Shera

Shera
Kecemburuan Ezra 2


__ADS_3

Ezra kini menghentikan langkahnya, nafasnya nampak begitu tidak beraturan dengan bulir-bulir keringat yang membasahi dahi serta lehernya. Pemuda itupun kemudian meraih handphone di saku celananya, melihat bahwa di sana tidak ada pesan sama sekali, ia pun mengerang dengan frustasi.


“Aaaah!!! Sial! Sial! Sial!!... Sebenarnya kemana sih perginya anak itu?!” Ia bertanya-tanya sembari mengacak-acak rambutnya.


Kemudian pandangannya pun kini menoleh ke arah lain, samar-samar ia dapat mendengar suara adiknya yang sedang berbicara dengan seseorang.


“Hahaha! Saya tidak menyangka kalau kamu begitu lucu, apakah sekarang kamu merasa malu?”


“Apaan sih, emang siapa yang malu?!”


Suara perbincangan itu terdengar di telinga Ezra, sedangkan Ezra yang mengenali siapa pemilik suara itupun segera melangkahkan kakinya mendekat.


“Maya!!” Panggilnya, dengan sedikit meninggikan suaranya.


Shera yang mendengar hal itupun kini segera menoleh, melihat kalau kakaknya kini sedang melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arahnya, gadis itupun tersenyum dan menghampirinya. “Kakak, maaf membuatmu khawatir!” Ucapnya.


Namun Ezra yang mendengar hal itupun kini semakin berwajah dingin, ia menatap Shera dengan penuh marah. Kemudian, pemuda itupun segera meraih tangan gadis itu dan menariknya paksa.


“Sini kamu!!” Ucapnya, yang memerintah Shera agar menurut dan ikut dengannya.


Namun Gilang yang menganggap kalau tindakan Ezra itu sedikit kasar pun segera berkata. “Tunggu!” Ia meraih tangan Shera yang satunya, menggenggamnya erat-erat hingga langkah kaki mereka terhenti. “Za, gue tau lo lagi khawatir, tapi jangan kasar-kasar gitu dong!” Tegurnya, yang membuat Ezra kini menoleh ke belakang dan menatapnya dengan sengit.


“Terus apa urusan lo? Dia ini adek gue!!” Ucap Ezra, yang berkata dengan begitu ketus.


Kemudian, ia pun menepis tangan Gilang yang menggenggam tangan Shera. Karena saat melihatnya, entah kenapa Ezra menjadi semakin kesal dan merasa sangat terganggu.


“Thanks udah bantu cariin dia, tapi sekarang gue mau bawa dia pulang!!” Ucapnya lagi, lalu segera melangkahkan kakinya pergi dengan masih menggandeng tangan adiknya itu.

__ADS_1


Gilang yang melihatnya pun kini mengerutkan dahi, sikap yang Ezra tunjukkan kepada Shera itu jelas terlihat sangat aneh dan ganjil. Itu sama sekali tidak terlihat seperti kemarahan seorang kakak kepada adiknya, namun hal itu lebih condong kepada perasaan cemburu dari seseorang yang melihat kekasihnya pergi dengan pria lain.


“Hah? Gak mungkin kan?!” Gilang bergumam pelan, kemudian menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tetap berfikir lurus. “Ck, apaan sih yang gue pikirin?!... Hal yang kayak gitu pasti gak mungkin lah, walaupun dia agak-agak ba**sat tapi gak mungkin dia suka sama adeknya sendiri!” Ucapnya lagi.


...»»————>✥<————««...


Di sisi lain, Ezra kini membawa Shera menuju ke mobilnya. Kemudian ia membuka pintu belakang mobil dan mendorong gadis itu agar segera masuk.


“Kemana aja kamu barusan tadi, hah?!!” Tanya Ezra, dengan sedikit membentak.


Sedangkan Shera yang di dorong seperti itupun kini terjatuh di atas kursi belakang mobil yang empuk, kemudian ia menyentuh salah satu pergelangan tangannya yang memerah akibat dari cengkraman tangan Ezra tadi.


“Awu, kakak sangat kasar!” Ucap gadis itu, yang mengeluhkan sikap Ezra terhadapnya.


Namun saat ia akan bangkit duduk, tiba-tiba Ezra pun ikut masuk ke dalam mobil dan merangkak di atas Shera hingga membuat gadis itu tidak memiliki pilihan lain selain terdiam dengan posisi terbaring di bawah tubuh Ezra.


“Kak?”


Tubuh mereka kini tidak saling menempel karena Ezra memang tidak benar-benar menindihnya, namun saat melihat ekspresi wajah pemuda itu yang terlihat begitu tidak baik. Shera pun diam-diam menelan air liurnya dengan kasar dan mengigit bibir bagian bawahnya dengan resah.


