
Padahal tangan Shera itu begitu kecil dan ramping, namun bagaimana bisa tangan yang bahkan seperti tidak memiliki otot itu bisa mengeluarkan tenaga sebesar ini?!
Walaupun sudah berteriak kesakitan dan meminta untuk dilepaskan berulang-ulang kali, gadis itu tetap saja tidak mau melepaskan tangannya.
Dan saat ia mulai menangis karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ia rasakan, bukannya merasa prihatin ataupun kasihan. Shera kini justru tersenyum puas dan berkata.
“Yah, bagus!... Menangis dan memohonlah kepadaku, karena memang seperti itulah yang aku inginkan!” Ucapnya, lalu meraih rambut gadis itu dan menjambak nya erat-erat. “Kau tahu? Saat aku melihatmu menyiksa ‘anak ini’ hatiku merasa sangat kesal!... Memang bukan kau yang membunuhnya, namun dia memilih untuk mengakhiri hidup itu semua adalah karena salahmu!!... Kau telah membuatnya tersiksa hingga ia lebih memilih mati, jadi sekarang terimalah akibatnya, ini adalah karma untuk orang jahat seperti mu!” Ucapnya lagi, kemudian menghempaskan tubuh gadis berandalan itu hingga terbanting di atas tanah dengan cukup keras.
Namun saat ia akan melangkahkan kakinya untuk mendekati gadis berandalan yang kini terjatuh dan terduduk di atas tanah dengan menahan sakit, tiba-tiba seseorang pun datang dan mengalihkan perhatiannya.
“Shera, ternyata kamu di si...” Gilang kini menghentikan ucapannya disaat kedua matanya kini melihat sebuah pemandangan yang aneh. “Ada apa ini?!” Ia bertanya kepada Shera.
Gadis itu kini terlihat sedang menatapnya dengan ekspresi datar nan dingin, dan hal itupun membuat dirinya sedikit merasa takut akan sesuatu yang tidak jelas.
“Shera, siapa mereka?” Ia bertanya sekali lagi, namun gadis itu hanya diam dan menatapnya dengan datar.
Dan saat ia akan melangkahkan kakinya mendekat, barulah gadis itu membuka mulutnya dan berkata. “Diam di sana!” Perintahnya singkat.
Namun dengan hanya satu kalimat itu, tubuhnya pun seakan-akan menjadi tunduk akan segala perintahnya.
“Gue kenapa?!” Ia bergumam dalam hati dan bertanya-tanya dengan bingung.
Kemudian, pandangannya pun kini kembali menatap ke arah Shera. Melihat gadis itu yang hanya diam sembari menatapnya, Gilang pun kini mengerutkan dahi.
Dan saat ia akan kembali membuka mulut, tiba-tiba pandangannya pun menggelap dan ia pun kini mulai kehilangan kesadaran.
...»»————>✥<————««...
__ADS_1
“Hei, bangunlah!”
Suara yang terdengar begitu merdu dan lembut itupun membuatnya kembali terbangun dan membuka mata.
“Hem, siapa?” Ia bergumam dengan suara lirih.
Kemudian, saat pandangannya mulai jelas. Yang pertama kali Gilang lihat adalah sebuah wajah cantik dari gadis yang ia kenal. Berfikir kalau ini hanyalah mimpi, pemuda itupun kini mengulurkan tangannya dan membelai kulit wajah itu dengan lembut.
“Shera!” Ucapnya, yang memanggil nama gadis itu dengan suara lirih.
Di sisi lain, Shera yang melihat kalau pemuda itu masih setengah sadar pun kini menghela nafas. Kemudian ia menyingkirkan tangan yang menyentuh wajahnya dan berkata. “Kak, jika kamu sudah sadar maka cepat bangunlah!... Mau sampai kapan kau akan meletakkan kepalamu di atas paha seorang gadis?!” Ucapnya, yang membuat Gilang kini tersadar akan sesuatu.
Kepalanya pun segera menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat kalau posisinya kini tengah berbaring di sebuah kursi taman dengan menggunakan paha gadis itu sebagai bantalan kepala. Gilang pun segera membelalakkan matanya dan terduduk dengan wajah terkejut.
