Shera

Shera
Katakan tidak!!!


__ADS_3

Pandangan mereka pun kini beralih dan menatap ke arah Shera, gadis itu juga terlihat bingung. Seakan-akan ia benar-benar tidak tahu mengenai penyebab wanita paruh baya tadi pergi begitu saja dengan raut wajah ketakutan.


“Shera, apa kamu tahu kenapa dia pergi?! ” Dokter Bian bertanya, masih dengan nada lembut seperti biasa.


Mendengar hal itu, Shera pun menggelengkan kepalanya. “Tidak tau!... ” Ia menundukkan kepalanya, sedikit mengerucutkan bibirnya kemudian berkata. “.... Shera cuman mau mendengar detak jantung, tapi bibi itu marah-marah dan langsung pergi!! ” Ucapnya sembari mengingat tangannya yang di tepis dengan kasar tadi.


Namun sepertinya Shera kini telah salah dalam mengartikan tindakan wanita paruh baya tadi, karena ia sebenarnya tidak sedang marah kepadanya, melainkan merasa takut dengan ucapan nya yang terasa begitu mengancam itu.


Di sisi lain, Sang kepala sekolah yang juga melihat kepergian wanita tadi pun kini melirik ke arah guru yang berdiri di sampingnya. Ekspresi wajahnya pun terlihat di penuhi dengan tanda tanya, seakan-akan sedang meminta sebuah penjelasan. “Pak, Itu betul keluarganya anak ini kan?! ” Tanyanya, untuk memastikan.


Sedangkan sang guru yang di tanyai itu pun kini menggelengkan kepalanya, kemudian dengan ragu ia berkata. “Sepertinya dia cuman pengasuh!.... tadi saya cari orang tuanya si Maya di rumahnya, tapi ternyata mereka tidak ada, mangkanya saya bawa saja dia ke sini!” Jawabnya.


Mendengar hal itu, sang kepala sekolah pun kini menghela nafasnya dengan berat. Kemudian, ia melirik ke arah Shera untuk beberapa saat sebelum mulutnya kembali terbuka dan berkata. “Ya sudah kalau begitu, tapi tadi kayanya orang tua si Maya akan segera datang kan?..... Mungkin kita tunggu aja sampai mereka datang menjemput anaknya ini?! ” Ucapnya, yang membuat guru tadi menganggukkan kepalanya dengan setuju.


Sedangkan Shera yang tak sengaja mendengar kata-kata kepala sekolah tadi pun kini mengedipkan kedua matanya beberapa kali, gadis itu nampak tertarik akan suatu hal. Dan karena sebegitu ingin tahunya, ia pun berkata. “Saya punya orang tua?.... punya rumah juga?!” Ia bertanya, menatap kedua guru tadi secara bergantian.


Mendengar hal itu, wali kelasnya pun kini mengerutkan dahinya. Dalam hati ia sama sekali tidak menyangka bahwa cedera di kepala muridnya akan berdampak sampai separah ini. “May__” Ia menghentikan ucapannya, teringat akan ucapan dokter tadi yang berkata bahwa muridnya itu hilang ingatan dan berfikir bahwa namanya adalah Shera dan bukan Maya. “Ekhem!!.... tentu saja kamu punya orang tua dan rumah, memangnya kamu gelandangan?.... tadi saya juga sudah berbicara sama ayah kamu melalui telepon, katanya dia akan segera datang ke sini!” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan dari gadis itu tadi.

__ADS_1


Shera yang mendengar jawaban itu pun kini menundukkan kepalanya ke bawah, tampak jelas dari raut wajahnya bahwa ia sekarang sedang memikirkan sesuatu. “Kapan mereka sampai?... ” Ia kembali bertanya, mendongakkan kepalanya untuk menatap guru tadi.


“Katanya sih sekitar jam tiga sore!.... Tapi gak apa-apa lah, kan kamu gak sendirian di sini.” Jawabnya, kemudian terdiam sejenak dan kembali berkata. “Atau kamu mau bapak antar pulau saja?..... mungkin kalau di rumah kamu bisa lebih nyaman, tapi harus nunggu izin dari dokternya dulu loh!” Ucapnya lagi, yang memberikan sebuah tawaran.


Mendengar hal itu, Shera pun kini termenung untuk sesaat. Sebuah kerutan kecil di keningnya pun perlahan-lahan mulai muncul di saat gadis itu terlarut dalam pikirannya sendiri.


