
Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu mereka di sana hanya untuk membicarakan seorang gadis. Namun yang jelas, suara keras dari bel masuk kini tiba-tiba terdengar dan menghentikan pembicaraan mereka.
Arka yang juga mendengarnya pun kini menoleh dan menengok ke arah sepiker suara yang tergantung di sudut atas salah satu bangunan, kemudian ia menghela nafasnya dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi lalu berkata. “Dahlah, kita lanjut nanti!..... sekarang udah waktunya masuk!! ” Ucapnya kemudian membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan si Al yang melihat temannya itu pergi pun kini juga ikut menyusul, meninggalkan siswa tadi sendirian tanpa ada rasa perduli sedikitpun.
“Lah, aku di tinggalin nih?!... ” Ia menatap kepergian mereka dengan wajah bengong, kemudian menghela nafasnya dengan lesu. “... emang ya, jadi kakak kelas itu enak banget!.... bisa ngelakuin ini itu sama juniornya!.... padahal aku belum sempet jajan ke kantin, eh malah di tarik ke sini sama mereka! ” Gerutunya dalam hati, sembari melangkahkan kakinya kembali ke kelas.
...»»————>✥<————««...
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Shera pun kini meminta izin kepada sang ayah untuk pergi keluar dan berjalan di sekitar rumah sakit. Namun Adam yang mendengar hal itupun tentunya tidak setuju, ia bahkan dengan tegas berkata ‘tidak’ dan menyuruh putrinya itu diam dan duduk dengan manis.
“Sebenarnya saya hanya ingin menemui anak yang tadi, karena saya pikir akan sangat bagus jika kami menjadi akrab!.... apalagi dia satu sekolah dengan saya. ” Ucap Shera dengan suara yang begitu lirik.
Lebih tepatnya ia kini serang mengerutu sembari menundukkan kepalanya dan memasang wajah yang cemberut.
Mendengar hal itu, Adam pun kini mengerutkan dahinya dengan tidak suka. Masih teringat jelas dalam pikirannya, bagaimana pemuda itu menatap putrinya dengan tatapan penuh arti. “Papa tidak mau mengulangi ucapan yang sama dua kali, jadi menurut lah! ” Ucapnya, dengan begitu tegas.
Kemudian, pandangannya kini beralih ke arah dokter Bian yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan percakapan antara dirinya dan sang putri. “Jadi sampai kapan anak saya akan seperti itu?.... apa tidak bisa disembuhkan dengan segera?! ” Tanyanya.
Dan dokter Bian pun menggelengkan kepalanya dengan wajah tak berdaya. “Untuk jangka waktunya saya kurang tau, karena ingatan yang hilang bisa saja kembali kapanpun, atau juga tidak! ” Ia terdiam untuk sesaat, kemudian melanjutkan. “Dalam beberapa kasus, ada pasien yang mendapatkan ingatannya kembali setelah beberapa bulan, namun ada juga yang memerlukan waktu bertahun-tahun, dan hal itupun dilakukan secara bertahap-tahap, tidak bisa di lakukan secara terburu-buru apalagi sampai memaksa! ” Ucapnya lagi, yang menjelaskan dengan panjang lebar.
Mendengar hal itu, baik Adam dan istrinya pun kini hanya bisa termenung dalam pikirannya masing-masing. Sebagai orang tua, mereka tentunya sangat ingin agar putrinya cepat sembuh dan mendapatkan ingatannya kembali. Namun di sisi lain, mereka juga tidak bisa memaksa anak itu untuk mengingat apa yang tidak bisa ia ingat.
Karena hal itu bisa saja memperburuk keadaan.
“Apakah saya membuat kalian merasa tidak nyaman? ” Tanya Shera secara tiba-tiba.
__ADS_1
Dan hal itupun membuat kedua orang tuanya menoleh setelah sadar dari lamunannya.
“Kenapa kok kamu nanya kayak gitu, Maya?! ” Tanya sang ibu dengan lembut, ia kini segera menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan sang putri.
Kemudian, sembari melirik wajah kedua orang tuanya satu persatu, Shera pun kini kembali membuka mulutnya dan berkata. “Saya pikir, kalian tidak suka dengan diri saya yang sekarang!.... ” ia terdiam, kemudian menundukkan kepalanya. “.... karena saya tidak sama dengan putri yang kalian kenal! ” Lanjutnya, dengan nada lirih yang terkesan begitu sedih.
Dokter Bian yang mendengar hal itupun kini menatap Shera dengan penuh rasa kasihan, dalam hati ia ingin sekali memeluk dan menghibur gadis itu. Namun niat itu segera ia urungkan lantaran sadar bahwa situasi saat ini sangatlah tidak memungkinkan bagi dirinya untuk bersikap sesuka hati.
