Shera

Shera
Tidak makan daging


__ADS_3

Mendengar hal itu, sang ayah pun kini tak kuasa untuk menahan emosinya. Perkataan seperti itu jelas tidak akan bisa ia terima dengan begitu mudah, bukan karena ia menganggap bahwa putrinya itu adalah seorang pembohong, tapi hal seperti itu memang benar-benar tidak masuk akal.


Dan apa katanya tadi?.... Tidak mengingat keluarga dan dirinya sendiri?!!!


Bagaimana bisa?.... selama enam belas tahun ia sudah membesarkannya, dan sekarang hanya karena sebuah luka putrinya itu melupakan semuanya?!


Omong kosong macam apa ini?!!


Di sisi lain, Shera yang mengetahui isi dari pikiran ayahnya itupun kini menghela nafasnya dengan berat. Kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dan menyodorkannya ke arah pria itu.


“Jika ucapan saya terdengar seperti gurauan di telinga anda, maka cobalah untuk menghubungi nomor ini! ” Ucapnya, yang masih menggunakan raut wajah sedih sebagai topeng.


Melihat apa yang putrinya itu tunjukkan, ia pun kini menaikkan salah satu alisnya dan menatapnya dengan heran sembari berkata. “Apa ini?... ” Ia bertanya, lalu mengambil benda itu agar bisa melihatnya dengan lebih dekat. “... Sebuah kartu nama? Milik Abian?!! siapa Abian itu?!! ” Tanyanya lagi, dengan nada geram di saat mengetahui bahwa kartu itu milik seorang laki-laki.


Sadar akan kekesalan yang pria itu rasakan sekarang, Shera yang tak ingin mendapatkan prasangka buruk pun kini segera menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari berkata. “Dia adalah dokter yang menangani saya di rumah sakit, namanya dokter Bian!... jika tidak percaya, papa bisa menghubungi nomor yang tertera di sana!!” Ucapnya.


Namun, secara tiba-tiba seorang wanita pun datang dan membuka pintu ruangan hingga membuat kedua orang itu terkejut akan kehadirannya.


“Loh, kamu sudah bangun nak?” Ia berbicara dengan lembut, menatap ke arah Shera dengan tatapan hangat dan penuh akan kasih sayang.


Kemudian, ia melangkahkan kakinya mendekat, mengulurkan tangannya dan mendaratkan sebuah belaian lembut pada rambut halus putrinya itu. “Mama sudah nyiapin sarapan, kamu cepat cuci muka dulu baru turun ke bawah, yah! ” ucapnya, lalu melirik ke arah sang suami. “Sayang, sekarang kamu libur kan?.... jadi cepat ganti bajumu dan ikut sarapan, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan!... anak dan istrimu ini juga butuh perhatian tahu?! ” Ucapnya lagi, yang memberi perintah dengan nada guyonan.


Setelah itu, ia pun langsung pergi sembari bersenandung riang, bahkan raut wajahnya pun kini terlihat begitu santai. Menunjukkan bahwa ia adalah tipe orang yang tidak peka akan lingkungan sekitar.

__ADS_1


Melihat kelakuan istrinya itu, sang suami pun kini hanya bisa mengerutkan dahinya dan menghela nafas dengan begitu frustasi. Jika dilihat dari gerak-geriknya dan cara bicaranya yang santai seperti biasa, pria itupun kini yakin bahwa wanita itu masih belum mengetahui tentang keadaan putrinya yang hilang ingatan.


“Pa, apakah dia ibu saya?! ” Suara dari seorang gadis yang berdiri di hadapannya pun kini terdengar dan menanyakan sesuatu kepadanya.


Membuatnya sedikit tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.


“Tentu saja dia ibu mu!! ” Jawabnya, dengan sedikit nada ketus. “Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja!!... papa akan simpan kartu nama ini, dan setelah sarapan nanti kau ikut bersama papa untuk memeriksakan diri ke rumah sakit!” Ucapnya lagi, sembari memasukkan kartu nama tersebut ke dalam kantong celananya.


Mendengar hal itu, Shera pun hanya mengangguk dengan patuh. Untuk sekarang sebaiknya ia menurut saja dengan semua perkataan ayahnya itu.


Karena jika di lihat dari sudut pandangnya, sepertinya pria itu adalah tipe orang yang keras kepala dan tidak suka di lawan layaknya seorang bos besar.


