
Raut gelisah nan gugup kini tercetak pada sebuah wajah rupawan seorang pria, ia sesekali melirik ke arah cermin, dan berulang-ulang kali merapihkan penampilannya yang sudah rapi lantaran tak ingin tampil buruk di hadapan seseorang yang akan datang.
“Kenapa masih belum datang?! ” Ia bergumam dengan suara pelan, menengok jam di tangannya dengan kerutan mendalam di dahinya. “Ah! kenapa juga aku gugup?!.... masak iya aku naksir sama anak SMA?!!” Gumamnya lagi dengan begitu frustasi.
Dan setelah beberapa saat, suara ketukan pintu pun terdengar. Menandakan bahwa kini ada seseorang yang sedang menantikan izin darinya untuk masuk ke dalam ruangan itu.
“Iya silahkan masuk! ” Ucapnya dengan suara yang sedikit di keraskan.
Sengaja ia lakukan agar seseorang di balik pintu itu mendengar dan segera masuk untuk menemuinya.
Dan saat pintu ruangan terbuka, pandangan dokter Bian pun kini dapat menangkap keberadaan dari beberapa orang. Hal pertama yang ia lihat adalah sesosok pria tinggi kekar dengan wajah tegas serta bulu-bulu halus di dagu dan rahangnya.
“Siapa?.... ” Tanya dokter Bian dalam hati.
Kemudian, pandangannya pun beralih ke arah seorang wanita yang berdiri di samping belakang pria itu. “Hem, mereka pasti orang tuanya anak itu!.... tapi dia ada di mana?” Gumamnya, yang mempertanyakan keberadaan seseorang.
“Halo dokter Bian, selamat pagi!! ”
Tiba-tiba, suara yang begitu kecil dan malu-malu itu terdengar dari balik badan kedua orang itu. Membuat dokter Bian secara otomatis mencari-cari sosok dari pemilik suara yang ia kenal.
“Oh, itu Shera ya?! ” Ucap sang dokter dengan senyum lembut yang tampak ramah.
Pandangan matanya kini tertuju pada seorang gadis yang mengintip dari balik punggung sang ayah. “Ayo, silahkan masuk!... saya sudah menunggu sedari tadi!” Ucapnya, sembari melirik kedua orang tua Shera secara bergantian
__ADS_1
Di sisi lain, Adam yang melihat interaksi antara putrinya dan dokter itupun kini mengerutkan dahinya dengan begitu kesal. Tatapan hangat dari dokter Bian kepada sang putri itu jelas tidak biasa!.... dan dirinya yang sebagai sesama pria tentunya tau dan sadar akan perbedaan tersebut.
“Maaf karena sudah membuat anda menunggu!... saya Adam, ayahnya Maya! ” Ucap pria itu yang memperkenalkan diri sembari menatap sang dokter dari atas hingga bawah dengan mata yang memicing tajam.
Dan hal itupun membuat dokter Bian merasa tidak nyaman lantaran menyadari ketidak sukaan pria itu terhadap dirinya. “Loh, apa aku ada salah ya?! ” Ia bergumam dan bertanya-tanya dalam hati. Kemudian melirik ke arah Shera yang masih menyembunyikan dirinya di balik punggung sang ayah. “Oh, jangan-jangan dia sadar?!... ” Gumamnya lagi dalam hati.
Setelah itu, dokter Bian pun membuka mulutnya dan berkata. “Saya Abian, tapi panggil saja Bian! ” Ucapnya, yang juga memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Dan Adam yang melihat hal itupun kini diam-diam tersenyum sinis lalu mengulurkan tangannya dan menerima jabatan tangan dokter itu. “iya, senang bertemu dengan anda! ” Ucapnya, sembari mengeratkan genggaman tangannya.
Seolah-olah, ia kini sedang memperingatkan dokter itu agar tidak macam-macam apalagi sampai menaruh hati kepada putrinya.
Dan hal itupun lagi-lagi di sadari oleh dokter Bian sehingga ia juga membalas dengan mengeratkan genggaman tangannya pada pria di hadapannya itu. “Pak, saya ini hanya pria lajang yang sedang mencari pasangan!... jadi mohon pengertiannya, ya?!! ” Ucapnya dengan sedikit kesal dalam hati.
Di sisi lain, Shera yang melihat hal itu pun kini mengerutkan dahinya. Untuk sesaat ia merasa bingung!.... padahal jika di lihat dari luar, kedua orang itu kini tampak akur. Akan tetapi Shera dapat dengan jelas merasakan aurah negatif yang memancar dalam diri dokter dan ayahnya itu.
