Shera

Shera
Apa hubungannya keduanya?


__ADS_3

Melihat betapa seriusnya ekspresi wajah sang kakak saat ini Shera pun menundukkan kepalanya, dari cara bicaranya Ezra kini tampaknya sedang kesal. Entah karena apa, Shera tidak tau alasannya.


“Tapi Bian tidak masalah dengan...” Belum sempat gadis itu menyelesaikan kata-katanya, suara Ezra yang begitu tegas pun terdengar dan menyahut ucapannya dengan dingin.


“Aku bilang kembalikan!” Perintahnya dengan begitu tegas. Ia sama sekali tidak membentak, namun nada bicara yang ia gunakan penuh dengan tekanan.


Mendengar hal itu, dengan wajah murung gadis itu pun terpaksa melepaskan jas yang ia gunakan dan mengembalikannya kepada pemiliknya. Setelah itu ia pun melirik ke arah Ezra dengan tatapan memelas untuk melihat apakah kakaknya itu masih marah atau tidak.


“Aku tidak salah!” Gadis itu bergumam dengan suara lirih, sungguh tidak mengerti mengapa kakaknya itu marah kepadanya.


Melihat hal itu, Abian pun kini tersenyum lembut ke arah Shera. Salah satu tangannya pun terulur dan membelai rambut gadis itu dengan lembut lalu berkata.


“Tidak apa-apa Shera, ini bukan masalah. Justru aku merasa seneng jika melihatmu gembira seperti tadi!” Ucapnya, yang membuat Shera kini menatapnya dengan tatapan penuh harap.


Seakan-akan meminta perlindungan dari amarah sang kakak yang makin lama tatapan matanya semakin tajam menusuk ke arahnya.


Sedangkan di sisi lain, Abian yang tidak ingin terus-menerus dalam suasana canggung seperti ini pun sedikit berdehem dan berkata. “Ekhem, untuk sekarang kondisinya baik-baik saja. Luka-luka di tubuhnya secara ajaib pulih dengan cepat, itu pertanda baik!” Ia terdiam untuk beberapa saat, kemudian melanjutkan. “Namun karena ingatannya belum pulih dan terkadang ia masih mengeluh sakit kepala sepertinya ia harus tetap menjalankan pemeriksaan rutin.” Ucapnya yang menjelaskan kondisi Shera saat ini.


Mendengar hal itu, Ezra pun kini menoleh dan menatap ke arah Shera. Melihat kalau gadis itu kini masih menatapnya dengan takut, pemuda itupun menghela nafas dan memperbaiki ekspresi wajahnya menjadi lebih santai sebelum ia berkata.


“Kemari-lah Shera, kakak sudah tidak marah lagi kepadamu.” Ucapnya dengan lembut, sedikit merentangkan kedua tangan agar gadis itu dapat memeluknya.


Melihat hal itu, Shera pun Shera berjalan ke arahnya dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan sang kakak. Terkadang ia memang bisa bersifat sangat manja. Dan di beberapa situasi ia juga bisa menjadi sangat nakal, pemarah, atau egois. Hal itu sangat tidak pasti. Semenjak mengalami kematian dan menjalani hari demi hari sebagai arwah gentayangan sifat dan emosinya pun terkadang menjadi tidak stabil.

__ADS_1


Di sisi lain, Abian yang melihat hal itupun kini tersenyum, kemudian ia pun berkata. “Wah, sepertinya Shera sangat manja dengan kakaknya?” Ucapnya yang ingin memulai percakapan yang ‘sederhana’ dan ‘nyaman’.


Namun entah kenapa sepertinya pihak lain tidak berfikir demikian. Ezra yang sedang memeluk Shera kini menatap ke arah Abian dengan sinis, kemudian dengan sengaja ia pun mengecup kepala gadis itu dan berkata. “Tentu, itu karena kami saling menyayangi!” Ucapnya, dengan begitu banyak arti.


Ezra saat ini sedang memberi peringatan kepada pria di hadapannya, menunjukkan pesan tak langsung yang memberitahukan kalau gadis ini adalah miliknya dan pria lain tidak bisa merebutnya dari genggaman tangannya.


Dan di sini Abian pun mulai bingung dengan hubungan kedua orang itu. Pasalnya kakak dari gadis yang ia sukai–Ezra nampaknya memandang adik perempuannya itu dari sudut yang berbeda.


