
Suasana di ruangan itupun kini berubah hening, semua orang hanya bisa terdiam dalam keterkejutan. Caroline yang mendengar ucapan suaminya itupun tertegun untuk sesaat, lalu kemudian ia terjatuh dan terduduk di lantai dengan tangisan yang mulai pecah.
Di sisi lain, dari atas tangga Shera sedari tadi mengamati suasana di lantai bawah dalam diam. Gadis itu sama sekali tidak memiliki niat sedikitpun untuk ikut campur, lagipula ini adalah masalah orang dewasa, jadi tidak ada ruang baginya untuk adil dan mengambil sebuah tindakan.
“Oh, jadi mereka akan berpisah?” Ia bergumam dalam hati, kemudian menghela nafasnya pelan dan kembali berkata. “Yah, terserah lah mereka mau apa!.... Yang penting jangan mengangguku apalagi sampai melibatkanku dalam masalah ini!!” Ucapnya, lalu membalikkan badannya dan akan melangkah pergi untuk kembali kekamar.
Namun sebelum itu, Ezra yang secara tak sengaja melihat keberadaannya pun kini segera berjalan menaiki tangga dan mengejar gadis itu.
“Shera!” Panggilnya, dengan suara pelan namun masih dapat didengar.
Shera yang merasa kalau namanya di panggil pun kini menoleh kebelakang dan menatap ke arah sang kakak, kemudian gadis itu menghentikan langkahnya dan berkata. “Ada apa, kak?” Tanyanya, dengan bingung.
Dan saat jarak mereka kini telah dekat, Ezra pun berkata. “Sudah berapa lama kamu di sini?” Tanyanya balik kepada gadis itu.
Mendengar hal itu, Shera pun menaikkan salah satu alisnya dengan bingung. Namun gadis itu masih tetap menjawab. “Aku sudah ada di sini sejak tante berteriak tadi, kenapa?”
“Tidak ada apa-apa!” Ezra kini melirik kearah orang-orang yang ada di lantai bawah. Melihat bahwa suasana di sana masih terasa kurang baik, pemuda itupun meraih tangan adiknya dan membawa gadis itu untuk melangkahkan kakinya ke atas. “Biarkan para orang tua mengurus masalah mereka, kamu ikut sama kakak aja ya?” Ajaknya.
Namun Shera kini justru malah menggelengkan kepalanya dan melepaskan tangannya yang di genggam oleh Ezra, kemudian ia memalingkan wajahnya dan berkata. “Tidak mau, aku masih marah dengan kakak!” Ucapnya, sembari melipat kedua tangannya di depan perut.
Mendengar hal itu, Ezra pun kini menjadi sedikit kesulitan. Kemudian ia terdiam dan memikirkan sebuah cara untuk membujuk adik perempuannya itu. “Emm, apa kamu mau melihat koleksi barang-barang kakak?” Ucapnya, yang memancing gadis itu.
Shera yang pada dasarnya selalu penasaran dengan segala hal baru itupun kini menoleh dan kembali menatap kakaknya, rasa kesal dalam dirinya kini hilang entah kemana dan digantikan dengan rasa penuh antusias serta ingin tau.
__ADS_1
“Tentu, cepat tunjukkan kepadaku!” Ucapnya, yang nampak begitu bersemangat.
Melihat ekspresi unik di wajah adiknya, Ezra pun berusaha keras untuk tidak tertawa. Pemuda itupun kini mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga gadis itu. “Tapi sebelum itu kamu harus berjanji untuk merahasiakan hal ini dari orang lain, gimana?”
“Termasuk papa dan mama?” Shera bertanya untuk lebih jelasnya.
Dan Ezra pun mengangguk. “Ya, termasuk papa dan mama!... Ini rahasia kita, oke?” Ucapnya, sembari menjulurkan jari kelingking sebagai tanda janji.
Sedangkan Shera yang sudah termakan oleh bujukan kakaknya itupun kini menganggukkan kepala dan mengiyakan ucapan Ezra. Kemudian ia melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking sang kakak dan berkata. “Baiknya, aku berjanji akan merahasiakan hal ini dari semua orang!” Ucapnya, dengan begitu yakin dan tanpa ragu.
