
Gadis itu kini menatap kosong ke arah langit-langit ruangan, ia nampak melamun untuk beberapa saat dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Kedua matanya pun berkedip-kedip dengan lembut, kemudian ia menghela nafasnya dengan panjang lalu berkata.
“Ini membuatku merasa tidak nyaman, haruskah aku bertahan dengan sikap kurang ajarnya?... namun jika aku membunuhnya dengan tanganku sendiri, maka kekuatan ku akan menghilang!” Gumamnya, yang berbicara kepada dirinya sendiri.
Bagi mahluk seperti Shera, sebuah janji tidak bisa diucapkan dengan sembarang kata. Karena jika sampai melanggarnya, maka ia akan menerima sebuah konsekuensi yang sangat berat. Itu akan terjadi tepat setelah perjanjian yang ia ucapkan di langgar, dan karena itulah ia tidak bisa berbuat macam-macam terhadap anggota keluarga ini.
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Gadis itu bertanya kepada dirinya sendiri, hingga sebuah ide tiba-tiba muncul dan terlintas dari benak pikirannya.
Kedua sudut bibir Shera kini melengkung dan membentuk sebuah seringai keji, pancaran matanya yang dalam itu menunjukkan sebuah kilatan berbahaya. Dan sembari memainkan anak-anak rambutnya yang tergerai, ia pun kembali bergumam. “Haha, mengapa aku harus mengotori tanganku sendiri?.... Masih ada tangan orang lain untuk dipinjam, bukan?” Gumamnya, sembari terkekeh kecil.
Kemudian, ia pun sedikit berfikir. Menyewa dan membayar orang lain untuk melenyapkan nyawa pamannya itu mungkin akan kurang efektif, karena jika mereka ketahuan dan di tangkap oleh pihak berwenang, maka kemungkinan besar namanya juga akan terseret.
Karena mulut orang-orang seperti mereka tidak akan begitu rapat terkunci, kecuali jika ia memiliki sesuatu untuk di jadikan ancaman bagi mereka.
“Aku jelas tidak akan melibatkan orang-orang seperti itu!... Mereka sangat tidak berguna dan hanya akan menambah masalah!” Ucapnya, lalu ia kembali berfikir ulang.
Gadis itu jelas membutuhkan bantuan orang lain untuk mewujudkan rencananya, namun jika ia menunjukkan secara terus terang bahwa ia berniat untuk membunuh pamannya itu, maka konsekuensinya akan sangat besar, ia bisa saja di jatuhi hukuman atau di penjara seumur hidup.
“Ah, mari pikirkan cara lain yang lebih baik!” Ia menggelengkan kepalanya, jelas saja gadis itu tidak ingin berakhir di dalam jeruji besi.
__ADS_1
Jika pamannya itu mati, maka Shera akan dianggap sebagai pelaku kejahatan. Namun, bagaimana jadinya jika itu sedikit di rekayasa?... Seperti menjadikan dirinya sebagai korban dan pamannya sebagai pelaku mungkin?
“Yah, mungkin itu tidak akan sampai membuatnya lenyap dari dunia ini. Namun setidaknya ia bisa menjauh dan lenyap untuk waktu yang lama dari pandanganku!” Ia terdiam, menyunggingkan bibirnya dan kembali berkata. “Namun untuk mewujudkan itu, aku memerlukan waktu dan situasi yang tepat!” Gumamnya lagi.
...»»————>✥<————««...
Hari kini masih sangat subuh, namun Shera segera membuka kedua matanya di kala ia mendengar suara decitan dari jendela yang terbuka. Gadis itupun kini menolehkan wajahnya, melihat bahwa di sana ada sosok hitam besar yang sedang menatap ke arahnya, ia pun tersenyum lebar dan segera bangkit dari tempat tidur.
“Kau sudah kembali?”
“Jadi bagaimana? Aku harap kau sudah cukup kenyang dengan anak-anak itu!” Ucapnya, yang berbicara dengan mahluk itu.
