
Sinar matahari yang begitu menyilaukan itu membuat seorang gadis kini harus sedikit menyipitkan matanya, salah satu tangannya pun ia gunakan untuk menghalau sinar matahari agar tidak terlalu menganggu pandangannya di saat ia sedang berjalan.
“Oh, yaampun! kenapa di sini sangat panas?!... rasanya seperti ada matahari di atas kepalaku! ” Ucapnya, yang mengeluh sembari mengipasi wajahnya dengan buku tulis yang ia bawa.
Bahkan, karena sangking tidak tahannya ia dengan panas matahari yang begitu terik dan menyiksa, gadis muda itu pun kini berhenti di sebuah pohon yang terletak di pinggiran jalan dan duduk di bawahnya untuk berteduh sebentar.
“Hah!!!... Demi apapun, lain kali aku tidak akan mau berjalan pulang seperti ini!!.... lebih baik aku menunggu, bahkan jika itu sangat lama hingga aku harus bermalam di sekolah!!” Ucapnya, dengan kesal sembari menyekah keringat yang terus bercucuran di wajah dan lehernya.
Dan untuk beberapa lama, gadis itupun terus duduk di bawah pohon itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan dengan wajah yang tampak cemberut, namun sepertinya ia kini sudah menyerah dan merasa malas untuk berjalan kembali.
“Huff!... sudah lama rasanya aku tidak berkeringat dan merasa lelah secara fisik seperti ini!.... ” Ia bergumam dalam hati, kemudian menoleh ke jalanan yang ramai dengan mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang. “Seandainya sekarang adalah malam hari dan jalanan di sini sepi, mungkin aku akan__”
Tiiinn!!!.... Tiiinnn!!!....
Sebelum Shera sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah mobil pun berhenti tepat di hadapannya dan membunyikan klakson hingga menarik perhatian gadis itu untuk menoleh dan menatap mobil tersebut dengan heran.
“Siapa?.... ” Ia bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian, saat jendela kaca mobil itu di turunkan, dan wajah seseorang yang berada di dalamnya terlihat. Shera pun segera membelalakkan kedua matanya dan berkata. “Dokter Bian?!!... ” Panggilnya, yang mencoba untuk memastikan.
Setelah itu, pintu mobil pun terbuka. Dan seorang pria tampan dengan stelah baju kasual pun turun dan menghampiri gadis itu.
__ADS_1
“Selamat siang, Shera! ” Sapanya, dengan senyum lembut dan wajah yang tampak begitu ramah.
Mendengar hal itu, Shera pun juga ikut tersenyum dan berkata. “Selamat siang juga!... ” Jawabnya, kemudian terdiam untuk sesaat sebelum berkata. “... emm, apa yang anda lakukan di sini?... tidakkah anda sedang sibuk berkerja? ” Ucapnya, yang bertanya lantaran merasa penasaran dengan kemunculan dokter itu di situasi yang tak terduga seperti ini.
Sedangkan dokter Bian yang di tanyai itupun tak langsung menjawab, pria itu terlebih dahulu berjongkok di samping gadis itu dan berkata. “Saya sedang cuti, tapi kamu sendiri bagaimana?.... kenapa duduk sendirian di sini? ” Ia menjawab, kemudian bertanya balik. “.... Dan sepertinya ini masih belum jam pulang anak-anak sekolah, apakah kamu sedang membolos?” Tanyanya lagi, dengan tatapan penuh curiga
Shera yang mendengar hal itupun kini segera menggelengkan kepalanya dan melambaikan kedua tangannya sebagai tanda tidak. Setelah itu ia membuka mulutnya untuk berkata. “Bukan!!... Aku tidak sedang membolos!! ” Ucapnya dengan cepat, kemudian ia terdiam dan kembali berkata. “... Para guru sedang ada acara penting, jadi kami boleh pulang lebih awal, dan karena tidak ada yang menjemput saya jadi saya berjalan pulang, tapi hari ini sangat panas, saya merasa tidak tahan dan berfikir untuk berteduh sebentar di sini! ” Jelasnya, dengan panjang lebar.
