Shera

Shera
Pertengkaran antara Braxton dan Caroline.


__ADS_3

Di tempat lain saat ini, Caroline tampak sedang berdiri didekat cendela dengan raut wajah gusar sembari menekan nomor seseorang berulang-ulang kali.


Sudah ada sepuluh paghilan yang telah terabaikan, melihat hal itu ia pun mendengus kesal dan melemparkan handphone nya ke sembarang arah hingga hancur dengan layar yang retak-retak.


Prak!!!


“Hah, sialan!!!” Wanita itu beteriak dengan frustasi, nafasnya pun nampak naik turun disaat hatinya kini telah dikuasai oleh rasa kesal. “Sebenarnya dimana dia sekarang?! Kenapa panggilan ku sama sekali tidak di jawab?!!” Ucapnya, yang terlihat benar-benar marah.


Kedua matanya pun kini kembali melirik kearah luar jendela, melihat bahwa suaminya masih belum pulang sejak malam tadi, Caroline pun melampiaskan amarahnya dengan membanting barang-barang di atas meja.


*Braaak!!!


Pyarrr*!!!!


Suara benda yang terbanting keras dan hancur itupun kini terdengar sangat keras hingga keluar ruangan. Malina yang kebetulan sedang lewat di sekitar situ pun kini tersentak kaget akibat suara gaduh yang disebabkan oleh kakak iparnya itu.


“Yaampun, ada apa?!” Ia bertanya sembari menyentuh dadanya yang terasa berdebar-debar.


Kemudian wanita itu melangkahkan kakinya mendekat dan mengetuk pintu beberapa kali. “Kak, apa ada masalah?... Apa kakak baik-baik saja?” Tanyanya, dengan penuh rasa khawatir.


Namun tak berselang lama, sebuah benda keras yang dilempar ke arah pintu pun terdengar sangat kencang hingga membuat Malina kembali merasa terkejut.


Braak!!!


“Pergi, jangan ganggu aku!!!!” Caroline berteriak dari dalam ruangan setelah melemparkan sebuah sepatu ke arah pintu yang tertutup.


Malina yang mendengar hal itupun kini sedikit mengambil langkah mundur, kedua alisnya pun saling bertautan di saat kakak iparnya itu berteriak kepadanya tanpa alasan.


“Hah, bagaiamana bisa dia seperti itu?!” Ia bergumam dengan suara pelan, benar-benar tak habis fikir dengan kelakuan wanita yang berada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, Ezra pun datang dan menghampirinya. Pemuda itu nampak berjalan dengan langkah kaki cepat setelah mendengar keributan dari kamar paman dan bibinya.


“Ma, ada apa?” Tanyanya, dengan wajah tak kalah panik.


Mendengar hal itu, Malina pun segera menoleh. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak tau!” Jawabnya, dengan suara pelan yang terkesan seperti sedang berbisik.


Setelah itu, ia pun sedikit melirik pintu ruangan yang tertutup tadi. Kemudian kembali menatap ke arah Ezra dan menarik putranya itu untuk sedikit menjauh dari sana. “Sini-sini, lebih baik kita gak usah ikut campur!... Tantemu itu dari dulu memang gak pernah berubah, mama sampai gak habis fikir sama pamanmu yang betah sama dia!!” Ucapnya, sembari terus melangkahkan kakinya pegi.


Sedangkan Ezra yang mendengar hal itupun kini hanya terdiam dan menurut. Tidak ada satupun ucapan dari ibunya yang salah, ia bahkan tidak bisa menyangkalnya. Saat ia berada di luar negri dan tinggal bersama mereka, Ezra lebih sering menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah.


Setiap hari selalu ada perdebatan antara paman dan bibinya, dan hal itupun membuat Ezra sangat tidak betah hingga beberapa kali ia sempat menginap di rumah temannya atau tidur di dalam mobil.


“Ck, pantes om suka main cewek di luar! Kalau istrinya modelan kayak gini emang siapa yang betah?!” Gumam Ezra dalam hati sembari menghela nafasnya dengan panjang.


...»»————>✥<————««...


Saat menjelang waktu makan malam, sebuah mobil pun memasuki halam rumah dan berhenti di dalam garasi. Setelah itu, Braxton pun keluar dari dalam mobil sembari melirik jam yang ada ditangannya.


Namun setelah beberapa langkah, tiba-tiba seseorang pun datang dan menampar pipinya dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara keras yang menarik perhatian semua orang.


Plak!!!!


