Shera

Shera
Pemeriksaan rutin di sekolah


__ADS_3

Tak lama setelah itu, sosok Shera pun kini muncul dan terlihat sedang menuruni tangga dengan dandanan yang sudah rapih. Melihat kedatangan putrinya itu, Adam pun menghentikan aktifitasnya untuk sejenak dan menaruh koran yang ada di tangannya itu ke atas meja.


“Maya, cepat kemari dan makanlah!.... setelah itu papa akan mengantarmu ke sekolah. ” Ucapnya, sembari menatap penampilan putrinya itu dari atas hingga bawah.


Sedangkan Shera yang mendengar ucapan dari sang ayah itupun kini hanya mengangguk dan tersenyum dengan lembut. Kemudian, gadis itu mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang bersebelahan dengan sang ibu sembari berkata.


“Baik pa, tapi apakah papa tidak sedang melupakan sesuatu?... ” Tanyanya.


Lalu Adam yang tak mengerti maksud dari ucapan putrinya itupun kini mengerutkan dahi dan balik bertanya. “Apa maksudmu? memang apa yang papa lupakan?! ” Tanyanya, sembari berusaha untuk mengingat-ingat.


Mendengar hal itu, Shera pun kini menghela nafasnya pelan. Kemudian salah satu tangan gadis itu meraih segelas air putih dan meminumnya secara perlahan sebelum ia berkata. “Pa, bukankah kita sudah sepakat untuk mengganti panggilan ‘Maya’?.... saya kira papa akan mengingat hal itu! ” Ucapnya, dengan nada kesal namun masih terkesan lembut dan sopan.


Dan Adam yang mendengar hal itu pun kini akhirnya ingat. “Oh iya, maaf papa lupa! ” Ucapnya, yang meminta maaf dengan nada yang begitu acuh.


Seolah-olah permintaan maafnya itu hanya sekedar kata-kata kosong untuk membuat putrinya terhibur dan tidak marah lagi kepadanya.


Shera yang merasa tak puas dengan jawaban yang ayahnya berikan itupun kini hanya mendengus pelan. Kemudian, ia mengambil sebuah apel dan memotongnya menjadi beberapa bagian agar lebih mudah di makan.


Sedangkan Malina yang melihat hal itu pun kini diam-diam menghela nafasnya pelan. Putrinya itu benar-benar menjadi vegetarian, dan hal itupun membuatnya merasa bingung harus bereaksi seperti apa. “Shera, kalau kamu gak mau makan daging ya gak apa apa!..... tapi seenggaknya kamu harus isi perutmu itu dengan nasi atau lauk pauk yang lain! ” Tuturnya dengan lembut, kemudian ia melirik ke arah tempe dan tahu yang tersaji di atas meja. “Nah, makan yang itu juga!.... sedari kemarin makanmu dikit sekali, pantas aja kalau kamu pendek!” Ucapnya lagi.


Yang entah sedang menegur atau mengejek.


...»»————>✥<————««...


06.30 WIB


Sebuah mobil kini berhenti di salah satu pinggiran jalan yang terletak tak jauh dari lokasi sekolah berada. Setelah itu, seorang gadis pun turut dan keluar dari dalam mobil tersebut.

__ADS_1


“Kamu yakin mau di antar sampai sini saja? ” Tanya Adam kepada sang putri.


Dan Shera pun menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Tentu pa, saya ingin berjalan seperti anak-anak itu! ” ucapnya, sembari melirik ke arah segerombolan siswa-siswi yang kini sedang berjalan bersama menuju ke sekolah.


Mendengar hal itu, Adam pun hanya bisa menghela nafasnya dan mengiyakan keinginan dari sang putri. “Sebenarnya apa sih yang seru dari itu?.... tapi ya sudahlah, asal dia bahagia! ” Gumamnya dalam hati.


Padahal tadinya ia berniat untuk mengantarkan putrinya sampai ke depan gerbang sekolah, namun saat gadis itu melihat segerombolan siswa-siswi lain yang sedang berjalan kaki, ia tiba-tiba merengek dan meminta untuk segera di turunkan.


“Ya sudah, terserah kamu saja!” Ucap Adam, yang membuat kedua bola mata Shera berbinar dengan gembiranya.