“Bodoh!... ”
Satu kata itu keluar dari mulut Adam. Kemudian, pria itu mengulurkan tangannya dan membelai kepala putrinya dengan lembut. “ Kami hanya ingin kau sembuh, bukan berarti bahwa kami tidak suka dengan dirimu yang sekarang!... ” Ucapnya, lalu mengangkat dagu sang putri agar wajah mereka saling bertatapan. “... Mau bagaimanapun, dan seperti apapun dirimu, kamu tetaplah putri kami!.... jadi jangan pernah mengulangi kata-kata bodoh seperti tadi, ya?! ” Ucapnya lagi.
Mendengar hal itu, Shera pun menganggukkan kepalanya. Namun dalam hati ia diam-diam tersenyum dan bergumam. “Ah, aku tidak bermaksud melakukan hal ini!.... namun kalian terus saja memandangku dengan aneh, hal itu sangat mengganggu dan menyakitkan!.... aku hanya ingin kalian menerimaku apa adanya, dan jangan pernah memaksaku untuk menjadi Maya, karena aku adalah Shera!! ” Ucapnya dalam hati.
Lalu kemudian, ia kembali berkata kepada mereka. “Kalau.... kalau begitu, bisakah kalian berhenti memanggil saya dengan nama Maya?! ” Ia bertanya dengan wajah yang memelas. “.... nama itu sangat asing di telinga saya, dan hal itu membuat saya merasa begitu tidak nyaman!” Ucapnya lagi.
Dan Shera pun menjawab. “Saya ingin dipanggil dengan nama Shera!”
“Tapi Shera itu bukan namamu! ” Ucap Adam.
Lalu Shera pun segera membalas. “Tidak, itu tidak benar!.... saya lebih nyaman di panggil dengan nama itu, mohon mengertilah!.... hal ini sangat berarti bagi saya!” Ucapnya, yang memohon-mohon dengan wajah yang benar-benar memelas.
Membuat sang ayah merasa tak tega dan segera memalingkan wajahnya. “Sudahlah, terserah kamu saja!.... tapi dalam kartu keluarga nama aslimu tidak akan dirubah, karena nama ‘Shera’ hanya akan menjadi nama panggilan!” Ucapnya, yang pada akhirnya menuruti keinginan sang putri.
Walaupun tidak sepenuhnya di terima, namun hal itu sudah lebih dari cukup untuk Shera. Gadis itu pun kini menunjukkan senyumnya yang cerah, kemudian ia menganggukkan kepalanya dan berkata. “Saya mengerti, dan terimakasih karena sudah setuju! ” Ucapnya dengan begitu lega.
Sebenarnya ada alasan tersendiri bagi Shera untuk mempertahankan nama itu. Karena nama itu adalah satu-satunya hal yang masih tersisa dari pemberian orang tuanya di kehidupan yang lalu.
__ADS_1
Tubuh yang ibunya lahirkan dan besarkan kini sudah habis terurai dengan tanah, wajah menawan yang mirip dengan sang ayah pun juga sudah tak ada lagi.
Satu-satunya yang tersisa adalah nama ini, nama yang mereka berikan dengan sepenuh hati. Dan dengan mempertahankan nama ini, Shera berharap bawah ia selamanya tidak akan melupakan mereka.
Terutama ia juga tidak ingin melupakan jati dirinya sendiri, karena Shera adalah Shera!!.... yang hidup di sini adalah dirinya dan bukan Maya.
...»»————>✥<————««...
Seusai kembali dari rumah sakit, mereka pun kini duduk di ruang keluarga untuk membicarakan suatu hal. Terlihat dari wajah-wajah mereka, sepertinya pembahasan kali ini cukup serius.
Nampaknya ini berhubungan dengan masalah sekolah.
“Katanya anak-anak yang terlibat masalah dengan mu sudah di keluarkan dari sekolah, jadi sekarang kamu bisa tenang! ” Ucap Adam, setelah menerima panggilan telepon dari pihak sekolah tadi.
Namun, Malina yang mendengar hal itupun kini nampaknya masih merasa resah. Wanita itu sepertinya masih ragu-ragu untuk membiarkan putrinya bersekolah di sekolahan yang sama.
Apalagi setelah kejadian ini, ia tidak begitu percaya dengan keamanan putrinya di sekolah.
“Sayang, apa tidak sebaiknya kita pindahkan dia ke sekolahan yang lain?!” Tanyanya, kepada sang suami.
Kemudian ia terdiam untuk sesaat, dan memandangi wajah putrinya itu sebelum berkata. “Aku masih khawatir!.... anak ini bahkan gak ingat apapapun, kalau terjadi sesuatu gimana?” Ucapnya lagi.
Dan hal itu pun membuat Adam kini sedikit termenung, kemudian ia menoleh dan menatap ke arah Shera dengan serius lalu berkata. “Nak, apa kamu mau pindah sekolah saja?.... lagipula sekarang kamu masih kelas satu sma, sepertinya tidak apa-apa kalau__”
Belum sempat Adam menyelesaikan ucapannya, Shera pun dengan segera menyahut dan berkata. “ Tidak! saya tidak ingin pindah!! ” Tolak nya dengan tegas.
Dan Adam pun bertanya. “Kenapa?”
__ADS_1
“Karena saya ada di sana!! ” Ucap Shera, tanpa berfikir panjang.