Shera

Shera
Bagaimana jika aku membunuhnya?


__ADS_3

Seiring waktu berlalu, langit pun kini mulai menggelap. Lampu-lampu rumah dan jalanan pun kini di nyalakan, menggantikan sinar matahari dengan secercah cahaya-cahaya kecil bagaikan bintang buatan.


Di ruang keluarga yang terlihat hangat dengan wajah ceria dan senyum yang gembira, beberapa orang kini nampak sedang asyik berbincang dan bercanda tawa antara satu sama lain.


Namun di saat yang bersamaan, salah satu di antara mereka kini menunjukkan wajah tak senang dengan sedikit kerutan di antara kedua alisnya.


Menyadari hal itu Adam pun menaikkan salah satu alisnya dengan heran dan berkata. “Nak, ada apa? Sedari tadi papa merasa kalau kamu selalu terlihat murung, apa masih ada anak ada yang mengganggumu saat di sekolah?” Tanyanya, dengan khwatir.


Mendengar pertanyaan dari sang ayah, Shera pun kini menolehkan wajahnya. kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan sembari berkata. “Tidak ada, tidak ada yang mengganggu saya, pa!” Ia terdiam untuk beberapa saat, melirik sang paman dengan tatapan tak suka dan kembali berkata. “Papa tidak perlu khawatir, saya baik-baik saja!” Ucapnya.


Mendengar hal itu, Adam pun hanya menganggukkan kepalanya. Semenjak kejadian itu, suasana hati putrinya memang selalu berubah-ubah dengan begitu cepat dan tanpa sebab, jadi mungkin ia harus sedikit memaklumi.


Namun yang ia tidak tau, sebenarnya yang sedari tadi terus membuat Shera merasa terganggu adalah Braxton, kakaknya sendiri. Sebagai seorang paman, bukannya bersikap ramah dan hangat terhadap ponakan, ia sedari tadi justru malah menatap Shera dengan tatapan penuh nafsu.


Dan hal itupun jelas sangat mengganggu dan meresahkan.


Di saat yang lain sibuk menyantap makanannya, Shera kini tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu yang mengenai kakinya. Gadis itu sedikit tersentak, kemudian ia segera menundukkan kepalanya untuk melihat apa yang baru saja menyentuh kakinya tadi.


“Apa-apaan dia ini?!!” Ia bergumam dan menggeram dalam hati.


kemudian tatapan matanya pun kini beralih menatap ke arah sang paman. “Tidakkah dia malu? Aku adalah keponakannya, putri dari adik kandungnya sendiri!... Bagaimana bisa ia melakukan hal mesum kepada gadis yang bahkan masih satu keluarga dengannya?!” Gumamnya, yang merasa begitu jijik dalam hati.


Bagaimana tidak?


Saat ini, Pamannya itu sedang berusaha untuk menggodanya dengan menggunakan kakinya untuk menyentuh dirinya dari bawah meja secara diam-diam.


Tatapan yang ia tunjukkan pun terlihat begitu nakal dengan senyum licik di bibirnya. Melihat Shera yang mengerutkan dahinya dan menatapnya dengan wajah garang, Braxton pun terkekeh kecil dan berusaha untuk menahan tawa.


“Pftt! Lihatlah, makin lama anak ini semakin menarik!... Jika saja dia bukan keponakan ku, mungkin sekarang aku akan mencampurkan sesuatu ke dalam makanannya dan membawanya masuk ke dalam kamar!” Gumamnya, yang jelas sedang memikirkan sesuatu yang buruk dalam hati.


Dan karena Shera sudah benar-benar merasa terganggu dan tidak nyaman, gadis itupun segera berdiri dari duduknya dan berkata. “Saya sudah selesai, saya ingin segera kembali ke kamar dan menyelesaikan tugas sekolah saya agar bisa tidur lebih awal!” Ucapnya, kemudian ia benar-benar pergi dari ruang makan itu.

__ADS_1


Dan di saat semua orang hanya terdiam dan memandangi kepergiannya, tiba-tiba suara seseorang pun terdengar. “Anak itu kenapa? Apakah penyakitnya semakin parah?” Tanyanya, dengan nada bicara yang terdengar begitu sinis.


Mendengar hal itu, Malina pun segera menolehkan wajahnya dan menatap orang yang sedang berbicara tadi dengan raut wajah tidak suka. “Anakku tidak sakit, dia menjadi seperti itu karena hilang ingatan!” Jawabnya, dengan ketus.


Caroline, istri dari Braxton yang mendengar jawaban dari Malina itupun kini hanya mendengus dan memutar bola matanya malas. Kemudian, setelah beberapa saat ia pun tersenyum licik dan kembali berkata.


“Oh, begitu ya? Aku kira dia itu anak Au...” Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Braxton yang tahu betul mengenai sifat istrinya itupun kini segera berkata.


“Sayang!” Panggilnya, yang memotong ucapan Caroline tadi.


Karena jika tidak, mungkin saat ini mereka semua akan saling berdebat dan bertengkar akibat mulut dengan lidah tajam milik istrinya itu.


“Wanita ini, mau sampai kapan dia akan bersikap seperti itu? Lama kelamaan aku merasa sangat muak dengannya!” Gumamnya dalam hati, sembari memberikan tatapan tajam ke arah Caroline agar wanita itu menutup mulutnya dan diam.