Dan setelah mendengar penjelasan dari gadis itu, dokter Bian pun kini menghela nafasnya. Kemudian, ia mengulurkan salah satu tangannya dan berkata. “Kalau begitu ayo, saya akan mengantar kamu pulang! ” Ajaknya.
Namun, saat dokter itu melihat Shera yang merasa ragu untuk menerima uluran tangannya pun kini kembali berkata. “Shera, kamu tau kan kalau saya bukan orang jahat?... ” Tanyanya dengan lembut.
Dan Shera pun menganggukkan kepalanya. “Ya, tentu saja saya tau!... Bian bukan orang jahat.” Ucapnya.
Walaupun masih merasa ragu dan enggan, gadis itupun pada akhirnya menerima uluran tangannya. Dan karena merasa bahagia lantaran mendapat respon yang begitu baik, dokter bian pun segera menggenggam tangan tersebut dan menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
...»»————>✥<————««...
Dengan posisi tubuh yang berdiri sembari bersandar di tepi jendela, seorang pria kini terlihat sedang sibuk mengangkat telepon sembari menghirup rokok di tangannya.
“Itu tidak bisa, kau tau sendiri apa batasannya?! ” Ucapnya, kepada seseorang dari balik telepon itu dengan tegas.
__ADS_1
Kemudian, ia menghisap rokoknya, lalu menghembuskannya hingga asap-asap putih itu menyebar di sekitarnya.
Dan tak lama kemudian, dari jendela ia dapat melihat sebuah mobil yang berhenti tepat di depan gerbang halaman rumah lalu membunyikan klakson hingga seorang tukang kebun datang untuk membukakan gerbang.
Melihat hal itu, pria tadi pun kini mengerutkan dahinya dengan heran. Kemudian, ia mematikan panggilan teleponnya dan membuang rokok di tangannya itu ke sebuah pot bunga yang terletak tak jauh dari posisinya saat ini.
“Hem, siapa yang datang?... ” Ia bertanya-tanya, kemudian melangkahkan kakinya pergi menuju pintu keluar.
...»»————>✥<————««...
Di sisi lain, Dokter Bian yang baru saja selesai mematikan mesin mobilnya pun kini segera turun. Kemudian, ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk gadis yang masih duduk di dalam mobilnya sembari berkata. “Ayo, kita sudah sampai! ” Ucapnya.
Namun saat melihat gadis itu yang akan membuka sabuk pengaman sendiri, dokter Bian pun segera berkata. “Ah! Tunggu-Tunggu!!.... Biar aku yang membantumu melepasnya! ” Ucapnya, lalu segera mendekatkan dirinya dan membantu Shera untuk melepaskan sabuk pengaman tersebut.
Sedangkan Shera yang di bantu kini justru mengerutkan keningnya dengan heran, kemudian ia menatap dokter itu dan berkata. “Itu tidak perlu, aku bisa sendiri!... ” Ucapnya, kemudian ia sedikit terdiam di saat menyadari bahwa jarak antara mereka berdua kini benar-benar sangat dekat.
Dokter Bian yang merasa di pandangi oleh gadis itupun kini sedikit salah tingka, sebenarnya ia tahu kalau gadis itu bisa melakukannya sendiri. Namun, saat melihat kesempatan yang begitu bagus, dokter itupun tidak mau menyia-nyiakannya dan segera mengambil langkah cepat agar ia memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan gadis itu walau hanya sesaat.
“Nah selesai!... ” Gumamnya, setelah berhasil melepas sabuk pengaman tersebut.
Dan saat Shera turun dari mobil, kedua matanya pun segera berpapasan dengan mata seorang pria yang nampak begitu asing.
__ADS_1
Melihat hal itu, Shera pun sedikit mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya di saat ia menatap pria itu dengan heran. “Anda, siapa?.... ” Tanyanya, kemudian ia kembali berkata. “.... Apakah anda seorang tamu?.... saya tidak pernah melihatmu di sini! ” Ucapnya lagi.