
Mendengar hal itu, Shera pun semakin mengerutkan dahinya. Tidakkah pemuda ini melihat bahwa langit sudah sangat gelap dan hari pun juga sudah sangat petang? Di tengah malam seperti ini, memang kemana ia akan membawanya jalan-jalan?
“Kakak, kamu serius? Di tengah malam seperti ini?!” Tanyanya, dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.
Ezra pun kini memutar bola matanya malas, kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dada sembari berkata. “Tengah malam? Ini masih jam sebelas kurang, tengah malam apanya?” Ucapnya dengan begitu santai.
Sedangkan Shera yang mendengar hal itu pun kini benar-benar merasa bingung, apakah anak muda zaman sekarang memang seperti ini? Jam sebelas itu sama saja dengan tengah malam bukan?!
Jika di era Batavia saat ia masih hidup sebagai Shera, orang tua pasti akan langsung menghukum anak-anaknya jika mereka ketahuan keluar rumah melebihi jam sembilan malam.
Bahkan jam sembilan malam itu juga termaksud waktu yang sangat-sangat petang. Namun sekarang, pemuda di hadapannya itu kini justru malah mengajaknya pergi di waktu-waktu seperti ini.
“Apakah tuan Adam tau mengenai hal ini, kak?” Shera bertanya dengan tatapan mata yang penuh akan kecurigaan.
Melihat dan mendengar apa yang adiknya itu katakan, Ezra pun kini mengerutkan dahinya. “Tuan Adam? weh, kamu itu anaknya!” Ucapnya, dengan sedikit memberikan penekanan di saat ia mendengar panggilan yang adiknya itu gunakan untuk memanggil ayahnya sendiri. “Lagian sekarang semua orang lagi tidur, jadi gak apa-apalah kalau kita keluar sebentar!... Dan kamu gak usah khawatir, gak akan ada apa-apa kok, kan ada kakak di sini!” Ucapnya lagi, yang berusaha untuk menyakinkan Shera agar mau ikut dengannya.
Namun Shera yang masih merasa keberatan itupun kini menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkacak pinggang dan berkata. “Tidak, kamu tidak bisa pergi sekarang! Setidaknya dapatkan izin dari orang tua terlebih dahulu, jangan menjadi anak yang nakal!!” Ucapnya dengan tegas.
Mungkin kata-katanya itu terdengar seperti orang tua yang sedang menasehati anaknya. Namun jika di ingat-ingat lagi, usia Shera sebenarnya bahkan jauh lebih tua dari usia Adam, ayahnya.
“Ck, gak usah! Gak perlu, buat apa?!” Ezra masih memaksa, kemudian ia kembali berkata. “Lagian kakak cuman mau kumpul-kumpul sama temen lama, sekalian kakak mau ngajak kamu jalan-jalan, kalau kamu gak mau ya udah, kakak bakal pergi sendiri!” Ucapnya, lalu berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya menuju tangga untuk turun ke lantai bawah.
Mendengar hal itu, Shera pun kini menjadi sedikit panik. Walaupun secara harfiah usia Ezra memang jauh lebih tua darinya, namun bagi Shera yang telah hidup selama berpuluh-puluh tahun, pemuda itu masihlah seorang anak kecil di matanya.
“Pergi sendirian di malam hari? Apakah kamu gila?!! Bagaimana jika terjadi sesuatu?!.... Hei anak muda, aku peringatkan kepadamu untuk jangan pergi di malam hari seperti ini!!” Ucapnya, dengan sedikit meninggikan nada bicaranya agar terdengar lebih tegas.
__ADS_1
Namun, Ezra yang tidak ingin mendengarkan itupun kini hanya menyunggingkan bibirnya. Kemudian sembari menuruni tangga ia pun berkata kepada Shera. “Kalau kamu gak ikut ya udah, kakak pergi sendiri!... Tapi kalau kamu mau ikut ya ayo, tapi jangan bilang-bilang ke papa!!” Ucapnya, sembari melirik ke belakang dan menatap Shera yang kini juga sedang menuruni tangga di belakangnya.
Mendengar ucapan Ezra yang seperti itu, Shera pun kini memasang wajah kesal. Kemudian sembari berusaha untuk mengejar sang kakak, gadis itupun berkata. “Kenapa kamu tidak mau mendengarkanku?! Memang apa yang bisa di lihat di malam hari?! Jalan akan sangat gelap, bagaimana jika nanti terjadi kecelakaan?!” Ucapnya, yang masih berusaha untuk menghentikan Ezra.