Perlakuannya saat ini sama sekali tidak terlihat seperti seorang kakak yang melindungi adiknya, ia justru malah terlihat seperti seorang lelaki yang berusaha memblokir jalan pria lain agar tidak bisa mendekati gadis itu.


Cemburunya tidak normal, perlakuannya terhadap Shera pun sangat ganjil. Wajah keduanya memang memiliki banyak kemiripan, jelas sekali kalau mereka lahir dari rahim yang sama. Namun apakah benar suasana ganjil yang Abian rasakan saat ini hanyalah imajinasinya saja?


“Sebenarnya, ada apa dengan hubungan kakak beradik ini?” Gumamnya yang bertanya dalam hati.


Di bawah terik matahari yang cerah, dan di pinggiran kolam renang dengan air biru yang bersih. Arsenio kini nampak sedang menikmati harinya dengan berjemur sembari menutupi wajahnya dengan koran agar tidak merasa silau dengan sinar matahari di atasnya itu.


Setelah beberapa menit berlalu, ia pun akhirnya menunjukkan pergerakan. Pria itupun menyingkirkan koran yang menutupi wajahnya dan bangkit terduduk. Kemudian setelah itu, ia pun meraih jus buah yang terletak di atas meja dan meminumnya hingga menyisakan seperempat gelas.


Dan tak lama setelah itu, seseorang pun datang dan berjalan mendekat ke arahnya. Itu adalah seorang pria dengan setelah kemeja yang formal, berjalan ke arah Arsenio dengan memegang sebuah flashdisk di tangannya.


“Tuan Arsen!”


Pria itu memanggilnya saat jarak mereka telah lebih dekat. Dan tanpa menolah, Arsenio yang mendengar hal itupun menjawab.

__ADS_1


“Ada apa, Finn?”


Pria itu bertanya dengan dingin, ia sama sekali tidak menoleh dan tatapannya saat ini masih tertuju pada koran yang sedari tadi menutupi wajahnya.


“Saya membawakan apa yang Anda minta... ” Finn menyodorkan flashdisk di tangannya dan meletakkan di atas meja dekat sisa minuman Arsenio tadi. “...Di dalam sini anda dapat melihat semua informasi tentangnya, termasuk juga beberapa foto.” Ucapnya.


Mendengar hal itu, pandangan Arsenio yang semula tertuju kepada koran di tangannya pun kini segera beralih ke flashdisk yang Finn letakkan di atas meja.


“Hah, akhirnya!”


Tangan pria itu segera meraih flashdisk itu, mengangkatnya dengan dua jari dan memperhatikannya seakan-akan itu adalah sebuah barang yang sangat berharga. Dan sembari masih memandangi flashdisk di tangannya, ia pun berkata kepada Finn agar pria itu bisa segera pergi.


“Kerja bagus, Finn. Kau boleh pergi sekarang!” Ucapnya, dan Finn pun hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh dan segera pergi tanpa bersuara.


Setelah itu, Arsenio pun bangkit dari duduknya. Sebenarnya sedari tadi ia hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Niatnya memang ingin berjemur, siapa tahu kulitnya bisa menjadi lebih kecoklatan dan penampilannya bisa menjadi lebih seksi.


Namun karena ia terlalu lama berjemur di bawah teriknya sinar matahari, kulitnya pun kini menjadi sedikit berwarna merah. Namun nampaknya itu bukan masalah besar baginya, tubuhnya tetap terlihat indah dengan otot-otot yang terbentuk sempurna seperti pahatan patung Romawi.


Dan sembari membawa flashdisk yang Finn bawakan tadi di tangannya, Arsenio pun berjalan masuk ke arah vila yang ia sewa dan menancapkan flashdisk tersebut pada laptop miliknya.


“Mari kita lihat hasil pekerjaan mereka!” Pria itu bergumam pelan dengan sebuah senyum miring penuh kepuasan.


Tangannya kini sibuk menggeser-geser mouse yang tersambung di laptop, membuka file yang tersimpan di flashdisk tadi dan melihat isinya.

__ADS_1


“Setan kecil, demi tuhan kau cantik sekali sayang!” Gumamnya selagi memandangi kumpulan foto-foto milik seseorang.


__ADS_2