“Pulang?.... ” ia bergumam dengan suara kecil, kemudian menatap guru tadi dengan penuh binar sembari berkata. “...Iya, saya mau! apa saya bisa pulang sekarang?” Tanyanya.


Dan guru itu pun menjawab. “Bisa saja kalau dokternya mengizinkan, tapi apa gak masalah?.... setelah bapak pikir-pikir lagi lukamu itu cukup parah loh!” Ucapnya, kemudian melanjutkan. “Bapak cuman khawatir kalau kamu tidak nyaman di sini, tapi kalau kondisinya semakin parah kan jadi tambah bahaya!! ” Ucapnya lagi.


Membuat Shera yang mendengarnya pun kini mengerutkan dahinya dengan kesal lantaran merasa kecewa dengan guru itu. “Tapi aku ingin pulang!.... ” Ia mendengus kasar, kemudian menoleh ke arah dokter Bian dengan tatapan penuh harap. “Bian, boleh ya?!.... Shera mau pulang, sekarang lukanya tidak sakit lagi kok!! ” Ucapnya, yang berusaha untuk membujuk dokter itu untuk menuruti keinginannya.


Sebenarnya, guru itu sadar bahwa dokter Bian kini sedang merasa kesal terhadapnya. Namun ia memilih untuk pura-pura tidak tahu dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Tolong maafkan saya ya dok!.... mau gimana lagi kalau mulut sudah terlanjur bicara? Jadi sekarang mohon bantuannya, ya!! ” Gumamnya, yang sedikit merasa bersalah dalam hati.


Di sisi lain, Shera yang merasa di abaikan itu pun kini menggembungkan kedua pipinya dengan raut wajah kesal. Kemudian tanpa rasa ragu sedikit pun, gadis itu kini menarik lengan baju dokter Bian hingga membuatnya tersentak dan menatap ke arahnya dengan ekspresi tertegun.


“Bian dengar? kenapa Shera di abaikan?!... ” gadis itu bertanya dengan nada ketus sembari mempertahankan ekspresi kesalnya yang menggemaskan. “Shera mau pulang, boleh ya!! ” Ucapnya lagi, yang benar-benar mendesak dokter itu untuk menuruti kemauannya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, dokter Bian pun terdiam untuk sesaat. Sebenarnya ia tahu bahwa gadis di hadapannya itu cukup licik dalam hal menggunakan mimik muka, dan karena itulah ia tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan.


“Tidak boleh!!.... Dengan luka seperti itu ia seharusnya mendapat rawat inap, walaupun sekarang anak itu tampak baik-baik saja, namun keadaan tak terduga bisa saja terjadi!!! ” Ia bergumam, memalingkan wajahnya ke sembarang arah guna menghindari tatapan penuh rayu yang gadis itu tunjukkan.


“Bian, boleh ya?!”


Suara lembut nan manja itu kembali terdengar di telinganya, membuat sang dokter tak kuasa untuk mengendalikan kedua matanya hingga pandangannya melirik ke arah wajah manis yang menatapnya dengan penuh harap. “Tidak, Jangan tertipu!!!.... Tolak!!! cepat tolak dia, Bian!!!.... katakan tidak kepadanya!!!.... ini semua juga demi kebaikannya, jadi jangan khawatir!!!.... jangan jadi laki-laki yang lembek, dan cepat katakan tidak kepadanya!!! ” Ucapnya, yang membentak dirinya sendiri dalam hati dengan begitu tegas.


Dan setelah beberapa saat ia terdiam untuk memantapkan hati, pada akhirnya dokter itu pun memasang wajah tegas, dan bersiap untuk membuka mulutnya guna menolak permintaan dari gadis itu.


Namun.....


“Baiklah, kamu boleh pulang!.... tapi simpan nomor saya untuk berjaga-jaga, dan jika terjadi sesuatu segera hubungi! ” Ucapnya, sembari memberikan sebuah kartu bertuliskan nama, alamat, dan nomor telepon.


Dan saat ia menyadari apa yang baru saja ia katakan, dokter itu pun mengumpat dalam hati. “S*al!!!..... b*doh!!!.... dun*gu!!!.... apa yang kau lakukan?!!!.... bukan itu yang ingin aku katakan!!!! ”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Author :Ckckckck!! 😒🤦‍♀️


__ADS_2