
Dan untuk alsan yang tidak jelas, sebutir air mata kini keluar dan mengalir menuruni wajah cantik gadis itu secara perlahan. Membuat mata sang ayah terbelalak lebar lantaran terkejut saat melihat wajah putrinya yang kini basah dengan air mata.
“Nak, kau kenapa?!! ” Pria itu bertanya dengan panik, kemudian melangkahkan kakinya mendekat dan merangkul tubuh mungil putrinya itu ke dalam dekapannya yang hangat. “Apa yang membuatmu menangis?.... apakah ada yang sakit?! ” Tanyanya lagi, sembari menundukkan kepalanya dan menatap wajah putrinya itu.
Sedangkan Shera yang di tanyai itupun kini hanya menggelengkan kepalanya pelan, jujur saja ia juga tidak mengetahui penyebab pasti mengenai air mata yang keluar secara tiba-tiba ini.
“Saya tidak tau, pa!.... mungkin ada debu yang masuk... hiks!... hiks!! ” gadis itu berusaha untuk memberikan sebuah alasan, namun entah kenapa ia justru malah menangis dengan terisak.
Menyadari hal itu, Shera pun kini mulai merasa bingung. Saat ini ia tidak sedang bersedih, namun air matanya itu terus menerus keluar dengan begitu deras. “Apa ini? kenapa aku menangis?... ” Ia bergumam, dan bertanya-tanya dalam hati. “... Berhenti menangis, aku tidak ingin terlihat konyol di hadapan orang lain!! ” Gumamnya lagi, sembari menghapus air mata dengan lengan bajunya.
“Maya, kamu kenapa nak?!! ”
Suaras Adam kembali terdengar di telinganya, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah panik sang ayah yang kini juga sedang menatap ke arahnya. “Saya tidak apa-apa!... ” ia menjawab dengan suara lirih yang terdengar serak, kemudian menundukkan kepalanya guna menyembunyikan wajah sedihnya itu. “... ini tidak bisa di hentikan, saya tidak bisa berhenti menangis.... hiks.... hiks.... padahal... padahal saya tidak sedang bersedih, kenapa seperti ini?!!” Gumamnya, masih dengan air mata dan suara isakan tangis di sela-sela ucapnya.
Melihat hal itu, Adam pun kini mengeratkan pelukannya. Kemudian salah satu tangannya pun ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung gadis itu agar ia bisa lebih tenang. “Sudahlah, tidak apa-apa!... ” ia berkata dengan suara lembut. “... Walaupun papa juga tidak tahu mengapa kau menangis, namun menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik!” Ucapnya lagi.
Adam mungkin berfikir bahwa putrinya itu kini memiliki gangguan mental, karena hal itu bisa saja terjadi akibat efek samping dari luka di kepalanya saat ini.
Dan untuk saat ini, sepertinya ia harus sedikit sabar dan berhati-hati. Semenjak bangun dari tidur paginya, sikap dan prilaku gadis itu memang sudah terasa aneh. Apalagi dengan kenyataan bahwa putrinya itu kini mengalami hilang ingatan.
...»»————>✥<————««...
__ADS_1
Di sisi lain, Malina yang tidak menemukan keberadaan Shera di kamarnya pun kini segera turun dari lantai atas melewati anak tangga. Kemudian, ia berjalan ke arah ruang keluarga yang tempatnya memang terletak tidak jauh dari posisinya saat ini.
“Sebenarnya kemana anak itu pergi?! ” Ia bergumam dan bertanya-tanya dalam hati, raut wajahnya pun masih nampak begitu gusar.
“Semoga saja dia segera ditemukan!.... bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?! ” Gumamnya lagi, yang merasa begitu khawatir.
Dan saat ia berada di ruang keluarga, ekspresi wajahnya pun kini mulai membaik. Akhirnya wanita itu dapat melihat sosok putrinya yang kini sedang berada dalam pelukan sang ayah.
Namun saat menyadari bahwa gadis itu kini sedang menangis, ia pun mengerutkan dahinya dan kembali memasang raut wajah khawatir. “Loh, nak! kamu kenapa?!... ” Ia bertanya dengan suara yang cukup keras.
Membuat Adam yang sedari tadi fokus untuk menenangkan Shera pun kini menoleh dan menatap ke arah sang istri. “Entahlah, tadi dia tiba-tiba menangis!” Jawabnya dengan jujur.
Dan setelah beberapa saat, suara tangisan gadis itupun kini meredah dan perlahan-laham mulai surut hingga suasana di ruangan itu menjadi sangaat hening.
Sedangkan Shera yang mendengar pertanyaan dari Adam pun kini menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban iya. Kemudian, gadis itu melepaskan diri dari pelukan sang ayah sembari berkata. “Iya pa, saya baik-baik saja!.... emm, dan maaf sudah membuat pakaian papa basah, saya sungguh merasa malu!” Ucapnya, sembari melirik pakaian Adam yang basah dengan air matanya.
