
Melihat penjelasan kakaknya, Shera pun kini terbengong sembari menatap senjata api di tangannya. Ternyata memang benar kalau ini bukan sembarang senjata, pantas saja pemuda itu menyuruhnya berjanji untuk menyembunyikan hal ini dari semua orang.
Dan setelah beberapa lama ia terdiam, Shera pun kini menoleh dan kembali menatap ke arah sang kakak. “Jika ini barang ilegal, itu artinya kakak sedang melanggar hukum?... Bagaimana jika polisi tau dan menangkap kakak?!.... Sebenarnya dari mana kakak mendapatkan benda ini?!” Tanya Shera, sembari mengerutkan dahinya.
Ini bukan masalah yang sepele, menyimpan senjata tajam secara ilegal dan tanpa adanya izin bisa saja terkena jeratan hukum. Kakaknya itu bisa terkena denda atau bahkan di penjara untuk waktu yang lama.
Dan tak hanya itu, jika sampai ini diketahui oleh pihak berwenang, maka nama keluarganya pasti juga akan tercoreng. Itu bisa saja berpengaruh pada pekerjaan orang tuannya dan reputasi baik keluarga ini.
Melihat kegelisahan yang terpampang di wajah adik perempuannya itu, Ezra pun kini tersenyum dan bangkit untuk duduk. “Kamu gak perlu khawatir, polisi tidak akan bisa menangkap kakak!” Ucapnya, dengan begitu santai.
Mendengar hal itu, kerutan di dahi Shera pun semakin mendalam. Gadis itu kini merasa bingung dengan apa yang baru saja kakaknya itu ucapkan.
“Bagaimana bisa kakak seyakin itu?” Tanganya.
Dan Ezra pun terkekeh kecil lalu berkata. “Shera sayangku, kita ini tinggal di negara yang hukumnya bisa dibeli dengan uang!” Ucapnya, yang membuat gadis itu kini semakin bertambah bingung. “Biar ku jelaskan, asalkan kamu punya uang, jabatan, dan status yang tinggi, maka kamu bisa melakukan apapun yang kamu suka!... Kamu tidak perlu perduli dengan urusan hukum, kita punya uang, dan dengan uang itu kita kebal dengan undang-undang yang berlaku.” Ucapnya lagi.
Shera yang mendengar hal itupun kini sedikit terdiam, kemudian ia mendudukkan dirinya di samping Ezra dan berkata. “Kakak, tapi itu tetap saja beresiko!... Aku tidak ingin melihat kakak berakhir didalam jeruji besi, hatiku bisa hancur!” Ucapnya, dengan ekspresi wajah yang nampak begitu sedih dan khawatir.
Melihat hal itu, entah kenapa Ezra kini justru merasa senang dalam hati. Adiknya itu jelas sedang menunjukan perhatiannya terhadap dirinya. Mengetahui bahwa Shera akan bersedih jika melihatnya menderita, Ezra pun tersenyum lebar dan membelai kepala gadis itu dengan lembut.
“Sudah kakak bilang kalau kakak akan baik-baik saja, jadi kamu jangan khawatir!” Ucapnya, dengan nada bicara yang terdengar begitu lembut.
Namun Shera yang masih merasa resah itupun kini menggela nafasnya panjang, kemudian ia mendekatkan dirinya dan memeluk kakaknya itu dengan erat. “Kakak harus memegang perkataan itu, karena aku tidak akan sanggup melihat orang-orang yang aku sayangi menderita!” Ucapnya, yang begitu tulus menyayangi Ezra sebagai keluarganya.
Sedangkan Ezra yang dipeluk itupun kini terdiam dengan wajah yang tertegun, perasaannya kini menjadi campur aduk tak karuan. Gadis yang ia sayangi kini memeluknya terlebih dahulu, dan hal itupun tentu saja membuat hatinya merasa sangat senang.
__ADS_1
Ezra pun kini membalas pelukan Shera dengan mendekap tubuh mungil gadis itu dengan kedua tangannya yang kekar. Walaupun ia tahu kalau gadis itu hanya menyayanginya dan menganggapnya sebagai kakak, namun perasaan Ezra masih tetap sama, pikirannya bahkan tidak berubah sedikitpun.
Andai saja mereka berdua bukan saudara, andai mereka saling mengenal sebagai orang asing tanpa ikatan darah. Apakah jika itu terjadi, ia bisa menjadikannya sebagai miliknya?