"Loh, kok aku bisa ada di sini?!!” Tanyanya, dengan bingung.
Berfikir bahwa ia bisa saja melakukan hal yang buruk kepada gadis itu tanpa ia sadari, Gilang pun segera berkata. “Shera, tadi aku gak ngapa-ngapain kamu kan?!!” Tanyanya, yang benar-benar terlihat begitu panik.
Sedangkan Shera yang mendengar hal itupun kini hanya menggelengkan kepalanya. Walaupun ia tidak tahu dengan apa yang sedang pemuda itu fikiran, namun jika dilihat dari raut wajahnya sepertinya ia kini sedang merasa takut akan suatu hal.
Dan memang begitulah kenyataannya.
Gilang kini sedikit terdiam dan termenung, pikirannya kini berusaha untuk memutar ingatan-ingatan sebelum ia berakhir dengan terbaring di atas paha gadis itu.
Ia ingat kalau dirinya waktu itu sedang berjalan untuk kembali ke dalam kafe, namun saat ia akan masuk, tiba-tiba Ezra pun datang menghampirinya dan berkata bahwa ia tidak bisa menemukan Shera di manapun.
Mendengar hal itu, Gilang pun mengambil inisiatif untuk ikut membantu temannya dengan mencari di area lain. Karena lagipula ia juga merasa khawatir dengan keadaan gadis itu.
__ADS_1
Namun setelahnya...
“Setelahnya apa?!” Gilang kini bertanya dalam hati, benar-benar merasa bingung dengan dirinya sendiri yang tidak dapat mengingat kejadian sebelum ini.
Rasanya sungguh mengganggu, ia seperti telah mengetahui suatu hal, namun entah kenapa ia kini tidak dapat mengingat apapun mengenai hal itu.
“Akh!! Sial, sial, sial!!... Sebenarnya apa yang sudah terjadi?!!” Iya bergumam dalam hati, benar-benar merasa frustasi dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
Di sisi lain, Shera yang melihat bahwa Gilang kini tengah kebingungan itupun berkata. “Tenanglah, tidak ada apapun yang terjadi!” Ucapnya, yang bersikap begitu tenang walaupun ia jelas sedang berbohong.
Sedangkan Gilang yang mendengarnya pun kini kembali menatap ke arah Shera dan berkata. “Tidak ada?... terus gimana caranya aku bisa ada di sini?!” Tanyanya lagi, dengan tatapan mata yang begitu menyelidik.
Mendengar hal itu, Shera pun kini tersenyum tipis. Dan dengan sikap yang begitu tenang ia pun menjawab. “Saat saya akan kembali dari toilet, secara tidak sengaja saya melihat kamu yang sedang berjalan sendirian!” Ia terdiam untuk sesaat, menyusun beberapa kalimat yang tepat sebelum akhirnya kembali berkata. “Saat itu saya merasa curiga karena kamu terlihat seperti tidak sendang baik-baik saja, dan saat saya mengikuti dari belakang, tiba-tiba kau terjatuh pingsan, hal itu pun membuat saya menjadi sangat terkejut dan panik!” Ucapnya lagi, yang menjelaskan mengenai situasi yang di alami oleh pemuda itu.
Yah walaupun sembilan puluh sembilan persennya adalah kebohongan, namun ia harus tetap mengatakannya agar pemuda di hadapannya itu tidak sampai curiga.
“Nah, jika kamu sudah merasa baikan, lebih baik kita segera kembali kepada yang lain!... Aku yakin saat ini mereka pasti sedang kebingungan mencari.” Ucapnya, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah pemuda itu.
Sedangkan Gilang yang mendengar hal itupun kini menganggukkan kepalanya, walaupun dalam hati ia masih merasa ganjil, namun hanya ucapan gadis itulah yang dapat ia percayai di situasi saat ini.
Kemudian, ia pun menerima uluran tangan dari gadis itu. Setelahnya mereka pun segera pergi dari sana untuk kembali kepada yang lain.
Akan tetapi, mengapa di sekitar situ kini hanya ada mereka berdua?
Kemana perginya para remaja yang mengganggu Shera tadi?
Seakan-akan mereka kini telah menghilang di telah bumi.
__ADS_1