
Pintu ruangan kini kembali terbuka, menampilkan sesosok wanita paruh baya yang datang bersama dengan seorang pria berseragam guru.
Melihat kedatangan mereka, Shera pun kini mendongakkan kepalanya, sedikit mengerutkan keningnya dan menatap mereka dengan penuh tanda tanya.
“Siapa lagi mereka?.... ” ia bergumam dalam hati, sedikit memiringkan kepalanya ke kiri.
Kemudian, wanita paruh baya itu kini berjalan ke arahnya. Menunjukkan ekspresi khawatir lalu menggenggam tangannya sembari berkata. “Yaampun Non!!.... kok bisa sampai di perban kayak gini?!!” ia sedikit berteriak dengan panik, meletakkan salah satu tangannya pada luka di kepala Shera. “Non... Nona gak apa-apa kan?!.... maaf ya non, saya telat datanya!... soalnya tadi saya habis ngehubungi tuan sama nyonya, katanya mereka bakal segera pulang, sekarang udah dalam perjalanan, dan kayaknya bakal sampai di rumah sore nanti!!” Ujarnya, yang menjelaskan panjang lebar.
Namun Shera yang merasa terganggu dengan sentuhan wanita itupun kini mengerutkan dahinya dengan kesal, tangannya pun segera terangkat dan menepis tangan wanita paruh baya itu dengan kasar sembari berkata. “Jangan sentuh saya sembarangan!!.... saya tidak kenal dengan kamu!!!” Ucapnya dengan begitu ketus.
Bukannya sakit hati, wanita paruh baya itu kini justru malah semakin di buat khawatir. Ia tahu dengan jelas bagaimana kepribadian gadis itu, nona mudanya tidak mungkin akan bersikap sekasar tadi, apalagi kepada orang yang sudah mengasuhnya sedari kecil.
“Non, kok nona ngomongnya gitu sama saya?..... ini bibi!! bibi yang ngerawat non sedari kecil, masak gak ingat?!!” Ucap wanita paruh baya itu dengan wajah sedih.
Kedua tangannya kini menyentuh bahu Shera dengan lembut, berharap gadis itu akan mengenalinya dan tidak bersikap dingin seperti tadi.
Di sisi lain, Shera yang mendengar ucapan dari wanita itupun kini menaikkan salah satu alisnya ke atas. Kemudian tersenyum simpul dan berkata. “Oh? Kamu baby sitter?!.... itu artinya kamu tahu banyak tentang saya?! ” Tanyanya, yang membuat pengasuhnya itu terdiam dengan wajah pucat.
Apakah nona nya ini benar-benar tidak mengenalinya?!.....
Kemudian, wanita paruh baya itu kini melirik ke arah dokter Bian. Menuntut sebuah penjelasan mengenai sifat nona nya yang tiba-tiba berubah. “Dok, dia kenapa?!... hilang ingatan kah?!!” Ucapnya, yang bertanya sembari menebak-nebak.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Dokter Bian pun kini menghela nafasnya dengan berat. Kemudian ia menganggukkan kepalanya dan berkata. “Saya rasa begitu!.... Karena tadi ia sempat linglung dengan dirinya sendiri, dan sampai sekarang ia mengaku bahwa namanya adalah Shera!! ” Jawabannya.
Setelah mendengar penjelasan itu, wanita paruh baya tadi pun kini kembali menatap ke arah Shera, raut wajahnya pun terlihat begitu sedih dan prihatin atas apa yang menimpa gadis ini. “Yaampun nak, kasihan sekali kamu!... ” ia menitihkan air matanya, tiba-tiba memeluk tubuh Shera sembari berkata. “....nama kamu itu Maya, bukan Shera nak!!” Ucapnya, yang mencoba untuk memberitahukan kebenaran.
Namun entah bagaimana, sebuah gelas kaca pun tiba-tiba terlempar dari suatu arah dan hampir saja mengenai kepalanya.
Wussssss~
Pyaaarrrrrrr!!!.....
