menuruti semua keinginan gadis itu.
“Oke, kalau gitu aku antar kamu pulang sekarang, ya?!” Ucapnya, yang hanya di balas dengan anggukkan kecil dari Shera.
Kedua orang itupun pada akhir pergi meninggalkan tempat itu, Shera yang melihat bahwa pemuda ini begitu patuh padanya pun kini sedikit merasa lega. Setidaknya apa yang ia lakukan untuknya tidak akan sia-sia.
Namun, di saat mereka berdua berhenti di lampu merah. Entah kenapa Shera merasa bahwa ada seseorang yang kini sedang menatap ke arahnya.
Menyadari hal itu, sebuah kerutan mendalam pun kini terbentuk di antara kedua alisnya. Wajah gadis itupun kini segera menoleh kesamping dan menatap sebuah mobil yang terlihat begitu tidak asing.
Dan saat kaca jendela mobil itu di turunkan, pandangannya pun kini segera bertemu dengan tatapan mata milik seseorang.
Braxton yang menangkap basah perbuatan Shera pun kini tersenyum miring dan menatap gadis itu dengan penuh arti.
...»»————>✥<————««...
Sebuah mobil dan motor kini berhenti di pinggir jalan, Arka dan Shera yang masih di atas motornya pun kini saling melirik dan melemparkan isyarat antara satu sama lain.
Tak berselang lama Braxton pun keluar dari dalam mobil, pria itu kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dua anak muda di atas motor itu dengan raut wajah yang nampak begitu santai.
“Aku tidak menyangka kalau kamu ini adalah anak yang nakal, Shera!” Ucapnya, sembari masih melangkahkan kakinya mendekat.
__ADS_1
Kemudian, pandangannya pun kini beralih dan menatap ke arah Arka. “Kira-kira bagaimana ya kalau papamu sampai tau tentang hal ini?... Paman yakin kamu pasti akan di marahi habis-habisan olehnya!” Ucapnya, yang berusaha untuk menakut-nakuti gadis itu.
Di sisi lain, Arka yang mendengar ucapan dari Braxton pun kini melirik kebelakang dan menatap kearah Shera. Melihat kalau gadis itu kini sedang mengerutkan dahinya sembari membuang muka, Arka pun pada akhirnya mulai membuka mulut dan berkata.
“Tunggu sebentar, om ini siapa ya?... Ada hubungan apa sama Shera?!” Tanyanya, dengan tatapan mata yang penuh dengan kecurigaan.
Mendengar hal itu, Braxton pun kini tersenyum miring. Kemudian ia mengangkat salah satu tangannya dan menepuk-nepuk bahu Arka sembari berkata. “Saya pamannya, dan kamu sendiri ini siapa? Pacarnya?” Ia bertanya balik.
Melihat kalau tidak ada jawaban dari pemuda itu, Braxton pun kini terkekeh dan kembali berkata. “Hah, jadi kalian belum berpacaran ya?” Ia bergumam pelan, kemudian mengulurkan salah satu tangannya ke arah Shera dan berkata. “Nah, sekarang ayo! Lebih baik kita pulang!” Ucapnya, yang mengajak gadis itu untuk ikut bersama dengannya.
Mendengar hal itu, Shera pun kini menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan tegas ia pun berkata. “Om tidak perlu repot-repot, dia yang akan mengantarkan saya pulang!” Ucapnya, sembari melirik ke arah Arka.
Melihat kalau gadis itu tidak patuh, Braxton pun kini mulai berkerut kesal. “Kamu tau kan kalau kita ini satu rumah? Jadi buat apa kamu pulang sama dia?!!... Di sini ada paman, kita pulang sama-sama ya?” Ucapnya, yang mulai menggunakan sedikit penekanan dalam setiap kata-katanya.
“Tidak mau!!”
“Shera!!!”
Braxton mulai membentak, salah satu tangannya pun kini terulur dan mencengkram pergelangan gadis itu erat-erat. “Paman bukan orang yang sabaran, jadi ayo!!.... Jangan menjadi anak nakal dan menurutlah!!” Bentaknya, sembari menarik lengan Shera dengan kasar hingga gadis itu turun dari atas motor.
“Aaaah, itu sakit!!” Shera menepis tangan Braxton dengan kasar, kemudian ia berkata. “Saya sudah bilang kalau saya tidak mau di antar pulau sama om!! Kenapa om terus memaksa saya?!” Tanyanya, dengan penuh amarah dan kekesalan.
Sial sekali bahwa braxton adalah keluarganya, jika saja mereka tidak memiliki hubungan darah mungkin Shera kini bisa menggunakannya kekuatannya untuk melawan pria itu.
__ADS_1
“Om harus tau kalau Shera tidak suka dengan Om!!... Tidak masalah jika om mengadukan hal ini kepada papa, tapi jangan harap kalau saya akan menurut dan mematuhi semua perintah yang om Braxton ucapkan!!” Ujar gadis itu dengan begitu tegas dan lanang.
Di sisi lain, Arka yang melihat situasi antara kedua orang itupun kini segera turun dari atas motornya dan berkata kepada Braxton. “Om, dia gak mau, jadi jangan di paksa!” Ucapnya, yang segera berdiri di depan gadis itu untuk menghalanginya.
Sedangkan Braxton yang melihat dan mendengar hal itupun kini mendengus kesal, kemudian ia melirik ke arah Shera dan berkata. “Shera, ini kesempatan terakhir!.... Cepat masuk kedalam mobil sekarang juga!!” Perintahnya, dengan penuh penekanan.
Dan Shera pun tetap menggelengkan kepalanya dan berkata. “Saya sudah bilang berkali-kali kalau saya tidak...” Ucapannya kini tiba-tiba terhenti, pandangan gadis itu secara tidak sengaja menangkap sebuah senjata api yang di sembunyikan di balik jas rapi yang pamannya itu kenakan.
Menyadari kalau pria itu bisa saja berbuat sesuatu yang buruk, Shera pun kini sedikit terdiam dan berfikir. “Dia membawa senjata!... Itu tidak masalah jika hanya ada aku, namun... ” Pandangannya kini melirik ke arah Arka, pemuda itu nampaknya tidak menyadari apapun.
Khawatir dengan keselamatan orang yang sudah ia anggap sebagai teman, Shera pun dengan berat hati mengiyakan perintah dari pamannya itu.
“Ba... Baiklah, saya akan masuk kedalam mobil!” Ucapnya, yang membuat Braxton kini tersenyum dengan penuh kepuasan.
Namun sebelum itu, Shera pun melirik ke arah Arka dan berkata. “Kamu pergi saja duluan, aku akan pulang bersamanya!” Ucapnya, yang menyuruh pemuda itu untuk segera pergi dari sini.
Arka yang sedari tadi melihat interaksi mereka berdua pun kini sedikit merasa ragu. Gadis itu tadi jelas terlihat sangat membenci pria itu, namun entah ada alasan apa hingga ia sampai berubah pikiran.
“Kamu yakin?” Arka bertanya untuk memastikan.
Dan demi keselamatan pemuda itu Shera pun dengan terpaksa menganggukkan kepalanya dan berkata. “Pergilah, aku akan menghubungimu nanti!” Ucapnya.
Dengan sebuah perasaan mengganjal di hatinya, Arka pun pada akhirnya menganggukkan kepalanya dan kembali menaiki motor. Namun sebelum ia melaju pergi, pemuda itupun terlebih dahulu melemparkan sebuah tatapan penuh curiga pada Braxton yang kini juga sedang menatap ke arahnya.
__ADS_1