Kemudian, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya ke arah gadis itu sembari berkata. “Ini uang jajannya!... simpan yang benar, jangan sampai hilang!! ” ucapnya.


Dan Shera pun hanya menerimanya saja walau sebenarnya ia tak tau harus di apakah uang-uangannya itu nanti. “Ah, Terima kasih banyak!....” Ucapnya, kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam saku agar tidak hilang. “.... Kalau begitu saya berangkat dulu ya pa, sampai jumpa sore nanti! ” Ucapnya lagi, sembari melambaikan tangannya dan berjalan menuju sekolah.


Melihat hal itu, Adam pun hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia diam-diam tersenyum sembari memandangi kepergian putrinya itu.


Entah ia harus merasa senang atau sedih dengan musibah ini. Namun yang pasti, perubahan dalam diri putrinya saat ini tidaklah begitu buruk.


Lihatlah gadis itu sekarang!.... ia kini nampak begitu semangat berjalan menuju sekolah bersama dengan anak-anak yang lain.


Dan hal itu adalah pemandangan yang cukup bagus untuk terus di lihat dan di nikmati.


Mungkin, sepertinya ia kini bisa sedikit merasa lega. Selama putri kecilnya itu senang, maka apapun keadaannya tidaklah masalah.


...»»————>✥<————««...


Di sisi lain, Arka bersama dengan para anggota OSIS yang lain kini nampaknya sedang melakukan pemeriksaan rutin di depan gerbang sekolah. Hal itu mereka lakukan setiap hari senin dan kamis guna menjaga ketertiban dan kedisiplinan dalam lingkungan sekolah.

__ADS_1


Beberapa anak kini sudah ada yang terkena sangsi, Rata-rata dari mereka adalah anak-anak berandalan sekolah yang tidak memakai seragam dengan lengkap.


Bahkan salah satu di antara mereka kini ada yang kedapatan menyemir rambut, dan hal itupun membuat Arka sebagai ketua OSIS mau tak mau harus memberikan teguran keras.


“Heh!! nih rambut kenapa?!!.... lu mau sekolah apa mau ngejamet hah?!! ” Tanya Arka dengan nada bicara yang begitu menyindir dan menusuk.


Membuat anak tadi hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya sembari menahan kesal.


“Terus di mana kaos kakinya?!.... sabuk sekolah juga gak di pakek?!!” Tanya Arka lagi.


Dan dari raut wajahnya, nampak jelas bahwa ia kini sedang merasa kesal dan marah.


Melihat bahwa anak yang ia tegur itu kini hanya diam dan tak menyahut, Arka pun tak mau ambil pusing lagi dan menyuruh salah satu anggota OSIS untuk mengantar anak ini ke guru BK.


Tentunya agar rambut si anak itu segera mendapatkan penanganan lebih lanjut, apa lagi saat ia mengingat kalau akhir-akir ini guru BK sudah membeli beberapa alat pemotong rambut yang baru.


“Eh, Ned!! Juned!!.... tolong lu urus nih anak, bawa aja dia ke ruang BK!!” Perintahnya, yang dengan segera di angguki oleh salah satu anggota OSIS itu.


Ah, iya!.... sebenarnya namanya itu bukan ‘Juned’ tapi ‘Juna’. Hanya saja nama yang sudah bagus-bugus itu entah kenapa di selewengkan oleh teman-temannya yang tidak bertanggung jawab.


...»»————>✥<————««...


Kembali kepada Arka yang kini nampak terbengong dan terdiam kaku sembari menatap ke suatu arah. “Loh, itu kan?.... kalau gak salah dia cewek yang ada di rumah sakit waktu itu!!...” Gumamnya, sembari terus memperhatikan sosok gadis yang kini tengah melangkahkan kakinya menuju gerbang tempat dirinya berada. “Wah, serius nih?! jadi kita benar-benar satu sekolah?!!.... berarti anak kelas sepuluh yang namanya Maya itu beneran dia dong?!!” Gumamnya lagi, yang entah kenapa tiba-tiba merasa panik dan heboh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : Jangan lupa komen💬 dan like👍.... terimakasih atas dukungannya 🥰

__ADS_1


__ADS_2