Shera

Shera
Kalah debat.


__ADS_3

Waktu sekolah kini hampir selesai, tak jauh dari gerbang sekolah saat ini terdapat sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Ezra yang ingin menjemput Shera itupun kini nampak terdiam di dalam mobil sembari memainkan handphone di tangannya, sesekali ia juga melirik ke arah gerbang yang tertutup untuk mengecek apakah gadis itu sudah keluar atau belum.


Dan saat bel pulang sekolah berbunyi dan anak-anak kini mulai keluar melalui gerbang, Ezra pun segera keluar dari dalam mobil dan melirik ke arah anak-anak sekolah itu untuk mencari keberadaan adiknya.


“Akhirnya sudah tiba waktu pulang, namun dimana anak itu?!” Gumamnya, yang bertanya dalam hati setelah lama berdiri dan menunggu.


Tak berselang lama, sosok Shera pun akhirnya muncul dan terlihat sedang melangkahkan kakinya keluar melalui gerbang. Namun begitu tatapannya beralih kepada sosok pemuda asing yang berjalan di samping gadis itu sembari mendorong motor besar berwarna hitam, Ezra pun segera mengerutkan dahinya dan menggertakkan giginya dengan kesal.


“Siapa dia?!!” Ia bergumam dan menggeram rendah, mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan segera mengambil langkah-kaki besar untuk menghampiri mereka berdua.


“Shera!!!” Panggilnya, dengan suara kencang.


Dan hal itupun membuat Shera dan pemuda di sampingnya tadi kini menoleh ke arahnya secara bersamaan.


“Kakak?” Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dengan ekspresi wajah bingung.


Kemudian, saat jarak mereka telah dekat Shera pun kembali berkata. “Kakak, kenapa kamu yang datang?.... Papa bilang dialah yang akan menjemputku saat pulang sekolah!” Ucapnya, yang bertanya dengan bingung.


Tak menghiraukan pertanyaan gadis itu, Ezra yang terbakar api cemburu itupun segera menarik Shera untuk mendekat kearahnya dan melingkarkan salah satu tangannya di pinggang ramping gadis itu.


Kemudian, kedua matanya pun menatap kearah Arka di saat mulutnya terbuka dan berkata. “Bukannya kakak sudah bilang kalau kamu tidak boleh dekat-dekat dengan cowok lain? Lalu siapa dia, hah?!” Tanyanya, yang secara terus terang menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Arka.


Mendengar hal itu, Shera pun mengerutkan dahinya. Kemudian ia mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan sang kakak walaupun pada akhirnya tetap gagal karena rasa keras kepala dalam diri pemuda itu.

__ADS_1


“Kenapa kakak tiba-tiba marah?! Dia ini teman ku!” Ucapnya, yang mencoba untuk memberi penjelasan.


Namun Ezra yang tak percaya itupun kini mendengus dan tertawa sinis, kemudian ia menatap Arka dengan dingin dan berkata. “Teman? Kamu sama dia?” Ia bertanya, kemudian kembali berkata. “Cewek sama cowok mana bisa berteman, anak ini pasti mau ngedeketin kamu!” Ucapnya lagi.


Sedangkan Arka yang mendengar ucapan kurang mengenakkan dari mulut Ezra pun kini mengerutkan dahinya dan berkata dengan nada bicara yang tak kalah dingin. “Kita sudah lama berteman, jadi kakak bisa bertanya langsung kepadanya apakah niat saya ini memang baik atau buruk!” Ucapnya.


Dan setelah terdiam yang sesaat, Arka pun kembali melanjutkan. “Hanya saja, walaupun sudah menjadi teman, baru kali ini saya mengetahui kalau dia punya kakak laki-laki!” Ucapnya lagi, yang seolah-olah sedang memberitahukan kepada Ezra bahwa gadis itu tidak pernah menceritakan tentang dirinya lantaran tidak menganggapnya sebagai kakak.


Mendengar hal itu, tentu saja Ezra merasa sangat kesal. Namun sebelum ia sempat membuka mulut dan membalas perkataan dari bocah yang masih bau kencur itu, tiba-tiba suara Shera pun terdengar dan menghentikannya.


