Shera

Shera
Identitas Arsenio


__ADS_3

Mengangguk dengan patuh, Finn pun kini segera pergi dari tempat itu untuk menjalankan tugasnya. Ia tidak banyak bicara samasekali, perintah yang telah keluar tidak akan bisa di bantah lagi.


Arsenio adalah seorang pemimpin mafia, ia berasal dari Sisilia Itali. Bergerak dalam bidang narkotika yang tersebar di berbagai penjuru dunia, membuatnya menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia gelap dan pasar-pasar ilegal.


Ia kini berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya kearah balkon dan menatap pemandangan kota yang nampak indah dari lantai lima di sebuah kamar hotel.


Sembari menghisap sepuntung rokok di tangannya, ia pun menatap kebawah dan memperhatikan beberapa orang yang sedang beraktifitas. Kedatangannya ke Indonesia bukan hanya untuk bersenang-senang, ada beberapa hal yang harus ia urus di sini.


Beberapa orang dari kelompok lain kini telah mengusik bisnisnya. Negara ini adalah pasar terbaik, ada banyak peminat yang siap mengeluarkan uang mereka untuk membeli barang darinya. Namun entah dari mana, beberapa tikus kecil pun keluar dari dalam selokan dan bersikap seperti seekor singa untuk menantang dirinya.


Mengetahui hal itu Arsenio pun tak ambil pusing, mereka hanyalah sekelompok mahluk kecil menjijikkan yang mudah sekali untuk dihancurkan. Hanya dengan beberapa kata yang keluar dari mulutnya, maka anak buahnya akan segera bertindak cepat untuk memberantas mereka hingga ke akar-akarnya.


“Setelah urusan di sini selesai aku akan kembali ke Sisilia!” Ia bergumam dalam hati, mengeluarkan asap putih rokok dari mulutnya dan kembali berkata. “Namun sebelum itu, tidak ada salahnya untuk sedikit bersantai di sini!” Gumamnya lagi.


...»»————>✥<————««...


Malam yang begitu larut kini hanya menyisakan kesunyian. Seorang gadis kini terlihat sedang memejamkan kedua matanya, wajahnya yang cantik itu terlihat begitu damai disaat ia terlelap dalam tidurnya yang panjang.


Sebuah kasur empuk dan bantal yang lembut itu semakin membuatnya merasa nyaman hingga ia enggan untuk membuka matanya. Melihat betapa nyenyak nya tidur gadis itu, Ezra pun kini menghela nafasnya dengan panjang. Hanya beberapa menit ia meninggalkan gadis itu untuk pergi ke toilet, namun setelah beberapa saat ia pun kembali dan mendapati bahwa gadis itu kini telah tertidur di atas ranjang miliknya.


“Hah s*al! Yang bener aja?!!”


Ezra mengumpat pelan, gadis itu jelas sedang mempermainkan dirinya. Bagaimana bisa ia tertidur begitu saja di kamar seorang pria tanpa merasa was-was sedikitpun? Apakah ia tidak merasa takut? Untuk seukuran gadis yang nampak lemah dan rapuh, ia sangatlah ceroboh dan sembrono.


“Shera!” Ezra memanggilnya, menepuk-nepuk pipinya dengan pelan untuk membangunkan gadis itu.


“Shera, kamu tidur di kamarmu sendiri ya? Jangan tidur di kamar kakak!” Ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


Namun setelah beberapa saat menunggu dan tidak ada jawaban, Ezra pun kini kembali menghela nafasnya panjang. Gadis itu rupanya telah benar-benar tertidur lelap hingga sulit untuk dibangunkan.


Mengetahui kalau di kamar ini tidak ada siapapun selain mereka berdua, Ezra pun mulai membayangkan hal-hal yang tidak senonoh.


Pandangannya pun kini tertuju pada bibir ranum gadis itu, sungguh sangat menggoda hingga ia ingin mencium dan melu**tnya dengan rakus.


Kemudian, ia pun beralih pada leher jenjangnya yang indah. Melihat kulitnya yang putih dan mulus, sesuatu di dalam dirinya pun kini seolah-olah sedang berbisik kepadanya untuk meninggalkan tanda merah hingga semua orang tahu kalau gadis itu adalah miliknya seorang.