“Kak, kamu kenapa?” Tanyanya sekali lagi.


Namun bukannya menjawab, Ezra kini justru malah balik bertanya. “Kemana saja tadi kamu?” Tanyanya, dengan nafas yang masih naik turun.


Mendengar hal itu, Shera pun sedikit berfikir dan berkata. “Aku, aku hanya ingin berjalan-jalan!” Jawabnya, sembari berusaha agar tetap tenang dan tidak gugup.


Akan tetapi, Ezra yang merasa tidak puas dengan jawaban itupun kini memukulkan tangannya ke arah senderan mobil, menciptakan suara keras yang membuat Shera kini memejamkan kedua matanya lantaran merasa terkejut. “Kakak gak pernah ngijinin kamu buat keluyuran sembarangan seperti itu!!... Gimana kalau waktu itu kamu bener-bener hilang?! Dan lagian, kenapa pula kamu deket-deket sama si Gilang tadi hah?!!” Tanyanya, dengan pertanyaan bertubi-tubi dan nada bicara yang masih terdengar kasar.

__ADS_1


Sedangkan Shera yang diperlakukan seperti itupun kini berusaha mendorong tubuh Ezra agar menyingkir dari atasnya, namun sebelum ia berhasil, kedua tangannya pun segera di tahan di atas kepala oleh salah satu tangan Ezra yang besar.


“Kamu mau apa?!”


“Kamu yang maunya apa, hah?! Kamu pikir kakak bakalan suka gitu lihat kamu hilang terus tiba-tiba datang sama cowok lain?!!” Ucap Ezra, dengan penuh emosi.


Shera yang mendengar hal itu pun kini menatap sang kakak dengan terkejut, ia tidak berfikir bahwa hal sepele seperti itu akan membuat pemuda ini menjadi sangat marah terhadapnya. “Memang kenapa? Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar, dan lagian dia itukan teman kakak sendiri!... Kenapa kakak sangat curiga terhadap kami? Kami bahkan baru mengenal satu sama lain!” Ucap Shera, yang berusaha untuk membela diri.


Namun, ucapannya itu justru malah menambah amarah dalam diri Ezra yang mendengarnya. Pemuda itupun kini mendekatkan wajahnya, sedangkan Shera yang melihat hal itupun kini segera memalingkan wajah hingga sebuah bisikkan yang penuh akan penekanan terdengar di telinganya.


“Selama kakak masih ada, jangan harap kamu bisa deket-deket lagi sama cowok lain!!” Ucap Ezra, yang berbisik tepat di telinga adiknya itu.


Shera yang merasakan sebuah hembusan nafas yang menerpa daun telinganya pun kini menjadi sedikit merinding. Gadis itupun mulai memejamkan kedua matanya dan tak berani untuk menatap wajah sang kakak secara langsung.


“Menyingkir lah, kakak membuatku takut!” Ucap Shera, dengan suara lirih sembari mendorong tubuhnya Ezra yang berada di atasnya itu dengan pelan.


Sedangkan Ezra yang mendengar hal itupun kini tertegun untuk sesaat. Jika di pikir-pikir, sikapnya yang barusan itu lebih terlihat seperti seorang penjahat yang akan menerkam gadis ini. Apalagi dengan posisinya yang berada di atas tubuh gadis itu, membuat dirinya merasa seperti seorang ba**ngan.


Namun saat ia menatap wajah Shera yang begitu cantik dengan ekspresi gelisah yang terlihat sangat indah, sesuatu dalam dirinya pun seolah-olah sedang mendorongnya untuk semakin mendekat.


Ezra kini menatap bibir Shera yang nampak indah dan menggoda, kemudian ia pun mendekatkan wajahnyasecara perlahan dan mengikis jarak di antara mereka sedikit demi sedikit.


“Kakak!”


Begitu telinganya mendengar suara lembut gadis itu yang memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’. Ezra pun segera tersadar bahwa gadis yang berada di bawah tubuhnya saat ini itu adalah adik kandungnya sendiri.


Cup!

__ADS_1


Sebuah kecupan singkat pun kini mendarat di kening Shera, kemudian pemuda itupun segera bangkit dari atas tubuhnya dan berkata. “Sebaiknya kita segera pulang, ini sudah malam dan kamu juga harus sekolah!” Ucapnya, dengan memalingkan wajah dan menatap ke arah lain.


Hampir saja ia melakukan kesalahan, andai saja waktu itu Shera tidak menyadarkan dirinya, mungkin saja ia saat ini akan kehilangan kendali dan melakukan hal yang lebih bejat dari itu.


__ADS_2