Mendengar hal itu, Adam pun menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian mengulurkan tangannya dan mengusap bekas-bekas air mata di wajah putrinya yang cantik. “Bukan masalah besar, papa tidak perduli soal itu! ” Jawabnya dengan lembut.
Kemudian, pria itu menggiring putrinya agar duduk di sebuah sofa panjang yang berada di ruangan tersebut. “Tenangkan dirimu sebentar, papa akan menghubungi dokter yang menangani mu kemarin! ” Ucapnya, sembari mengeluarkan kartu nama yang Shera berikan tadi.
Mendengar hal itu, Shera pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa berbicara sedikit pun. Lalu, gadis itu kini menundukkan kepalanya, mengabaikan lingkungan sekitar dan termenung sembari memikirkan penyebab dirinya menangis tadi.
__ADS_1
“Sebenarnya kenapa aku seperti itu?” Ia bertanya dalam hati, kedua alisnya pun kini saling bertautan di saat ia termenung dalam pikirannya sendiri. “Aku benar-benar tidak bisa mengerti!... padahal aku tidak sedang bersedih, lalu untuk alasan apa semua air mata itu keluar?!.... Mungkinkah aku masih belum terbiasa dengan tubuh ini?... yah, jika di pikir-pikir itu memang wajar! ” Gumamnya lagi, yang menduga-duga.
Di sisi lain, Malina yang merasa khawatir dengan kondisi putrinya itu pun kini duduk di samping Shera. Kemudian kedua tangannya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. “Nak, kalau ada apa-apa cerita sama mama ya?!.... jangan di simpan sendiri. ” Tuturnya.
Sedangkan Shera yang merasa bahwa wanita itu begitu perhatian terhadapnya pun kini tersenyum lembut, kemudian gadis itu balik menggenggam tangan ibunya dan berkata. “Baik, terimakasih karena sudah mengkhawatirkan saya!.... anda adalah ibu yang sangat baik dan perhatian. ” Ucapnya.
Mendengar perkataan putrinya itu, Malina pun hanya tersenyum simpul. Ini adalah kali pertama ia dipuji oleh anaknya sendiri, namun entah kenapa pujian dari putrinya itu terdengar begitu asing di telinganya.
Mungkin karena gadis itu kini berbicara dengan bahasa formal kepadanya, membuat dirinya merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.
Kemudian, untuk mengalihkan pembicaraan dan mengganti suasana, Malina pun kini melirik foto anak pertamanya, lalu kembali melirik Shera dan berkata. “Kakakmu itu sangat menyayangimu, nak! ” Gumamnya, dengan suara lirih namun masih bisa di dengar oleh Shera.
Gadis itu nampak terdiam untuk sesaat, sepertinya ia sadar bahwa wanita itu kini sedang berusaha untuk mengganti topik pembicaraan. “Begitukah? jadi pemuda ini memang benar kakak laki-laki saya?... ” Ucapnya, dengan nada bertanya.
Mendengar hal itu, Malina pun kini menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum lembut. Kemudian salah satu tangannya pun terulur dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah sang putri. “Iya, dia kakak mu, tidakkah kau ingat nak?... saat dia belum pergi ke luar negri untuk berkuliah, kau selalu bersikap manja kepadanya.” Ucapnya, sembari terkekeh kecil saat mengingat masa lalu.
Shera yang mendengarnya pun kini ikut tersenyum, kemudian ia menolehkan wajahnya dan menatap foto sang kakak. “Jadi saya seperti itu?.... ” Ia bertanya, memiringkan kepalanya ke kiri lalu kemudian tertawa kecil. “... Saya memang tidak mengingat apapun, namun saat mendengar perkataan anda, sepertinya saya adalah adik yang beruntung!... Kira-kira kapan dia akan pulang ke sini?” Ucapnya, dan kemudian bertanya sekali lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Malina pun sedikit berfikir dan termenung. Berusaha untuk memperkirakan kepulangan putranya itu. “Hemm, mama tidak tahu pasti!....tapi sepertinya dia akan pulang satu atau dua bulan lagi setelah ia menyelesaikan kuliahnya!” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan dari putrinya tadi.
...»»————>✥<————««...
__ADS_1
Di sisi lain, Adam yang sedari tadi berbicara dengan dokter Bian melalui telepon pun kini melirik ke arah sang putri. Raut wajahnya terlihat begitu serius di saat telinganya mendengarkan penjelasan dari dokter muda itu, dan setelah beberapa saat ia pun menganggukkan kepalanya dan berkata. “Baiklah, kalau begitu saya akan segera membawa anak ini ke sana untuk di periksa! ” Ucapnya, lalu menutup panggilan.