Shera

Shera
Kamu yang ada di perpustakaan


__ADS_3

Terlihat di sana, seorang gadis cantik yang sedang berjalan berlawanan arah darinya. Entah kenapa kedua matanya tidak bisa berkedip walau hanya untuk sesaat, seolah-olah ia sedang tidak ingin menyia-nyiakan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya itu.


Tak sengaja, gadis itupun juga melirik kearahnya. Menimbulkan interaksi antar mata yang saling memandang antara satu sama lain.


Arka yang menyadarinya pun kini menjadi gugup, lelaki itu tak tau lagi harus membuang pandangannya kemana untuk menghindari kontak mata dengan gadis asing itu.


Namun sebelum ia menundukkan kepalanya dan menurunkan pandangan matanya, gadis itupun tiba-tiba tersenyum, dan dengan curang menghipnotis dirinya untuk terus memandang ke arahnya.


“Apa-apaan itu?!... ” Ia bergumam dalam hati, tanpa sadar meletakkan tangannya di dada dan merasakan jantungnya yang berdetak dengan kencang.


...»»————>✥<————««...


Di sisi lain, Shera yang melihat keberadaan seseorang yang ia kenal pun kini tersenyum lembut. Tujuan gadis itu sebenarnya hanya untuk menyapa dan menunjukkan keramahannya.


Namun entah kenapa, niat baiknya itu justru malah di sambut dengan reaksi aneh dari pemuda tampan di sebelah sana. Membuatnya sedikit merasa bingung dan bertanya mengenai hal apa yang sedang pemuda itu pikirkan saat ini.


“Huh? anak itu kenapa?.... apa jangan-jangan dia tidak suka dengan ku?.... tapi kenapa? apa aku pernah berbuat nakal?! ” Gumamnya yang bertanya-tanya dalam hati, kemudian mengingat-ingat kejadian di perpustakaan pada tempo hari yang lalu. “Aha! apakah dia masih marah karena aku menjatuhkan buku?.... tapikan itu kejadian yang sudah berlalu, kenapa masih menyimpan dendam?! ” Gumamnya lagi, yang rupanya gadis itu kini sedang salah paham.


Bagaimana bisa ada orang yang begitu tidak peka seperti ini?!..... gadis itu kini bahkan memutar arah dan tanpa ragu berjalan mendekat ke arah pemuda tadi.


“Hei, kamu!!... ” Ia memanggil pemuda itu.


Dan Arka pun tersentak hingga mengedipkan matanya beberpa kali di saat mendengar suara gadis itu. “Siapa? gue?... ” Ia menyahut dengan ragu, kemudian melirik ke sekelilingnya yang tidak ada seorang pun selain ibunya yang duduk di kursi roda. “... e.. elu manggil gue kan? ” Tanyanya lagi untuk memastikan.


Dan saat Shera sudah berada di hadapannya, gadis itupun memiringkan kepalanya ke arah kiri dan menatapnya dengan heran. “Elu?... ” ia mengulangi salah satu kata yang Arka ucapkan, kemudian mengerutkan dahinya dan berkata. “.... Siapa Elu? nama saya Shera, bukan Elu!! ” Ucapnya, yang membuat pemuda itu memasang wajah cengo.


“Hah? demi apa?!! ” Arka memandang gadis cantik itu dengan tatapan yang sulit untuk di deskripsikan, entah bagaimana bisa ada orang yang berbicara seaneh ini.


Namun setelah beberapa saat terdiam dalam pikirannya, pemuda itu pun berdehem untuk sekali dan menormalkan ekspresi wajahnya sebelum berkata. “E... Enggak gitu!.... Elu itu artinya kamu! ” jelasnya, kemudian kembali berkata. “jadi tadi gua nanya ke elu, yang lo panggil tadi siapa? gue kan?! ” Tanyanya lagi.

__ADS_1


Dan Shera yang mendengar penjelasan itu pun kini hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan membulatkan bibirnya hingga membentuk huruf ‘O’. Menunjukkan sebuah ekspresi unik mirip seperti seseorang yang baru saja mengetahui hal baru.


“Ah! begitu ya!” Gumam gadis itu dengan suara lirih.


Namun masih cukup keras untuk di dengar oleh Arka yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.


“Nih anak sebenarnya datang dari mana sih?masak gitu aja gak tau?!.... dan lagian, kok logat bicaranya aneh gitu? kayak orang bule yang baru bisa belajar indo aja!! ” Ucap Arka dalam hati, di saat ia merasa aneh dengan prilaku gadis itu.


“Jadi ada apa?!” Tanya Arka sekali lagi.


Dan bukannya menjawab, Shera justru malah balik bertanya. “Kamu, anak yang marah-marah di perpustakaan waktu itu kan?! ” Tanyanya, yang membuat Arka menaikkan salah satu alisnya dengan heran.


“Hah? kapan?! ” Arka bertanya sembari mengingat ingat.


Kemudian, Shera pun mulai bercerita. “Waktu itu, saya ingat di hari senin kamu tiba-tiba masuk ke perpustakaan saat saya sedang membaca buku!.... terus kamu marah gara-gara ada buku yang jatuh, sebetulnya waktu itu saya ingin mengembalikannya, tapi tidak jadi karena kamu tiba-tiba datang! ” Ucapnya dengan panjang lebar.


