
Shera masih menatap punggung kakaknya yang beranjak pergi dengan tatapan bingung, kemudian pandangannya pun beralih pada sepiring makanan yang di letakkan di atas meja tadi.
“Hem...”
...»»————>✥<————««...
Selang beberapa saat pada akhirnya gadis itu kini telah menghabiskan sarapannya, ia pun segera bersiap dan turun ke bawah untuk menemui sang kakak. Sedangkan di sisi lain, Ezra yang sedari tadi menunggunya pun nampak santai duduk di sebuah sofa sembari menonton siaran di televisi.
Salah satu tangannya nampak sibuk memencet-mencet remot selagi tangan satunya memegang sebuah apel yang telah di gigit. Dan saat telinganya mendengar suara langkah kaki seseorang, ia pun segera menoleh ke arah tangga dan melirik sang adik yang baru saja turun.
“Kamu sudah selesai? kita pergi sekarang, oke?” Ucap Ezra sembari berdiri dari duduknya dan meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
Shera yang kini berjalan mendekat ke arahnya pun nampak sedang melirik sekitar, melihat suasana rumah yang sepi dan hanya terdengar suara televisi Shera pun menoleh dan menatap ke arah Ezra dengan bingung sembari bertanya.
“Papa dan mama ke mana?” Tanyanya.
Dan Ezra pun menjawab. “Mereka sudah pergi. Papa langsung pergi setelah menyelesaikan sarapannya, sedangkan mama baru saja pergi beberapa menit yang lalu.” Ucapnya, yang hanya di angguki oleh Shera.
Kemudian Ezra pun mengulurkan salah satu tangannya, memberi isyarat kepada Shera untuk menerima uluran tangan dan bergandengan. Sedangkan Shera yang melihat hal itupun tanpa pikir panjang menerima uluran tangan sang kakak. Tangan gadis itu pun di genggam-nya dengan erat, seolah-olah ia tidak ingin melepaskannya untuk selama-lamanya. Dalam hati Ezra kini merasa begitu senang, dari tangannya yang menggenggam tangan gadis itu, ia pun dapat merasakan sentuhan kulit halus dari sebuah tangan yang tidak lebih besar dari tangannya.
...»»————>✥<————««...
__ADS_1
Ezra kini memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit, pemuda itu terlebih dulu turun dari dalam mobil dan berjalan memutar ke arah sisi lain untuk membukakan adiknya pintu. “Ayo turun, kita sudah sampai!” Ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Sedangkan Shera yang berada di dalam mobil pun kini menganggukkan kepalanya, tangannya pun menerima uluran tangan dari sang kakak. Dan saat mereka berjalan sembari berpegangan tangan, Shera yang tangannya di genggam erat oleh Ezra pun memiringkan kepalanya ke samping dan bertanya.
“Kenapa kita harus bergandengan tangan? Aku bisa berjalan sendiri.” Ucap Shera, yang bertanya dengan bingung.
Ezra yang masih menggenggam tangan gadis itu pun kini sedikit melirik dan tersenyum, ia tidak langsung menjawab. Tampaknya pemuda itu kini sedang berfikir untuk menyusun jawaban yang tepat, dan selang beberapa saat ia pun menjawab.
“Nanti kamu hilang, bagaimana jika nanti kamu di ambil orang?” Ucapnya, yang jelas sedang melontarkan gurauan.
Di sisi lain, Shera yang mendengar ucapan kakaknya itupun kini mengerutkan dahinya. Wajahnya tampak cemberut, dan selagi menggembungkan pipinya seperti balon gadis itu pun bergumam. “Apa maksudnya itu? Aku bukan anak kecil!” Ucapnya yang menggerutu dengan suara lirih.
“Ah, sudahlah jangan ganggu aku!” Shera menepis tangan kakaknya kasar sembari berkata ketus.
Bukannya berhenti, Ezra yang merasa gemas pun kini mencubit hidung gadis itu. Kemudian ia tertawa dengan riang saat Shera memukul-mukul bahunya dengan wajah cemberut yang nampak kesal. Rasanya sama seperti di pijat, pukulan gadis itu sama sekali tidak sakit dan justru malah mengundang gelak tawanya.
...»»————>✥<————««...
Sedangkan di sisi lain, dokter Abian kini nampak resah menunggu kedatangan seseorang. Sedari tadi ia terus berdiri di dekat jendela dan mengintip cela-cela tirai dengan gusar. Beberapa kali pandangannya pun tertuju pada jam dinding, tak jarang juga ia menyingkap lengan bajunya untuk memastikan jam di tangannya.
“Kapan dia akan sampai? Ini sudah lewat beberapa menit dari jam yang telah di jadwalkan!” Gumamnya, yang menggerutu sembari melirik arah jarum jam di tangannya.
__ADS_1
Sejak bangun pagi tadi, jantungnya sudah berdebar-debar tanpa alasan. Ia seperti sedang menantikan sesuatu, terlihat begitu tidak sabar seolah-olah sedang menunggu pujaan hati yang telah pergi selama berpuluh-puluh tahun.
Padahal ini baru lewat dua menit dari jam yang telah di jadwalkan, namun gelagatnya sudah seperti orang yang telah menunggu dari siang sampai malam.
“Ck!” Ia berdecak, mondar-mandir ke sana kemari dan duduk di kursinya dengan gusar. Namun selang beberapa saat, suara ketukan pintu pun terdengar dari luar. Abian yang menyadari kedatangan seseorang pun segera membenahi rambut serta pakaiannya agar terlihat rapih, kemudian mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk kedalam ruangan.
“Iya, silahkan masuk!” Ucapnya, dengan sebuah senyuman yang terpasang apik di wajahnya.
Gagang pintu pun nampak di putar dari luar, sebuah suara lembut yang begitu tidak asing di telinganya pun terdengar dan membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Dan dari pintu yang setengah terbuka, sebuah wajah cantik yang begitu elok pun mengintip dan menyapanya dengan suara riang.
“Halo Bian, selamat siang!”
Sebuah sapaan lembut namun dengan logat bicara yang aneh itu terdengar dan memekarkan senyum di wajahnya. Abian yang melihat kedatangan orang yang di tunggu-tunggu pun berdiri dari duduknya, mempersilahkan gadis itu untuk duduk di salah satu kursi dan menyapanya dengan begitu ramah.
“Hai juga Shera, Bagaimana kabar mu?” Tanyanya, dengan senyum cerah yang terlihat begitu ramah.
Shera yang baru saja duduk pun kini melirik ke arah dokter itu dengan ragu-ragu, kemudian dengan ekspresi wajah yang nampak sedikit kesulitan ia pun berusaha merangkai kata demi kata untuk menjelaskan kondisi yang dirasakannya saat ini. “Kemarin kepalaku sakit, tubuhku juga sakit semua... Di sini, di sini, dan di sini. Tapi sekarang sudah tidak apa.” Ucapnya yang berusaha untuk menjelaskan.
Seperti biasa gadis itu masih buruk dalam merangkai kata-kata, logat bicaranya pun masih belum juga fasih. Namun dengan ketelatenan Abian, pria itupun dapat memahami apa yang gadis itu katakan secara perlahan.
“Apa yang terjadi? Boleh aku memeriksa mu?” Ucapnya, yang bertanya dengan lembut.
__ADS_1