“Gelap apanya? Kita ini tinggal di kota, lewat jalan raya bukan di sawah!” Ucapnya, kemudian menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh Shera. “Udah deh, daripada kamu khawatir begitu mending kamu ikut aja!... Teman-teman kakak orangnya pada asyik kok, sekalian nanti kakak kenalin kamu ke mereka.” Ucapnya, sembari menunjukkan sebuah senyum yang begitu hangat.
Melihat hal itu, Shera pun pada akhirnya luluh dan menerima uluran tangan dari Ezra. Pemuda yang satu ini memang benar-benar sulit untuk dihentikan, dan hal itupun membuatnya menyerah dan memilih untuk ikut dengannya saja.
“Yah, setidaknya aku dapat mengawasi dan memastikan keselamatannya nanti!” Gumamnya dalam hati.
Kedua kakak beradik itupun pada akhirnya keluar dari rumah, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana tanpa meminta izin dari kedua orang tuannya.
Dan di saat mobil yang mereka naiki melaju meninggalkan tempat itu. Tanpa di sadari, sepasang mata pun kini terlihat sedang memandangi kepergian mereka dari balik tirai jendela yang berada di lantai dua.
Mengetahui perbuatan kakak beradik itu, sudut bibirnya pun kini terangkat dan membentuk sebuah senyuman yang nampak sangat mencurigakan.
...»»————>✥<————««...
Sebuah mobil kini melaju dan membelah jalanan malam yang masih terlihat ramai. Dan saat akan melintasi perempatan jalan, lampu yang semula hijau itupun kini berganti warna menjadi merah.
Memaksa beberapa pengendara yang akan melintas untuk berhenti dan menunggu selama beberapa saat.
Shera yang berada di dalam mobil itupun kini nampak sedang duduk sembari menengok ke arah jendela mobil yang setengah terbuka. Semilir angin malam yang berhembus melewati cela-cela jendela itupun kini menerpa wajah gadis itu dengan lembut.
Untuk sesaat ia terdiam dan termenung, kedua matanya pun kini terpejam di saat angin malam yang sejuk itu menerpa dan seolah-olah sedang membelai wajahnya dengan lembut.
__ADS_1
Di sisi lain, Ezra yang sedari tadi selalu fokus menatap jalanan pun kini menoleh. Wajah pemuda itu nampak tertegun untuk beberapa saat. Gadis yang duduk di sebelahnya itu jelas adalah adik kandungnya sendiri. Namun saat melihat betapa cantik dan manisnya dia, sebuah rasa yang begitu menggelitik hati pun mengacaukan pikirannya.
“Ternyata benar, semuanya memang sudah berubah!”
Gadis itu tiba-tiba membuka mulut, mengucapkan sebuah kalimat yang entah apa maksudnya.
Ezra yang mendengar hal itupun kini mengerutkan dahinya. “Berubah? Emang apa yang berubah?” Tanyanya, kemudian ia kembali berkata. “Belakangan ini kamu jadi aneh deh May, gak kayak dulu!... Kakak aja sempet pangling, kamu yang sekarang sama yang dulu itu bener-bener beda banget, gak ada mirip-miripnya samasekali!” Ucapnya, yang membuat gadis itu kini sedikit menoleh dan melirik dirinya.
Dan dengan sikap yang begitu tenang, Shera pun kini berkata. “Lantas, apakah hal itu membuat kakak merasa terganggu dengan keberadaan saya?” Tangannya balik.
Menanggapi ucapan adiknya, Ezra pun menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tentu saja tidak, mana mungkin kakak begitu!” Ia terdiam, mengulurkan tangannya dan membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu. “Kakak cuman bingung, kamu yang sekarang ini bikin kakak merasa aneh, tapi itu bukan berarti bahwa kakak tidak sayang lagi sama kamu!... Kamu tetap adik kesayangan kakak.” Ucapnya dengan lembut.
Salah satu tangannya pun kini membelai wajah gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan Shera yang mendengar hal itupun kini tersenyum tipis, kemudian ia mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Ezra yang kini sedang membelai wajahnya dengan lembut.
“Saya senang mendengarnya, kakak adalah orang yang sangat baik!” Ucapnya, yang membuat jantung pemuda itu kini berdebar kencang di buatnya.
“Apa-apaan ini?!!” Ezra bergumam dalam hati, jujur saja kini ia merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Maya adalah adik perempuannya, dan Ezra tahu betul akan kenyataan itu. Namun, hanya dengan mendengar satu kalimat yang terucap dari bibirnya, bagaimana bisa perasaan seperti ini muncul?!
Apakah hal seperti ini normal?
Apakah perasaan yang ia rasakan terhadap adiknya itu masih dalam batas kewajaran?
__ADS_1
Entahlah, ia benar-benar merasa bingung!