“Dasar baji**an!!! Darimana saja kau hah?!!!” Caroline bertanya dengan suara membentak sembari melotot tajam ke arah suaminya itu.


Sedangkan Braxton yang baru saja di tampar itu pun kini memegangi pipinya yang terasa panas, kemudian ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan melayangkan sebuah tamparan yang tak kalah keras untuk membalas perbuatan kurang ajar wanita itu.


Plak!!!!


Tubuh Caroline kini terjatuh ke lantai dengan memar di bibir, Braxton yang sudah terlanjur kesal pun kini menujuk kearahnya dengan tatapan tajam sembari berkata. “Kurang ajar!! Apakah begitu caramu memperlakukan ku hah?!” Bentaknya dengan nada tinggi.

__ADS_1


Adam dan Malina yang melihat kejadian itupun kini segera membelalakkan mata dan melangkahkan kakinya untuk melerai pertengkaran mereka berdua.


“Kakak jangan seperti itu!” Adam kini berdiri didepan Braxton untuk menghalangi pria itu dari menghajar Caroline.


Sedangkan malina saat ini berjongkok dan mengulurkan tangannya sembari berkata. “Kakak ipar, apa kamu baik-baik saja?” Tanyanya dengan lembut kepada wanita itu.


Caroline pun kini berusaha berdiri dengan di bantu oleh Malina, kedua matanya pun nampak memerah dan hampir akan menangis. “Kamu... Kamu pergi dengan wanita lain lagi kan?!!” Tanyanya, yang mulai melemparkan tuduhan.


Mendengar hal itu, Braxton pun menjadi semakin kesal. Pria itupun kini mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan akan melayangkan sebuah pukulan kepada istrinya itu.


“Masih berani bicara kau ya!”


Ia mengangkat tangannya, namun sebelum pukulan itu sampai Andam pun segera menahannya. “Kakak, sudahlah!... Jangan di teruskan, hentikan semua ini!!” Ucapnya, dengan sedikit meninggikan suara.


Mendengar hal itu, Braxton pun menurunkan tangannya. Namun masalah masih belum terselesaikan lantaran Caroline yang tidak mau menutup mulut.


“Kenapa hah? Apakah kamu tidak terima jika aku berkata seperti itu?!!.... Apa kamu pikir aku tidak akan mengetahui kelakuan bejatmu dengan pela*ur itu di luar sana?! Kamu baj*ngan, benar-benar baj*ngan!! dasar sampah s*alan!!!” Ucap wanita itu, yang masih berteriak sembari memaki-maki suaminya.


Sedangkan Braxton yang sudah sangat kesal pun kini tak ingin tinggal diam dan mengalah atas perkataan wanita itu, ia dengan penuh emosi dan tanpa pikir panjang pun membuka mulutnya dan berkata. “Kau tidak ada bedanya, bahkan kau jauh lebih buruk!! Sebenarnya aku menikahimu karena kau perkata kepada ayah ku bahwa kau sedang mengandung, namun ternyata itu hanyalah kebohongan!.... Aku tau saat itu kau berpura-pura mengalami keguguran untuk menutupi kebohongan mu itu, tapi aku tetap diam dan membiarkannya saja!!” Teriaknya.


Dan setelah terdiam sebentar, Braxton pun kembali berkata. “Aku berfikir untuk memberimu kesempatan, namun kau malah berkata kepadaku bahwa kau tidak ingin memiliki anak karena khawatir dengan penampilan!!” Ucapnya lagi.


Caroline yang mendengar hal itupun kini membelalakkan matanya, begitu juga dengan Adam dan Malina yang baru mengetahui fakta mengejutkan itu.


“I... Itu tidak benar, a...aku... aku tidak pernah berbohong!!” Caroline menggelengkan kepalanya dan berusaha mengelak ucapan suaminya itu.


Namun apa yang braxton katakan setelahnya sungguh membuat semua orang yang ada di sana terdiam dan kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya.


“Tidak pernah berbohong?” Braxton mengulangi salah satu kalimat yang istri itu katakan, kemudian ia mendengus dan berkata. “Huh, apakah kau sedang bercanda? Kau sendiri juga bermain dengan banyak pria di luar sana, apakah kau berfikir bahwa aku tidak akan tahu mengenai hal itu?!”

__ADS_1


“A...Apa?!!”


“Sudahlah, lebih baik kita bercerai saja, aku sudah lelah dan muak dengan mu!!” Ucap Braxton, yang mengakhiri pertengkaran itu dengan sebuah keputusan yang sangat dingin.


__ADS_2