“Kenapa kalian marah?! ” Gadis itu bertanya tanpa ragu, mengungkap peperangan tak kasat mata antara kedua orang itu secara terang-terangan.
Adam yang mendengar ucapan putrinya itupun kini segera melepas genggaman tangannya dari dokter itu, kemudian ia melirik sosok gadis yang ada di belakangnya sembari tersenyum kaku dan berkata. “Tidak, papa tidak sedang marah!” Ucapnya, yang mengelak pertanyaan putrinya tadi.
Mendengar itu, Shera pun kini mengerutkan dahinya, lalu memasang wajah cemberut dengan mata yang memicing tajam. “Papa tidak bisa berbohong, jelas-jelas kalian berdua tadi saling bertengkar!! ” Ucapnya.
Di sisi lain, Dokter Bian yang menyadari kepekaan gadis itu terhadap lingkungan sekitarnya pun kini hanya bisa terkekeh kecil dengan senyuman lembut di wajahnya. Kemudian, sembari mengulurkan tangannya dan membelai kepala Shera, ia pun kini berkata. “Ahaha, sepertinya kamu salah paham!... saya tidak sedang marah, apalagi sampai bertengkar dengan tuan Adam. ” Ucapnya yang juga berusaha untuk mengelak.
__ADS_1
Kemudian, dokter itu berdehem dan terdiam untuk sesaat sebelum melanjutkan. “Oh iya, bagaimana kalau kita mulai saja pemeriksaannya?.... luka di kepalamu itu juga harus segera disembuhkan agar tidak sampai meninggalkan bekas luka.” Ucapnya lagi.
...»»————>✥<————««...
Kembali pada Arka, pemuda itu kini terlihat sedang berjalan di Koridor rumah sakit sendirian. Setelah mengantarkan sang ibu, ia pun berniat untuk pergi kesekolah.
Namun di saat ia melewati sebuah ruangan, langkah kakinya pun tiba-tiba terhenti di saat kedua pandangan matanya menangkap keberadaan seorang gadis yang ia temui tadi.
“Loh, itukan cewek yang tadi?! ” Gumamnya dalam hati.
Dan entah bagaimana, ia kini lupa akan tujuannya yang ingin pergi kesekolah. Pemuda itu kini justru malah terdiam di depan jendela kaca sembari memperhatikan sosok gadis yang berada di balik ruangan itu.
“Masak iya sih kalau kita satu sekolahan?.... tapi kok aku gak pernah sekali pun lihat tampangnya ya?!.... padahal dia kan cantik banget, seharusnya ada banyak cowok yang naksir sama dia!” Gumamnya lagi dalam hati.
Sebenarnya sedari tadi sosok gadis itu masih menjadi misteri yang belum terpecahkan dalam benak pikirannya. Menurutnya, jika mereka memang satu sekolah, maka sangat tidak mungkin baginya untuk tidak mengenal apalagi sampai tidak pernah melihat gadis secantik itu saat berada di sekolah.
Biasanya anak seperti itu sangatlah populer dan akan menjadi pusat perhatian, namun kenapa? bagaimana bisa ia tidak pernah melihat keberadaan gadis secantik itu di dalam lingkungan sekolah sekalipun?!.... apakah selama ini ia pergi ke sekolah dengan mata yang tertutup?!!
Dan di saat ia terus memandangi gadis itu, di sisi lain Shera yang berada di dalam ruangan pun kini menoleh ke arah jendela dan menatap Arka dengan pandangan bingung. “Oh, sedang apa anak itu?!... ” ia bertanya-tanya, kemudian sedikit memiringkan kepalanya ke kiri. “... kenapa dia terus menatapku dengan wajah seperti itu?! ” Gumamnya dalam hati.
Terlihat di sana, Arka kini nampak begitu terkejut dengan ekspresi panik di wajahnya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa gadis itu akan menyadari keberadaannya dan menoleh ke arah jendela.
“Gila, gila, gila!!!.... demi apa, gue malu banget anjirr!!!.... kok bisa-bisanya dia tahu?!!.... entar kalau dianya salah paham gimana?!! ” Gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Kemudian, saat melihat tatapan bingung yang gadis itu arahkan kepadanya. Wajah Arka pun kini memerah, pemuda itu dengan cepat memalingkan wajahnya dan kembali melangkahkan kakinya pergi sembari menahan malu.