Shera

Shera
Posesif


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berwarna hitam kini berhenti tepat di pinggir jalan dekat rumah Shera berada. Suasana hari yang masih begitu pagi pun terasa sangat sepi hingga tak ada seorang pun yang terlihat sedang berlalu-lalang.


Dan dari dalam mobil, seorang gadis cantik pun kini turun dengan raut wajah gelisah. Ia nampak seperti sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam mobil itu sampai pada akhirnya ia pergi dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


Di sisi lain, Arsenio yang melihat kepergian gadis muda itupun kini tersenyum tipis. Entah kenapa sedari tadi ia begitu menikmati segala ekspresi yang terlukis di wajah gadis itu.


Mungkin menurutnya wajah cantik dengan ekspresi gelisah itu terlihat sangat menarik, apalagi saat melihat cara gadis itu mengerutkan dahinya sembari mengigit bibir bagian bawahnya dengan cemas.


“Hem, dia benar-benar sangat lucu!” Gumam Arsenio pelan.


Setelah itu, ia pun segera menyalakan mesin dan pergi dari tempat itu dengan masih mempertahankan senyum tipis di bibirnya.


...»»————>✥<————««...


Sedangan di sisi lain, Shera yang baru saja sampai di depan pintu belakang rumahnya pun kini mencoba untuk mengendap-endap. Jujur saja ini sedikit menegangkan, apalagi saat mengingat betapa galak dan menyeramkannya sang ayah.


“Semoga papa masih belum bangun, aku harap ia tidak sadar kalau aku tidak pulang semalaman!” Gumamnya dalam hati.


Pintu belakang rumahnya itu terhubung dengan taman kecil dan kolam renang dekat dapur, biasanya pintu itu hanya di gunakan oleh ART untuk masuk dan keluar dari rumah. Namun karena ini adalah keadaan darurat, Shera pun harus berjalan melewati pintu itu untuk masuk ke dalam rumah secara diam-diam.


Melewati taman kecil dan kolam renang itu, Shera pun kini masuk ke pintu dapur yang terhubung. Kemudian dari sana ia pun melangkahkan kakinya menuju anak tangga dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.


Sesekali kedua mata cantiknya itu melirik sekitar dengan waspada, berjaga-jaga apa bila ada seseorang yang tiba-tiba datang dan memergokinya.


“Sepertinya semua orang masih tertidur, aku harus cepat-cepat masuk ke dalam kamar agar tidak ketahuan!” Ucapnya dalam hati.


Namun begitu ia sampai di depan pintu kamar dan membukanya, tiba-tiba dari dalam kamarnya tersebut terdengar suara seseorang yang begitu tidak asing.


“Cepat sekali kau pulang? Kenapa tidak main di luar lebih lama lagi, hem?!” Ucap seseorang dengan begitu dingin dan penuh sindiran.


Mendengar hal itu, sontak Shera pun tersentak kaget. Kedua matanya yang terbuka begitu lebar pun kini menatap dengan terkejut ke arah seseorang yang sedang duduk di atas tempat tidurnya saat ini.


Melihat betapa tajam dan menyeramkannya tatapan orang itu, Shera pun kini terdiam dan membantu di tempat.

__ADS_1


“Kakak, aku...”


Gadis itu menundukkan kepalanya, kedua matanya melirik kesamping dan sedang berusaha untuk mencari-cari alasan agar ia tidak di marahi.


“Kau apa hem?... Apa kamu pikir kamu gak bakalan ketahuan? Main sama siapa aja kamu sampai pulang subuh-subuh begini?!” Tanya Ezra, yang kini mulai menginterogasi adiknya.


Kemudian, pemuda itu pun berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis itu berdiri saat ini.


“Shera, ayo jawab!!”


Kini Ezra mulai meninggikan suaranya, ekspresi wajahnya pun benar-benar terlihat sangat marah. Ia pun dengan segera menutup pintu kamar adiknya, kemudian dengan sedikit kasar ia pun mendorong tubuh mungil sang adik hingga ia terpojok dan terkurung di antara dinding yang kokoh dan tubuhnya yang besar.


“Ah, kenapa kakak mendorong ku?!” Tanya Shera yang mengeluh atas sikap Ezra kepadanya saat ini.


Pemuda itupun kini semakin merapatkan dirinya, mengikis jarak antara dirinya dengan sang adik hingga kedua tubuh mereka kini saling menempel antara satu sama lain.


“Jangan mengalihkannya pembicaraan!... Kakak mau tau dengan cowok mana kamu pergi semalam!!” Ucapnya, sembari mencengkram dagu gadis itu dengan salah satu tangan agar kedua wajah mereka kini saling berhadapan.