“Kakak sudahlah, ayo kita pergi!” Ucap Shera, sembari berusaha keras untuk menarik tangan kakaknya itu.


“Kakak!!”


Setelah itu, sebelum ia akan masuk kedalam mobil. Shera pun terlebih dahulu melirik ke arah Arka dan berkata. “Arka tolong maafkan dia, kakakku hanya sedang khawatir!” Ia terdiam, kemudian kembali berkata. “Emm, aku harus pergi!... Tapi kau bisa menghubungi ku nanti, kamu punya nomor ku kan?” Tanyanya, yang hanya di balas dengan anggukkan kecil dari pemuda itu.


Kemudian, Shera pun segera masuk kedalam mobil. Ezra yang tak ingin berlama-lama membiarkan gadis itu memandangi pria lain pun segera menancapkan gas dan pergi dari situ dengan masih menelan air cuka (cemburu).


Di saat mobil itu melaju pergi dan perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangan mata, Arka yang masih berdiri bersama dengan motor kesayangannya pun kini diam-diam mendengus dan berkata dalam hati.


“Hem, ternyata bener kalau cewek cantik itu pasti punya ayah atau saudara laki-laki yang galak!” Gumamnya, kemudian segera menaiki motor miliknya dan bersiap untuk pergi.


Namun sebelum itu, suara dering panggilan pun terdengar dan mengalihkan perhatiannya. Arka yang melihat nama yang tertera pada nomor itupun kini segera mengangkat panggilan dan berbicara kepada seseorang di sebrang sana.

__ADS_1


“Ada apa?!” Tanyanya, yang tidak ingin berbasa-basi.


Dan orang yang menelepon tadi pun kini menjawab. “Ada info nih bro, besok malam bisa hadir gak?”


“Besok? Jam?”


“Setengah sepuluh, nanti gua sherlock di mana tempatnya oke?!”


“Oke!”


...»»————>✥<————««...


Sebuah mobil kini berhenti di perempatan lampu merah, Shera yang duduk di dalam sembari mendengarkan ocehan dari Ezra pun kini menutup telinganya dengan kedua tangan sembari memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ekspresi kesal.


“Shera, kamu dengar apa yang kakak katakan tadi?!” Tanya Ezra dengan begitu tegas.


Namun gadis itu kini justru menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak, tidak dengar!!”


“Kakak sangat cerewet, sangat galak sama seperti papa!!” Ucap gadis itu.


Melihat adiknya yang mulai membangkang, Ezra pun kini menggebrakkan tangannya di pintu mobil hingga membuat gadis itu sedikit tersentak kaget. “Kalau kakak sedang bicara kamu harus mendengarkan!!.... Ingat, kamu itu masih terlalu kecil buat deket-deketan sama cowok!!” Ucapnya, dengan nada bicarakan yang meninggi dan terdengar seperti sedang membentak.


Namun Shera yang tak ingin kalah debat pun kini balik berkata. “Bukannya aku sudah bilang kalau kami hanya sekedar teman? Kenapa kakak tidak mengerti dan malah memarahi ku?!” Tanyanya, kemudian ia kembali berkata. “Dan lagi, kenapa kakak memakai alasan bahwa aku masih belum cukup umur?!.... Jika kakak lupa dengan umur adik sendiri maka aku akan mengingatkan mu, umur ku sekarang sudah... sudah...” Shera menggantung ucapannya, gadis itu kini nampak ragu dan tidak bisal lagi melanjutkan kata-kata nya lantaran ia sendiri lupa dengan umurnya saat ini.

__ADS_1


“Sudah berapa hem?!” Ezra bertanya kepada gadis itu sembari menaikkan salah satu alisnya, kemudian ia tertawa sinis dan berkata. “Huh, kamu bahkan tidak ingat dengan umurmu sendiri, tapi masih berani berdekatan dengan cowok lain? Jangan ngawur kamu!” Ucapnya lagi, kemudian segera melajukan mobilnya setelah lampu jalanan telah berganti warna menjadi hijau.


__ADS_2