Shera

Shera
Teman-teman Ezra


__ADS_3

*Tinnn!!


Tinnn*!!


Suara klakson mobil yang dibunyikan dengan keras beberapa kali itupun membuyarkan lamunan Ezra. Pemuda itu kini menoleh ke belakang, kemudian kembali menatap depan dan melirik lampu jalan yang telah berganti warna menjadi hijau.


“Aduh, iya iya!!” Serunya, kepada pengendara lain yang sedari tadi terus menerus membunyikan klakson lantaran merasa tidak sabaran untuk menunggu.


Mobil pun kembali berjalan dan melaju dengan kecepatan sedang, sedangkan Shera yang tadinya berbicara dengan Ezra pun kini kembali menolehkan wajahnya ke arah jendela mobil untuk melihat pemandangan kota di malam hari.


...»»————>✥<————««...


Di sebuah kafe yang letaknya tidak begitu jauh dengan sebuah universitas, beberapa remaja kini terlihat sedang menikmati waktu dengan berkumpul dan bercanda gurau dengan teman-temannya yang lain.


Dan karena jarak kafe itu yang begitu dekat dengan kampus, tak heran jika di sana rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugasnya sembari berkumpul bersama dengan kawan-kawannya yang lain.


“Weh anjirr, otak gue rasanya mau pecah c*k!!” Ucap seorang pemuda dengan begitu frustasi akan tugas-tugas kampusnya yang menumpuk.


Mendengar hal itu, teman yang duduk di sampingnya pun kini berkata. “Udahlah bro, bertahan aja! Toh bentar lagi kita bakal lulus, kan?” Ucapnya, sembari memberikan tepukan pelan pada bahu sahabatnya itu.


Sedangkan teman yang lain pun kini ikut berkata. “Mangkannya jangan g*bl*k!... Mending lo jual aja tuh otak biar bisa beli HP iPhone hahaha!!” Ucapnya, yang tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan candaan itu.


“Berisik lo anj*ng!!”


“Sussst! Udah-udah, btw Ezra kapan dagangannya? Tadi katanya otw tapi sampai sekarang masih belum nyampek juga tuh anak!” Tanyanya, sembari melirik pintu masuk yang terbuat dari kaca tembus pandang.


Teman-temannya yang mendengar hal itupun kini melirik ke arah jam di tangan dan handphone mereka, kemudian salah satu di antaranya pun berkata. “Gak tau gue, di makan alien mungkin!” Ucapnya yang hanya asal bicara.


Dan tak lama setelah itu, dari arah jendela kaca merekapun dapat melihat sebuah mobil yang berhenti di area parkir. Penampilan mobil itu yang nampak keren dan cool dengan warna hitam itupun membuat beberapa orang mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah mobil tersebut dengan tatapan penuh kagum.


Dalam hati, mereka mungkin bertanya-tanya. Sebenarnya siapakah orang yang ada di dalam mobil tersebut.


Dan saat pintu mobil itu terbuka, pandangan semua orang pun langsung tertuju pada seorang pemuda yang nampak begitu rupawan dengan setelah kasual.

__ADS_1


Pembawaannya yang terlihat santai dan hangat itupun mencuri perhatian dari beberapa gadis yang ada di sana, tak sedikit dari mereka yang saling berbisik dan mempertanyakan identitas pemuda itu.


Di sisi lain, Ezra yang kini menjadi pusat perhatian itupun nampaknya sama sekali tidak sadar. Ia dengan santai berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk sang adik yang masih berada di dalam.


“May, ayo kita sudah sampai!” Ucapnya dengan lembut sembari mengulurkan tangannya.


Namun Shera yang tidak suka dengan panggilan yang Ezra gunakan untuk memanggilnya itupun kini berkata. “May, may... Saya tidak kenal Maya, kamu harus ingat untuk memanggilku dengan nama Shera!!” Ucapnya dengan begitu ketus.


Mendengar hal itu, Ezra pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Hem, kakak paham!... Kalau begitu ayo, temen-temen kakak udah lama nungguin, kan gak enak kalau bikin mereka nunggu lagi.” Ucapnya, yang benar-benar menunjukkan sikap yang begitu lembut terhadap Shera.


Shera yang diperlakukan seperti itupun pada akhirnya menurut, kemudian ia menerima uluran tangan dari Ezra dan keluar dari mobil dengan pembawaan yang begitu anggun.


“Secara fisik kakak memang sangat mirip dengan papa, tapi dari dalam kakak lebih mirip dengan mama yang lemah lembut dan hangat!” Ucapnya, yang entah sedang membanding-bandingkan atau memuji.


Namun Ezra yang mendengar hal itupun kini terkekeh, segala hal yang adiknya itu ucapkan adalah sebuah kata-kata indah baginya. Walau itu adalah makian atau sindiran sekalipun.