“Kamu pikir kakak gak bakalan tau? Semalam kamu pergi sama cowok kamu yang anggota geng motor itu kan?!... Ngapain aja kamu semalaman sama dia, hah?!!” Tanya Ezra lagi dengan penuh amarah.


Nafasnya yang naik turun itu berhembus dan menerpa wajah Shera, kedua matanya yang tajam dan penuh amarah itupun tak henti-hentinya memelototi sang adik yang kini nampak panik dan kebingungan.


“Ayo jawab! Sejak kapan kalian pacaran?!” Tanyanya lagi, yang kini benar-benar telah kehilangan kesabaran untuk menunggu.


Semalaman ia merasa bingung dan gelisah hanya untuk mencari-cari keberadaan gadis ini, hingga pada akhirnya ia mendapatkan sebuah pesan dari salah seorang teman berupa foto yang memperlihatkan kebersamaan gadis itu dengan lelaki lain.


Membayangkan hal-hal apa saja yang telah mereka lakukan semalaman, Ezra pun menjadi bertambah kesal. Apakah ba**ngan itu telah menyentuh adiknya?


Dengan tatapan mendalam yang berkabut, salah satu ibu jarinya pun kini mengusap bibir Shera dengan lembut. Lihatlah betapa indah dan menggodanya bibir ranum ini!... Dirinya yang selalu tinggal seatap saja tidak pernah berani untuk menyentuhnya dengan lancang, namun apakah lelaki asing itu telah lebih dahulu menikmati kemanisannya?


“Bren*sek!!” Ezra memaki dalam hati.


Sedangkan Shera yang melihat kakaknya itu salah paham pun kini mulai membuka mulutnya dan berkata. “Dia bukan pacar ku!... kami hanya teman sekolah.” Ucapnya dengan jujur.

__ADS_1


Namun, apakah Ezra akan mempercayainya dengan mudah?


“Jangan bohong!!” Bentak Ezra.


Dan Shera pun mengelak. “Aku tidak sedang berbohong!!”


“Jika kau tidak berbohong lalu kenapa kalian terlihat sangat dekat?!” Tanya Ezra lagi yang masih tidak mempercayai ucapan adiknya itu.


“Itu karena kami berteman, mana ada teman yang tidak saling dekat antara satu sama lain?!!” Ucap Shera yang masih membela diri.


Mendengar hal itu, Ezra pun mendengus dan tersenyum sinis. Tatapan matanya yang semula terlihat tajam itupun kini semakin terlihat mengerikan.


“Hah! itu lucu, kamu tahu kan kalau kakak tidak suka di bohongi?!” Ucap Ezra, yang dari nada bicaranya itu ia terdengar seperti sedang mengancam.


“Sudah ku bilang aku tidak berbohong, mengapa kakak masih tidak percaya?... Sebenarnya apa yang kakak inginkan?!” Ucap Shera, sembari berusaha untuk mendorong tubuh Ezra agar pemuda itu menjauh.


Namun sebelum itu terjadi, dengan cepat Ezra pun mengunci kedua pergelangan tangan Shera di atas kepala hingga membuat gadis itu kesulitan untuk bergerak.


Dan sembari mendekatkan wajahnya di telinga gadis itu, pemuda itu pun berkata. “Kakak ingin kamu menjauhinya!... Putuskan hubungan kalian dan jangan pernah sekali-kali kamu berdekatan dengan dia lagi, mengerti?!” Ucapnya, dengan penuh penekanan.


Shera yang merasakan hembusan nafas Ezra di leher dan daun telinganya itupun kini merasa merinding, entah mengapa saat ini ia merasa kalau kakaknya itu benar-benar terlihat aneh.


Bukankah berteman dengan lawan jenis adalah hal yang wajar di zaman ini? Lalu mengapa kakaknya itu sangat posesif terhadap hubungannya dengan pria lain?


“Apakah ia masih menganggap kalau diriku ini adalah anak kecil?” Gumam Shera dalam hati.


“Tapi kami hanya berteman, kakak berfikir terlalu jauh!.... Memang apa yang harus di akhiri jika kami berdua hanyalah seorang teman dan belum memulai hubungan apapun?” Ucap Shera yang masih terus-menerus membela diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : Rada ngeri juga sih sama sifat posesif Ezra, tapi kalau ngelihat dia cemburu kayak gini gak tau kenapa rasanya seru juga wkwkwk😂.... Lagian kok bisa ya dia suka sama adik sendiri?


Kalau menurut kalian gimana?

__ADS_1


__ADS_2