Namun saat ia akan melangkahkan kakinya, entah kenapa pria itu tiba-tiba berhenti dan melirik ke arahnya sembari berkata. “Nanti, saat kita sarapan bersama, kamu tidak perlu berkata apapun mengenai masalah ini!.... karena nanti papa sendirilah yang akan mengatakannya kepada ibumu, mengerti?! ” Tanyanya, dengan begitu serius.


...»»————>✥<————««...


Beberapa menu hidangan kini telah tersaji rapi di atas meja makan, menunggu untuk di santap sebagai pengisi perut di pagi hari.


Sang ayah yang duduk di kursi kepala keluarga kini hanya mendiamkan makanannya yang ada di piring, sedari tadi ia hanya sibuk memperhatikan gerak-gerik putrinya sembari memainkan garbu dan sendok di tangannya.


Terlihat di matanya, gadis itu kini sedang duduk di samping sang ibu. Raut wajahnya pun nampak begitu kaku, menandakan bahwa ia kini tengah merasa canggung akan situasi di sekitarnya.


“Sayang, kenapa kok gak di makan? ”

__ADS_1


Suara dari sang istri pun kini tiba-tiba terdengar dan bertanya dengan nada lembut kepadanya, membuat pria itu kembali tersadar dari lamunannya dan mengedipkan matanya beberapa kali lantaran merasa terkejut.


“Hah? A__Iya, aku akan makan sekarang! ” Ucapnya dengan kaku, kemudian mulai menyantap makanannya.


Sedangkan Shera yang di tatap sedari tadi pun kini akhirnya dapat menghela nafas dengan lega, cara pria itu menatapnya sungguh benar-benar mengerikan, begitu tajam dan menusuk hingga membuatnya merasa sesak.


Kemudian, tiba-tiba bahunya pun di tepuk dengan lembut oleh seseorang. Membuatnya segera menoleh ke samping dan menatap sosok wanita yang duduk di sebelahnya. “Nak, kamu juga makanlah!... kenapa diam saja? ada apa, hem?” Ucapnya, yang bertanya dengan penuh perhatian.


Mendengar hal itu, Shera pun hanya menggelengkan kepalanya pelan, kemudian ia tersenyum lembut dan berkata kepada wanita itu dengan nada bicara yang terkesan ramah. “Tidak ada apa-apa, ma!.... saya hanya sedang melamun, terimakasih karena sudah bertanya!” Ucapnya, kemudian mengambil sebuah apel di atas meja dan memakannya.


Melihat hal itu, sang ibu pun kini mengerutkan keningnya dengan heran. Pasalnya putrinya itu adalah tipe anak yang tidak suka memakan buah-buahan, karena ia lebih suka dengan menu berdaging atau makanan-makanan laut lainnya. “Tumben sekali anak ini mau makan buah?! ” ia bergumam dalam hati, kemudian menggelengkan kepalanya dan menepis pikiran tidak penting itu dari benaknya. “Ah, sudahlah! mungkin dia sedang diet, anak seusianya memang cenderung sensitif jika menyangkut berat badan.” Gumamnya lagi.


Kemudian, ia mengambil sepotong daging ayam dan meletakkannya di atas piring putrinya yang masih kosong itu. “Makanlah ini!.... mama tau kalau kamu sekarang sedang menjaga berat badan, tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya?!” Ucapnya, yang memberi nasehat dengan lembut.


Namun Shera yang melihat sepotong ayam goreng yang ada di atas piringnya pun kini segera mengembalikannya ke tempat semula, kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya dan berkata. “Ehmm, saya tidak bisa makan ini!” Tolak nya.


Kemudian, saat sang ibu akan mengambilkan menu berdaging lainnya, gadis itu pun kembali menggelengkan kepala dan berkata. “Ma, saya tidak bisa makan daging! ” tegasnya, yang sontak membuat kedua orang itu menatapnya dengan tatapan heran.


“Loh, kenapa tidak bisa? ” Sang ibu pun bertanya sembari mengerutkan dahinya.


Sedangkan sang ayah kini hanya diam mendengarkan sembari menunggu jawaban darinya.


Melihat hal itu, Shera pun menghela nafasnya pelan, lalu menundukkan kepalanya dan berkata. “Saya vegetarian, tidak boleh makan daging!” Jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2