Mendengar hal itu, Ezra pun kini tersenyum puas. Kemudian ia kembali meraih tangan adiknya dan berjalan menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar Shera.
Begitu Ezra membuka pintunya dan mempersilahkan gadis itu untuk memasuki kamar, Shera pun segera melirik sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Jadi apa yang ingin kakak tunjukkan kepadaku? Aku berharap bahwa nantinya aku tidak akan kecewa, atau kalau tidak aku akan tetap marah dan tidak ingin berbicara lagi dengan mu, kak!” Ancamnya, dengan wajah garang yang justru malah terlihat sangat lucu di mata Ezra.
Pemuda itu pun kini menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Kemudian, ia mendekat kearah Shera dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening gadis itu sembari berkata. “Tenang saja, kakak yakin kamu tidak akan kecewa!” Ucapnya, dengan sebuah senyum penuh arti dan melangkahkan kakinya menuju ranjang.
Ezra kemudian sedikit berjongkok dan meraih sebuah koper besar yang ia sembunyikan di bawah ranjang.
“Wah-wah, itu terlihat sangat mencurigakan, kak!” Ucap Shera, sembari melangkahkan kakinya untuk mendekat dan melihat dengan lebih jelas.
Ezra yang mendengar ucapan adiknya itupun kini hanya terkekeh kecil, kemudian ia segera membuka koper besar itu untuk menunjukkan isi di dalamnya.
__ADS_1
“Ha?! Apakah ini asli?!!” Shera menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangan, menatap tak percaya kepada Ezra di saat pemuda itu menunjukkan isi di dalam koper tadi.
“Tentu saja ini asli, karena itu kamu harus menjaga rahasia!” Ucapnya.
Di dalam koper besar itu penuh dengan berbagai senjata api, ada juga pisau atau belati unik yang tidak bisa di beli dari sembarang tempat.
Shera yang melihatnya pun kini segera berwajah riang, ini adalah kali pertama baginya melihat senjata-senjata yang lebih modern di zaman ini. Namun saat ia ingin mengulurkan tangannya dan akan menyentuh salah satu benda itu, Ezra pun segera menepis tangannya dan berkata.
“Hei, jangan pegang sembarangan!!” Ucapnya, yang melarang gadis itu.
Sedangkan Shera yang tangannya di tepis itupun kini mengerutkan dahinya dan memasang wajah cemberut. Ezra yang melihat hal itupun kini menghela nafasnya dan mengambil senjata yang akan gadis itu sentuh tadi.
“Ck, sebentar!” Ezra mengeluarkan semua peluru yang ada di dalam senjata itu, kemudian kembali mengecek pengamannya untuk berjaga-jaga sebelum diberikan untuk di lihat oleh gadis itu.
“Ini, tapi kamu jangan sentuh-sentuh sembarangan ya! Ini berbahaya, bukan untuk di buat main-main!” Ujarnya, yang memberi peringatan.
Namun sepertinya gadis itu tidak mau mendengarkan dan malah sibuk mengotak atik senjata tadi.
“*Hah, dasar! Untung pelurunya sudah aku keluar*in tadi.” Guamam Ezra dalam hati, setelah melihat kelakuan adiknya itu.
Shera yang sibuk mengamati senjata di tangannya itupun kini kembali melirik kakaknya, kemudian ia berkata. “Ini bukan benda sembarangan, apakah kakak punya izin untuk memilikinya?” Tanyanya, dengan ekspresi wajah yang terlihat ingin tahu.
Mendengar hal itu, Ezra pun kini tersenyum miring. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas rajang dengan posisi terlentang sembari berkata. “Buat apa izin? Ini itu barang ilegal yang belum ada di pasaran!... Jumlahnya sangat terbatas, harganya pun mahal dan tidak sembarangan orang bisa memilikinya!” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan dari adiknya itu tadi.
__ADS_1