Suara keras dari benda rapuh yang pecah akibat membentur dinding itu terdengar jelas, membuat semua orang terdiam di tempat sembari membelalakkan matanya dengan begitu terkejut.
Di sisi lain, Shera yang masih di peluk oleh wanita paruh baya tadi itu kini tersenyum miring, lalu ia pun berbisik tepat di telinganya. “Jangan panggil saya Maya!!.... Nama saya adalah Shera, dan saya tidak mau di panggil dengan nama lain selain nama itu!! ” Ucapnya, dengan nada dingin yang begitu menekan.
“Apa itu tadi?!!.... ” Dokter Bian sedikit bergumam kaget, pandangannya kini tertuju pada pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Sama halnya dengan kedua guru tadi, mereka kini juga merasa sangat terkejut. Dan hal itupun membuat fokus mereka teralihkan hingga tidak menyadari perbuatan Shera.
“Bibi tidak apa-apa?... ” Gadis itu kini bertanya, menatap wanita paruh baya tadi dengan raut wajah khawatir. “.... Apa bibi terluka?.... Gelas tadi hampir melukai kepala bibi, Shera sangat takut!! ” Ujarnya, yang membuat wanita itu semakin menatapnya dengan penuh waspada.
“Si...Siapa dia?!! ” Ia bergumam, kedua tangannya kini bergetar selagi kakinya melangkah mundur untuk menjaga jarak dari gadis itu. “Dia bukan nona yang aku kenal, wajah dan rupanya memang sama!.... namun entah mengapa ia seperti orang yang berbeda. ” Gumamnya lagi.
__ADS_1
Shera yang melihat kepanikan dalam diri wanita itupun kini tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya mendekat dan menempelkan alat stetoskop pada dada sang pengasuh.
Dug!!!..... Dug!!!..... Dug!!!....
Mendengar irama jantung yang tidak beraturan, Shera pun kini mendongakkan kepalanya dan menatap wanita paruh baya tadi sembari berkata. “Hem? jantung bibi berdetak dengan sangat kencang!...Seperti akan meledak dan hancur di dalam sana!!” Ucap gadis itu dengan wajah khawatir.
Namun ucapan serta tatapannya yang dalam itu seolah-olah sedang mengisyaratkan suatu hal.
Membuat wanita paruh baya tadi menepis tangan Shera dengan kasar sembari menatapnya dengan penuh rasa takut.
Dan hal itupun memancing perhatian semua orang untuk menatap ke arahnya.
“Bibi kenapa__”
Belum sempat Shera menyelesaikan kata-katanya, namun ucapannya itu segera di potong oleh wanita paruh baya tadi. “Sa...Saya akan pergi dulu!!.... ” Ia tampak gelisah dan ketakutan, kemudian melangkah mundur secara perlahan sembari berkata. “..... No... Nona tunggu saja di sini, tuan dan nyonya pasti akan segera datang!...sa... saya ada urusan mendesak jadi harus segera pergi, maaf!!! ” Ucapnya, kemudian benar-benar pergi dan meninggalkan ruangan itu dengan begitu terburu-buru.
Shera yang melihatnya itu pun kini mengerutkan dahinya dengan heran, padahal ia hanya menyuruh wanita itu untuk tidak memanggilnya dengan nama Maya. Namun mengapa reaksi yang di tunjukannya begitu berlebihan?
“Kenapa aku di tinggal?!... ” Ia berseru sembari menatap kepergian sang pengasuh dengan penuh keheranan.
Sungguh terdengar lucu!!...
__ADS_1
Apakah gadis itu benar-benar tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu?!.... Bagaimana bisa ia menanyakan sebuah hal yang di sebabkan oleh perbuatannya sendiri?!.... Ia kini bagaikan seseorang yang menusuk perut orang lain dan bertanya mengapa perutnya berdarah.
Sedangkan dokter Bian dan kedua guru tadi kini hanya bisa terbengong-bengong di tempat, jelas ada sesuatu yang mereka lewatkan, tapi apakah itu?