
Suara gadis itu terdengar begitu lembut, sungguh terasa ringan dan merdu. Nama dokter Bian tidaklah istimewa, namun untuk pertama kalinya ia kini merasa sangat senang saat mendengar namanya sendiri.
Ada sebuah gejolak aneh dalam dirinya, suara kecil yang memanggil-manggil namanya itu seakan-akan sedang menggelitik indra pendengarannya.
Membuat dokter itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Di sisi lain, Shera yang melihat keterdiaman dokter itu pun kini menundukkan kepalanya. Mencoba untuk merenungkan kembali apakah ada dari kata-katanya yang terdengar salah.
Namun tiba-tiba, pikiran gadis itupun kini segera teralihkan di saat pandangannya menangkap sehelai rambut yang menjuntai di wajahnya dan menghalangi penglihatannya. “Apa ini?... ” Ia bergumam, menyentuh rambut berwarna hitam kecoklatan itu dengan tatapan bingung. “... Rambut siapa?.... ini, rambut ku?!!... tunggu!! apa?!! ” Gadis itu memekik sembari mendelikkan matanya dengan lebar.
Kemudian, dengan wajah panik ia pun segera berdiri dari duduknya dan mencari-cari benda yang sekiranya bisa memantulkan bayangannya.
“Si... Siapa dia?!!.... ini bukan saya!!! ”
Tiba-tiba, suara gadis itu kembali terdengar, berseru dengan raut wajah terkejut sembari menatap ke arah jendela yang terbuat dari kaca.
Mendengar hal itu, dokter Bian pun kini tersentak dari lamunannya. Kemudian ia dengan cepat menolehkan wajahnya untuk melihat gadis itu tadi. “Shera ada apa?!... ” Ia berjalan mendekat, bertanya mengenai sesuatu yang sedang terjadi.
Sedangkan guru yang sedari tadi hanya terdiam di tempatnya pun kini mulai membuka mulutnya. “Maya, nak kamu kenapa?!.... bapak tadi sudah bilang, kamu jangan__”
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Shera pun kini melirik ke arah guru itu dengan tatapan tajam sembari berteriak. “Sudah saya bilang jangan panggil saya Maya!!! ” Ucapnya dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
Kemudian pandangan gadis itu pun kini kembali menatap ke cermin, memperhatikan wajah yang tanpa tak asing dari sosok gadis remaja yang pernah ia temui. “Bagaimana bisa?... ini sangat membingungkan! ” ia bergumam dalam hati.
Lalu melambai-lambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri secara bergantian sembari menatap pantulan dirinya dengan bingung.
Seolah-olah yang sedang ia tatap saat ini bukanlah bayangan dari dirinya sendiri, melainkan milik orang lain.
Menyadari gelagat aneh yang gadis itu tunjukkan, dokter Bian pun mengerutkan dahinya. Dalam pikirannya kini mulai muncul beberapa spekulasi, nenduga-duga bahwa pasien nya itu mengalami hilang ingatan.
“Shera!... ” Ia memanggil nama gadis itu dengan lembut.
Walaupun ia tahu bawah nama itu bukanlah nama yang asli, namun ia masih saja tetap menggunakannya. Hal itu ia lakukan karena si gadis lebih memberikan respon positif saat dirinya di panggil dengan nama ‘Shera’ dan bukan ‘Maya’.
Sedangkan Shera yang mendengar namanya di panggil itu pun kini menolehkan wajahnya, bersiap untuk menanyakan sesuatu kepada dokter itu. “Bian, apa dia itu aku?! ” Tanya gadis itu sembari menunjuk ke arah bayangannya sendiri.
“Bian!!!... ” Shera memanggil namanya dengan lebih keras, membuat dokter Bian tersentak dari lamunannya.
“Hah?... ” ia menatap gadis itu dengan mata yang terbelalak, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah bayangannya Shera yang terpantul di kaca jendela. “Tentu saja itu kamu, Shera!... memang siapa lagi? ” Jawabnya.
Kemudian, ia menangkup kedua sisi wajah gadis itu. Membuat kedua mata mereka kini saling bertatapan anatara satu sama lain. “Shera, apa kamu tidak ingat apapun mengenai dirimu sendiri? ” Ia bertanya, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah gadis itu sembari menunggu untuk mendapatkan jawaban.
Di sisi lain, Shera yang di tanyai itu pun kini hanya terdiam. Jika tentang dirinya sendiri tentu ia akan ingat, namun apakah ia harus menjawab dengan jujur?..... menjawab bawah ia adalah hantu dari seorang gadis yang telah mati?
__ADS_1
Hei, jangan bercanda!!...
Jika manusia itu bisa melihat dan menyentuhnya, itu artinya ia kini bukanlah mahluk gaib, melainkan sesuatu yang memiliki wujud secara nyata.
Menyadari hal itu, kepanikan dalam diri Shera pun segera hilang dengan cepat. Raut wajahnya kini terlihat berseri-seri, kedua sudut bibirnya pun melengkung dengan sempurna membentuk senyum indah yang menawan. “Saya hidup?.... ” Ia bergumam dengan suara lirih, sangat lirih hingga hanya dia saja yang dapat mendengarnya.
Dan untuk sekilas, ia pun kini teringat akan salah satu do'anya. Dulu ia sempat meminta untuk dihidupkan kembali!..... itu adalah doa yang sangat konyol, doa yang terdengar begitu mustahil dan tidak masuk akal.
Bahkan Shera yang mengucapkan doa itupun sama sekali tidak berharap bahwa tuhan akan mengabulkannya.
Namun siapa sangka?.... Setelah berpuluh-puluh tahun lama, kini ia dapat merasakan kembali sebuah sensasi.
Sensasi hidup sebagai mahluk yang memilih wujud dan selalu bernafas dengan jantung yang terus berdetak.
Di sisi lain, dokter Bian yang di abaikan pun kini menatap Shera dengan dahi yang berkerut. Padahal kedua mata mereka kini saling bertatapan, tapi bagaimana bisa gadis itu kini malah memikirkan hal lain.
“Shera, apa kamu mendengar saya?... ” Dokter itu bertanya, menyadarkan Shera dari lamunannya.
Kemudian, saat ia merasa bahwa perhatian gadis itu kini telah tertuju kepada nya. Dokter Bian pun bertanya untuk yang kedua kali. “Shera, apa kamu tidak ingat tentang dirimu sendiri?... ” Ia menunjuk ke arah pantulan wajah gadis itu. “... apa kamu tidak ingat dengan wajahmu sendiri?! ” Tanyanya.
Mendengar hal itu, Shera pun tak langsung menjawab. Gadis itu kini mengulurkan tangannya, menyentuh kaca yang samar-samar memantulkan wajah cantik khas orang Asia yang bukan miliknya. “Iya, ini saya!... ” ia menganggukkan kepalanya, menjawab sembari tersenyum kemudian kembali berkata. “Ini memang saya, wajah dan raga ini milik saya! ” Ucapnya lagi.
__ADS_1
Membuat dokter Bian serta guru yang ada di ruangan itu kini mengerutkan dahinya dan saling menatap dengan bingung, sama sekali tidak mengerti dengan setiap perubahan yang gadis itu tunjukkan secara tiba-tiba.