Akan tetapi, alih-alih merasa takut dengan hal itu. Shera kini justru terkekeh kecil, dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala mahluk yang menyeramkan itu. “Hem? Jangan seperti itu, aku juga menginginkan jiwa mereka yang masih muda!” Ucapnya, kemudian ia kembali berkata. “Aku tidak perduli kau mau memakan mereka sampai seperti apa, namun setiap jiwa yang dikorbankan itu adalah milikku! Jadi jangan menuntut lebih, kalau tidak kamu sendirilah yang akan aku makan!” Ucapnya lagi, dengan sebuah kilatan berbahaya pada pancaran matanya itu.
Mahluk itupun kini mulai berubah menjadi asap, perlahan-lahan mulai menghilang dan bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan.
Shera pun kini membalikkan badannya, berjalan ke arah cermin dan menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu cantik. “Ini bagus!” Ia sedikit bergumam pelan, menyentuh kulit wajahnya yang semakin terasa lembut dan halus itu. “Aku tidak menyangka bahwa efeknya juga bisa dirasakan dari luar!... Jiwa yang masih muda memang terasa sangat segar dan mengagumkan, andai aku bisa mendapatkan lebih!!” Gumamnya, dengan masih menatap pantulan dirinya di cermin itu.
Namun setelah beberapa saat, tiba-tiba ia mendengar suara dari lantai bawah. Samar-samar itu terdengar seperti suara seseorang yang sedang memasak. Mengetahui hal itu, Shera pun kini segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Gadis itupun kemudian turun kebawah dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
“Selamat pagi, ma!” Sapa Shera, ketika ia telah berada di dapur dan melihat ibunya yang kini sedang sibuk memasak.
Di sisi lain, Malina yang mendengar hal itupun kini segera menoleh. Melihat kedatangan putrinya, wanita itupun kini tersenyum lembut dan berkata. “Selamat pagi juga sayang!” Ucapnya, yang membalas sapaan tadi dengan begitu hangat.
Sedangkan Shera yang melihat apa yang ibunya itu lakukan pun kini mengerutkan dahi, matahari masih belum menampakkan dirinya namun wanita ini sudah bangun dan sibuk di dapur untuk memasak.
“Apakah setiap hari mama memang selalu bangun dan memasak seperti ini?” Tanya Shera, dengan raut wajah yang nampak begitu heran.
Malina yang tengah sibuk memotong bawang pun kini melirik putrinya untuk sekilas, kemudian ia tersenyum dan berkata. “Tidak, biasanya yang masak itu bibi!... Tapi karena bibi sekarang sudah gak ada, jadi untuk sementara mama yang bikin sarapan.” Ucapnya, lalu kemudian ia kembali berkata. “Kenapa? Kamu mau ikut bantu juga?” Tanyanya balik.
Shera yang mendengar hal itupun kini menggelengkan kepalanya dengan ragu. Dulunya ia adalah seorang nona, jadi segala kebutuhan termasuk makanan akan di sediakan oleh pembantu. Pengetahuannya tentang dunia dapur pun sangat minim, karena waktu itu ia hanya fokus kepada pendidikan dan buku-buku yang ia baca.
“Maaf, tapi saya tidak bisa memasak!” Ucapnya, dengan wajah yang nampak begitu bersalah.
Melihat hal itu, Malina pun terkekeh kecil. Kemudian ia melambai-lambai kan tangannya dan menyuruh putrinya itu untuk mendekati. “Tidak apa, kamu bisa belajar mulai dari sekarang!” Ucapnya, yang masih menunjukkan sikap yang begitu membuat.
Setelah itu ia pun menyerahkan pisau di tangannya, kemudian berkata kepada putrinya itu. “Kalau begitu kamu bantu potong bawang sama sayur-sayuran ini aja, bisa kan?” Tanyanya, dan di jawab dengan anggukkan kecil dari gadis muda itu.
Shera pun kini meraih pisau dapur itu dan mulai memotong bawang serta sayuran tadi dengan begitu hati-hati. Walaupun hal seperti ini masih baru baginya, namun rupanya itu tidak begitu sulit.
__ADS_1
Dan sembari terus memotong sayuran tadi, gadis itupun membuka mulutnya dan kembali mengajukan sebuah pertanyaan. “Kemana bibi yang ibu bicarakan itu pergi? Lalu apakah nantinya akan ada orang lain yang menggantikannya?” Tanyanya, yang membuat Malina kini terdiam untuk sesaat.