Dan dibalik piyama tipis yang Shera kenakan, Ezra pun dapat melihat lengkuk pinggulnya yang indah.


Plak!!!!


Ia menampar pipinya sendiri dengan sangat keras, mencoba untuk menyadarkan pikirannya dari ketidakwarasan saat memandangi seorang gadis yang sedang tertidur lelap.


“S*al!! Gue bener-bener baj*ngan!!” Ezra bergumam dalam hati dan memaki-maki dirinya sendiri.


Telah berulang-ulang kali ia memperingatkan dirinya sendiri bahwa gadis itu bukanlah seseorang yang dapat ia miliki. Namun karena hatinya yang begitu liar dan tak terkontrol, Ezra pun menjadi sangat kesulitan untuk mengendalikan perasaannya.


Bagaimana bisa gadis itu terlihat sangat tenang? Jika saja Ezra tidak bisa mengendalikan diri, mungkin saat ini ia pasti akan menyerangnya dan menerkamnya seperti binatang buas.


Lagipula, sedari awal pintu kamar memang sudah terkunci rapat, itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk melancarkan aksinya. Akan tetapi, bagaimana mungkin ia sanggup menghancurkan kepercayaan gadis itu terhadap dirinya?


Ia pasti akan dibenci habis-habisan. Ketimbang menikmati kesenangan sesaat, Ezra lebih suka memilih untuk tetap tersiksa dengan menjaga kepercayaan gadis itu terhadap dirinya.


Hah~


Ezra lagi-lagi menghela nafas panjang, kemudian mengambil sebuah bantal dan membaringkan tubuhnya di atas lantai dengan hanya beralaskan karpet berbulu.

__ADS_1


“Kalau di sini mungkin aman lah!” Ia bergumam pelan, membenarkan posisi tubuhnya dan berbaring menyamping membelakangi ranjang.


Mungkin ia memang memiliki nafsu yang kuat, namun di balik semua itu ia pun juga mencintai gadis itu dengan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam. Di dalam dirinya sudah tertanam sebuah naluri untuk terus menjaganya dan melindunginya di setiap saat.


Biarkan malam ini Ezra merasakan dinginnya lantai tanpa selimut, setidaknya gadis itu bisa tetap aman dan hangat di atas ranjang.


Lalu, mengapa ia tidak memindahkan gadis itu saja? Jika mereka berada di kamarnya masing-masing, situasi pasti akan menjadi lebih baik.


“Huh, andai bisa segampang itu!” Ia mendengus dan sedikit tersenyum miris.


Mana mungkin ia bisa memeluknya dalam gendongan di saat pikirannya saja mulai kacau hanya dengan menatapnya?


...»»————>✥<————««...


Disisi lain, sebuah perahu mesin kini nampak sedang melaju dan berhenti di tengah-tengah laut. Dua orang yang ada di atasnya pun kini saling melirik dan menganggukkan kepalanya seakan-akan sedang menyetujui sesuatu.


Kemudian setelah itu, salah satu di antara mereka pun kini melirik seseorang yang nampak tidak sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan luka dan darah, jelas terlihat kalau orang itu kini sedang sekarat dan hampir mati.


Walaupun mereka tau mengenai hal itu, sepertinya mereka tetap tidak menaruh peduli. Alih-alih menolongnya, salah satu di antara mereka yang tidak lain adalah Finn pun kini mengikatkan sebuah beban berat pada kedua kaki orang tersebut.


Kemudian, dengan di bantu oleh rekannya ia pun melemparkan beban tersebut kedalam air hingga membuat orang tadi kini terseret dan ikut tercebur kedalam air.


Byurrr!!!!


Percikan dan gelombang air kini masih terlihat dikala orang itu tenggelam dengan beban berat yang terikat pada kedua kakinya. Finn yang melihatnya itupun kini hanya diam dan menyunggingkan bibirnya seperti orang b*adab.


Setelah itu ia pun meraih sebuah handphone dari saku celananya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Tuan, semuanya sudah beres!”


__ADS_2