
Ezra kini merasa sangat geram dengan ucapan Shera, gadis itu sudah mulai berani melawan kata-katanya dan berbohong. Jika mereka berdua memang tidak berpacaran, lalu mengapa mereka keluar malam-malam berduaan? Anak laki-laki itu jelas memperlakukan adiknya dengan istimewa.
Dalam hati Ezra merasa yakin, jika ia tidak segera mengambil tindakan maka Shera akan direbut oleh pria lain. Dan Ezra tidak ingin melihat hal itu terjadi. Gadis ini adalah miliknya, dari dulu adalah miliknya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya.
Dengan emosi yang menggebu-gebu ia pun mencengkram kedua lengan gadis itu, jarak mereka berdua kini benar-benar dekat—sangat dekat hingga nafas mereka saling berbenturan.
Shera kini menatap lurus ke arah wajah sang kakak, mata mereka pun saling beradu pandang. Ekspresi wajah kakaknya kini benar-benar terlihat sangat buruk, dahinya berkerut kesal, matanya menatap tajam, dan nafasnya berat menahan marah.
“Apakah aku akan di amuk?” Shera bergumam dalam hati, sedikit merinding dengan tindakan Ezra saat ini.
Namun saat laki-laki itu akan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir gadis itu, tiba-tiba suara dari tangga pun terdengar dan mengejutkan mereka berdua.
“Siapa itu? kenapa berisik sekali?!”
Seorang pria bertubuh tinggi kini turun dari tangga, dahinya berkerut dan nampak kesal. Dan dengan hanya menggunakan celana olahraga panjang dan kaos polos berlengan pendek, ia pun berjalan menghampiri Ezra dan Shera yang kini nampak panik.
“Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa sedari tadi ribut sendiri?!” Adam bertanya dengan nada tegas, menatap tajam ke arah kedua anaknya itu secara bergantian.
__ADS_1
“Kenapa tidak menjawab?!” Ia bertanya sekali lagi, menyelidik wajah-wajah tegang putra dan putrinya.
Dan setelah terdiam dan saling melirik antara satu sama lain, Shera pun memberanikan diri untuk berkata duluan. “Kakak memarahiku tanpa alasan, aku di dorong ke dinding dan tanganku di cengkraman!” Ucapnya yang mengaduh.
Mendengar itu, Adam pun melirik ke arah Ezra. Pria itu tidak langsung menghakimi, ia ingin mendengar penjelasan dari putranya dulu sebelum memutuskan.
Di sisi lain, Ezra yang mendengar ucapan Shera pun kini terbelalak lebar. Pemuda itu pun melotot ke arah sang adik dengan kesal, kemudian ia menatap sang ayah dan berkata. “Dia pergi malam-malam bersama pacarnya dan baru pulang beberapa saat yang lalu!” Ucapnya, yang balas mengadu.
Shera yang mendengar itupun kini menjadi kesal, menatap tajam sang kakak dan berkata. “Sudah aku bilang dia bukan pacarku!” Ucapnya dengan berseru.
Melihat kedua anaknya yang bertengkar, Adam pun kini memijat-mijat kepalanya yang pusing dengan satu tangan. Pagi-pagi buta ia sudah di bangunkan dengan suasana ribut dan situasi seperti ini.
Tatapannya pun kini beralih ke sang putri, setelah mendengar penjelasan dari anak laki-lakinya Adam pun sudah dapat memutuskan siapakah orang yang bersalah.
“Shera, kau mulai nakal!” Ia berucap dengan nada marah, namun tidak sampai membentak.
Shera yang mendengar hal itupun ingin membantah, namun mulutnya segera dibungkam dengan omelan sang ayah. “Sejak kapan kamu mulai memberontak seperti ini? Apakah kamu tidak tau kalau kau ini anak gadis?! Apa pantas kau berkeliaran di malam hari dengan anak laki-laki? Papa tidak setuju dengan hubunganmu dengannya, entah itu teman atau pacar kau masih tidak boleh berdekatan dengan laki-laki!” Ia menegurnya dengan penuh penekanan, seperti tidak ingin di bantah.
__ADS_1
Shera kini hanya menundukkan kepalanya, menatap ke bawah dan berusaha untuk menghindari kontak mata.
“Tapi, apa salahnya jika aku berteman dengan laki-laki?” Gadis itu bergumam pelan, sedikit menggerutu.
Adam yang mendengar hal itupun kini mengerutkan dahinya, menatap tajam ke arah sang putri. “Lebih baik kau fokus dengan sekolah dan pengobatan mu!” Ia berbalik, namun sebelum melangkah pergi ia pun kembali berkata. “Jika kau ketahuan keluar malam dengan anak laki-laki lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghukum mu!” Ucapnya dengan begitu tegas.
Shera tahu bahwa ayahnya kini tidak sedang mengancam, itu adalah ucapan yang nyata. Kini mungkin ia akan di awasi, dan sepertinya ia tidak akan lagi bisa berbicara dengan bebas kepada siapapun.
Di sisi lain, Ezra yang melihat raut wajah kesal adiknya itupun kini tersenyum puas. Pemuda itupun kini mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga gadis itu. “Kamu dengar itu? lain kali jangan nakal, Yah?” Ucapnya sembari mencubit hidung adiknya dan segera berjalan pergi dari sana.
Sedangkan Shera yang diperlakukan seperti itupun kini mendengus kesal, dan dengan wajah merah karena marah ia pun berlari ke atas dan masuk ke dalam kamar.
“Aku benci kakak!!” Teriaknya kesal saat ia melewati kamar Ezra.
Sedangkan Ezra yang berada di dalam kamar pun kini hanya terkekeh kecil. Walaupun gadis itu berkata demikian, namun tak sampai satu hari ia pasti akan bersikap manja seperti biasanya.
“Bagus jika dia mendapatkan teguran!” Ezra bergumam pelan, menyalakan sepuntung rokok lalu duduk di sebuah sofa. “Tapi aku tetap tidak boleh lengah, berandalan itu pasti akan mendekatinya lagi!” Ucapnya, setelah itu ia menghabiskan waktu untuk menenangkan diri dengan beberapa batang rokok miliknya.
__ADS_1