...»»————>✥<————««...


Di sisi lain, Shera yang baru saja memasuki kamar itupun kini menutup pintu dengan cara membantingnya keras-keras. Raut wajahnya kini benar-benar terlihat sangat buruk, ia jelas merasa sangat kesal dengan tindakan tak terpuji yang pamannya itu lakukan kepadanya.


Kemudian, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, berbaring terlentang dengan wajah yang menghadap langit-langit ruangan. “Aku tidak ingin berurusan dengan orang seperti itu, sebisa mungkin aku harus menghindarinya!” Gumamnya.


Namun setelah beberapa saat, ia pun kembali berkata. “Hem, ketimbang menghindarinya, mengapa aku tidak melenyapkannya saja? Jika ia mati, maka aku dapat menikmati hidup baruku dengan jauh lebih tenang!” Ucapnya, yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Sebenarnya, Shera bukanlah gadis yang kejam. Namun di sisi ia juga bukanlah gadis yang baik hati dan penyabar.


Lantaran pernah mengalami kematian dan menjadi hantu gentayangan selama puluhan tahun, sifat gadis itupun menjadi abu-abu. Bukan hitam maupun putih, ia tidak jahat, namun di sisi lain ia juga tidak baik.


Sifatnya itu mirip seperti sebuah cermin, jika kau menunjukkan hal yang baik kepadanya, maka ia juga akan menunjukkan hal yang baik kepadamu.


Akan tetapi, jika kau menunjukkan hal yang buruk, maka seperti pantulan cermin yang retak ia akan menunjukkan hal yang jauh lebih buruk dari apa yang kau tunjukkan kepadanya.


Saat hari mulai semakin larut, gadis itupun kini bangkit dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya menuju jendela yang terbuka.

__ADS_1


Wajahnya kini mendongak ke atas, menatap langit malam yang hanya menampakkan warna hitam kelam dengan tatapan sendu.


Dan sembari melamunkan sesuatu, ia pun bergumam. “Batavia telah banyak berubah, aku sedikit bingung dengan suasana yang begitu asing dan baru ini!... Dan hal itupun membuat hatiku merasa ragu, apakah nantinya aku akan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar?... Aku bahkan tidak terlalu ingat tentang cara bagaimana bersikap seperti manusia biasa yang normal!” Gumamnya, kemudian gadis itu menghela nafasnya dengan berat.


“Yah, sepertinya masih ada banyak hal yang harus aku pelajari!” Ucapnya.


Dan setelah beberapa lama gadis itu menghabiskan waktunya dengan berdiri dan melamun sembari menatap langit, tiba-tiba suara ketukan pintu pun terdengar dan mengalihkan perhatiannya.


*Tok!


Tok!


Tok*?!


“Maya, kamu belum tidur? Cepat buka pintunya, kakak mau ngomong sesuatu ke kamu!” Ucap dari seseorang yang berdiri di balik pintu.


Mendengar suara yang begitu familiar, Shera pun langsung mengenalinya. Itu jelas adalah Ezra, kakaknya sendiri. Namun di tengah malam seperti ini, mengapa kakaknya itu datang dan mengetuk pintu kamarnya?


Merasa penasaran, Shera pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Kemudian, saat ia telah membuka pintu tersebut, pandangannya pun kini langsung tertuju pada wajah sang kakak yang kini tengah menatapnya dengan sebuah senyuman yang hangat.


“Saya tidak menyangka, apa yang ingin kakak katakan kepada ku di larut malam seperti ini? Tidakkah kakak berfikir bahwa masih ada waktu dan kesempatan pada esok hari?!” Ucapnya, yang bertanya dengan sedikit mengerutkan dahi.


Mendengar adiknya yang selalu berbicara dengan bahasa formal dan logat yang aneh, Ezra pun kini mengerutkan dahinya dan berkata. “Kok kamu ngomongnya aneh gitu sih? Kaku banget tau nggak!... Jangan-jangan kamu lagi niruin yang ada di TV ya? Habis nonton drama kolosal?” Tanyanya, dengan heran.


Pasalnya dari cara bicaranya yang begitu rumit dan kaku, serta gelagat yang adiknya itu tunjukkan, ia terlihat sangat mirip seperti orang-orang yang hidup pada zaman dahulu.


Mendengar hal itu, Shera pun kembali mengerutkan dahinya. Kemudian ia berkata. “Kakak, kau mengatakan hal yang aneh!” Ucapnya, namun setelah itu, ia pun menghela nafasnya dan kembali berkata. “Ah, sudahlah! Ngomong-ngomong, tadi apa yang ingin kakak bicarakan kepada saya? Mengingat bahwa kakak tidak ingin menunggu hari esok, sepertinya apa yang akan kakak katakan saat ini adalah sesuatu yang penting!” Ucapnya lagi.


Ezra yang mendengar hal itupun kini akhirnya mengingat tujuan utamanya untuk datang kesini, ia jelas memiliki sesuatu yang perlu di bicarakan.


Sembari meraih dan menggenggam tangan adik perempuannya itu, Ezra pun kini tersenyum dan berkata. “Ayo keluar rumah, kakak mau ngajakin kamu jalan-jalan ke suatu tempat!”

__ADS_1


__ADS_2