...»»————\>✥<————««...


Di saat kakak beradik itu masuk ke dalam kafe, beberapa orang remaja pun segera menghampiri mereka dengan wajah gembira yang nampak berseri-seri.


“Weh, bro apa kabar? Dah lama gak ketemu, ternyata masih hidup lo ya!” Ucap Ezra, yang lebih terdengar seperti sebuah candaan.


Dan karena hubungan mereka yang sudah sangat akrab, ucapan seperti itu tentunya tidak akan menyinggung. Malahan, mereka kini tertawa dan saling bertukar salam dengan gaya ala anak-anak gaul pada umumnya.


Sedangkan Shera yang melihat kedatangan mereka pun kini bersembunyi di balik punggung lebar Ezra, jujur saja ia sedikit tidak nyaman jika terdapat banyak pria di sekitarnya. Apalagi ia memiliki sedikit trauma dari kehidupannya di masa lalu.


“Kak, saya ingin pulang!” Ucap Shera dengan suara lirih.


Bukannya dia merasa takut atau apa, gadis itu hanya sedang merasa tidak nyaman dan gelisah. Pemuda-pemuda yang sedang berbicara dengan kakaknya itu adalah orang asing baginya, ia sama sekali tidak akrab dan bahkan tidak mengenali mereka.


Sedangkan mereka yang mendengar suara manis dari seorang gadis pun kini segera menolehkan wajahnya dan melirik ke arah belakang punggung Ezra.


Saat pandangan mereka menangkap sosok mungil yang sedang bersembunyi sembari menatap mereka dengan tatapan was-was, untuk sesaat mereka pun terdiam dan tertegun dalam lamunannya.

__ADS_1


Waktu di sekitar mereka pun seakan-akan terhenti. Dalam hati mereka merasa bingung, apakah sosok cantik yang terlihat di hadapan mereka itu nyata atau hanya sekedar ilusi.


Kulitnya yang putih dan tubuhnya yang mungil itu membuatnya terlihat seperti seorang peri, apalagi dengan wajahnya yang manis dan tatapan matanya yang polos.


Membuat mereka secara tidak langsung memiliki naluri untuk selalu melindunginya.


Sedangkan Ezra yang juga mendengar hal itupun kini melirik ke belakang, menatap adik perempuannya yang cantik itu dengan tatapan yang begitu lembut dan hangat.


“Kenapa? Kamu takut ya sama mereka?” Tanyanya dengan lembut, kemudian ia menjulurkan tangannya dan menepuk-nepuk kepala Shera sembari berkata. “Gak apa-apa, mereka emang kayak berandalan, tapi sebenarnya mereka baik kok!” Ucapnya lagi, yang berusaha untuk membujuk adiknya itu.


“Za, siapa dia? Cewek baru lo?!!” Tanya salah satu dari mereka.


Ezra yang mendengarnya itupun kini menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Bukan, dia ini adik gue, yang sering gue ceritain ke kalian dulu!” Ucapnya, yang memberikan penjelasan agar mereka tidak salah paham.


Mendengar hal itu, teman-temannya pun kini saling melirik antara satu sama lain. Kemudian mereka kembali menolehkan wajahnya dan menatap Shera dengan penuh rasa kagum.


“Eh, beneran?! Jangan bohong lu!”


“Gila banget, jangan-jangan ini anak orang yang lo culik kan?!”


“Enak banget hidup lo ya?! Udahlah banyak yang naksir punya adek cantik pula!”


“Iya tuh, masak kita baru tau rupa adek lo padahal udah bertahun-tahun temenan?!... Wah, nih orang emang bener-bener kelewatan!” Ucap mereka, yang terlihat seperti sedang mengadili seorang pendosa.


...»»————\>✥<————««...


Kini mereka semua duduk di tempat yang sama, hanya Shera saja yang duduk di tempat terpisah. Mungkin karena ia adalah satu-satunya gadis di antara para pemuda, perlakuan terhadapnya pun sedikit lebih sepesial.


Apalagi dengan Ezra yang terlalu posesif hingga tidak membiarkan teman-temannya duduk di dekat Shera apalagi sampai menyentuhnya.


Gadis itu kini hanya diam, membaca sebuah buku milik salah satu dari mereka dengan sikap yang begitu tenang.


Melihat hal itu, salah satu teman Ezra pun kini berpura-pura batuk dan berdehem untuk menarik perhatian gadis itu agar menatap ke ayahnya.

__ADS_1


“Ekhem, btw nama kamu Maya kan?... Kelihatannya kamu suka banget baca buku, gimana kalau lain kali kamu main ke rumahnya kakak? Di sana ada banyak buku, dan kamu bisa baca sepuasnya loh!” Ucapnya, yang lebih terdengar seperti merayu ketimbang mengajak.


__ADS_2