Mendengar hal itu, Arka pun semakin mengerutkan dahinya dan menatap gadis di hadapannya itu dengan heran. Karena waktu itu, ia dengan jelas mengingat bahwa tidak ada siapapun di perpustakaan selain dirinya.


Namun saat ia akan membuka mulutnya untuk bertanya, tiba-tiba suara seseorang pun terdengar dari belakang gadis itu dan menghentikan niatnya untuk bertanya.


“Maya, dia siapa?.... kamu kenal sama dia?! ” Tanya seseorang yang tidak lain adalah Adam yang sedang berjalan mendekat dengan raut wajah garang.


Mendengar suara sang ayah, Shera pun kini segera menoleh ke belakang. Kemudian, gadis itu kembali menatap ke arah Arka dengan ekspresi panik. “Aih! gawat sekali!!.... bukan kah sekarang aku sedang hilang ingatan?!!.... lalu nanti harus jawab apa dong?! ” Gumamnya dalam hati dengan begitu bingung.


Kemudian, gadi itu tiba-tiba tersentak kaget saat merasakan sebuah tepukan pelan dari sebuah tangan kekar di bahunya.


“Maya, papa tanya siapa dia?! ” Tanya Adam dengan nada dingin.


Dan Shera pun menjawab. “Dia anak yang saya kenal di sekolah, pa! ” Ucapnya dengan jujur sembari berusaha keras untuk tidak terlihat gugup.

__ADS_1


Sedangkan Adam yang mendengarnya pun kini membulatkan matanya, kemudian pria itu melirik ke arah sang istri yang berada di belakangnya dengan tatapan penuh arti. “Hah? kamu ingat sama dia?!.... itu berarti kamu juga ingat sama yang lain?!! ” Tanyanya, dengan begitu tidak sabaran.


Berfikir bahwa ingatan putrinya kini telah kembali seutuhnya.


Namun jawaban gadis itu berikutnya pun begitu mengecewakan. “Tidak pa, saya hanya mengingat dia sekilas, tapi setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi!” Jawabnya, sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Di sisi lain, Ibunya Arka yang sedari tadi diam dan mendengarkan pun kini pada akhirnya membuka mulut dan bersuara. “ Emm, maaf! ini sebenarnya ada apa ya?.... ” ia bertanya, kemudian melirik ke arah sang putra dan kembali berkata. “Nak, kalian saling kenal?.... teman sekolah kamu ya?! ” Tanyanya lagi.


Dan Arka pun menggelengkan kepalanya sembari menjawab dengan ragu. “Arka gak tau sih Ma, soalnya baru kali ini Arka lihat dia!... ” ia terdiam untuk sejenak, kemudian melanjutkan. “.... tapi kayaknya iya deh, dari kata-katanya tadi kayaknya kita satu sekolah! ” Ucapnya lagi.


Sedangkan Adam yang juga mendengar hal itu pun kini menatap Arka dengan pandangan penuh curiga, terlihat jelas bahwa pria itu kini begitu waswas dengan kedekatan putrinya dengan pria lain. “Hei, nak!... siapa nama kamu?! ” Tanyanya dengan tegas.


Seolah-olah ia kini sedang berbicara dengan pesaingnya.


Walaupun Arka juga menyadari hal itu, namun pemuda itu masih tetap berusaha untuk bersikap tenang dengan menjawab. “Nama saya Arka om! ”


“Apa benar kamu satu sekolahan dengan putri saya?!! ” Adam kembali bertanya.


Dan Arka pun menjawab dengan ragu-ragu. “Sa... Saya gak yakin sih, tapi kalau anak om sekolah di sekolahan ‘A’ ya kayaknya sih iya!... soalnya saya ketua OSIS nya! ” Jawabnya, sembari menundukkan kepalanya lantaran tak berani menatap mata Adam yang tajam.


“Duh, nih om-om apa mau ngebunuh gua yah?.... kok rasa-rasanya kayak punya dendam pribadi gitu?! ” Gumam Arka dalam hati, berusaha untuk menyembunyikan keresahan nya dengan tersenyum.


Yah, walaupun senyumnya itu nampak begitu kaku.


Dan setelah beberapa saat mereka saling terdiam dalam suasana canggung, pada akhirnya Adam pun menghela nafas panjang dan melihat waktu di jam tangannya. “Baiklah kalau begitu!... kami masih ada keperluan, lain kali kita bicara lagi kalau ketemu! ” Ucapnya dengan dingin, kemudian menggandeng tangan sang putri dan melangkahkan kakinya pergi.


Sedangkan Malina yang berada di belakang pria itu sedari tadi pun kini melirik Arka dan ibunya, kemudian wanita itu tersenyum dengan lembut sembari berkata. “Maaf ya! suami saya emang gitu orangnya, jadi mohon maklum!” Ucapnya dengan sungkan.


Dan Ibu Arka pun menggeleng pelan dan berkata sembari tersenyum. “Oh, enggak apa-apa kok!....gak masalah sama sekali! ” sahutnya.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, saya permisi ya! ” Ucap Malina dengan begitu ramah.


Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang suaminya tunjukkan tadi.


__ADS_2