Gadis itu begitu mungil dan cantik, sangat manis hingga dapat menarik perhatian banyak pria. Memikirkan bahwa suatu saat seseorang akan datang dan membawanya pergi, hatinya pun menjadi sangat sakit.
Kenapa perasaan ini datang kepadanya?
Kenapa ia harus jatuh cinta pada adik perempuannya sendiri?
Padahal, sebelumnya ia masih normal dengan menganggapnya sebagai adik dan menyayanginya secara wajar. Namun setelah ia kembali dan mendapati kalau gadis itu telah berubah, entah kenapa pandangannya pun juga ikut berbeda.
Ezra tidak lagi memandangnya sebagai adik melainkan seorang wanita, perasaan sayangnya pun berubah, ia mencintai gadis itu selayaknya seorang pria yang tertarik kepada lawan jenis. Dan andai saja Ezra bisa sedikit lebih egois dengan menuruti nafsunya, mungkin kini ia akan membawa gadis itu kesuatu tempat dan menyembunyikan dari pandangan semua orang.
Namun jika ia melakukan hal itu, maka hati gadis ini akan hancur. Senyumnya yang cerah pasti akan meredup dan perlahan-lahan mulai menghilang dari wajahnya yang manis itu.
Hanya dengan membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan, ia mencintai adiknya itu dengan tulus. Lebih baik Ezra mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus melihat gadis itu menitihkan air mata karenanya.
“Shera, kalau kamu pingin sesuatu bilang aja sama kakak, ya?...Kakak akan berusaha untuk mengabulkannya, jadi jangan minta sama yang lain, oke?” Ucapnya, yang ingin membahagiakan gadis itu dengan cara memanjakannya.
Shera yang mendengar ucapan kakaknya itupun kini tersenyum, namun setelah beberapa saat ia pun teringat akan sesuatu. “Tunggu dulu, kakak belum menjawab satu pertanyaan ku!” Ucapnya.
Ezra pun melepaskan gadis itu dari pelukannya, kemudian menatapnya dengan bingung lalu berkata. “Oh? Apa itu?... Maaf kakak tidak terlalu mendengarkan!” Ucapnya.
Dan Shera pun mengulangi pertanyaannya yang terlewatkan tadi. “Di mana kakak mendapatkan benda ini, dan siapa yang menjualnya?” Tanyanya, yang membuat Ezra kini sedikit berfikir apakah harus menjawab pertanyaan itu atau tidak.
__ADS_1
“Apakah kakak mendapatkannya dari pasar gelap?!” Shera kembali bertanya dan mendesak kakaknya itu untuk menjawab.
Sedangkan Ezra yang melihat tatapan penuh tuntutan dari pancaran mata adiknya itupun kini menghela nafas, kemudian membuka mulutnya dan berkata. “Kakak mendapatkan ini semua dari salah satu kenalannya paman.” Jawabnya.
“Siapa?” Shera lagi-lagi bertanya.
Dan Ezra pun menjawab. “Dia adalah...”
...»»————>✥<————««...
“Tuan Arsenio!”
Dengan bahasa asing, seorang pria berjas rapih kini mengetuk pintu dari luar, berusaha untuk memanggil seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Dan setelah beberapa saat, sebuah suara yang terdengar sangat dingin dan begitu tegas pun terdengar. Mempersilahkan pria berjas rapih tadi untuk masuk dan menghadap kepadanya.
“Masuk!”
Begitu kata yang singkat itu terdengar, pintu pun segera di buka. Pria berjas tadi pun segera menundukkan pandangannya kebawah sebagai bentuk kesopanan.
“Ada apa, Finn?” Tanya Arsenio disaat bawahannya itu kini telah berdiri di hadapannya.
Finn yang mendengar pertanyaan itupun kini sedikit melirik, kemudian ia berkata. “Tuan, kami telah menemukan dan menangkap orang itu, selanjutnya harus kami apakan dia?” Tanyanya, yang menantikan sebuah jawaban.
Arsenio yang mendengar hal itupun kini sedikit melirik, kemudian ia tersenyum miring dan berkata. “Kau sudah tau sendiri apa yang harus di lakukan, Finn!” Ia memberi jeda, menyalakan sepuntung rokok di tangannya dan melanjutkan. “Habisi dia, aku ingin kau melakukannya dengan bersih dan rapih!” Ucapnya, dengan begitu dingin dan tanpa belas kasihan sedikitpun.
__ADS_1