Shera

Shera
habiskan satu malam dengan ku!


__ADS_3

Arka pun segera melajukan motornya pergi dari sana, meninggalkan Shera yang hanya sendirian dengan Braxton yang menemani. Mungkin karena Braxton adalah paman dari gadis itu, Arka pun berfikir bahwa ia akan tetap aman. Namun sayang sekali, pemikirannya mengenai Braxton itu adalah salah besar. Gadis itu mungkin menyuruhnya pergi dan seolah-olah lebih ingin pulang bersama pamannya, namun yang tidak ia ketahui adalah bahwa itu semua sebenarnya di lakukan untuk melindunginya.


Shera yang menatap kepergiannya pun kini hanya diam, gadis itu ingin memastikan kalau pemuda itu benar telah pergi hingga menghilang dari pandangan. Dan setelah di rasa cukup aman, ia pun menoleh ke samping dan menatap pamannya itu dengan sangat tajam dan benci. “Untuk apa anda membawa benda seperti itu? Apakah untuk membunuh seseorang?!” Tanyanya, dengan begitu marah dan penuh curiga.


Sedangkan Braxton yang mendengar hal itu pun kini menaikkan salah satu alisnya, kemudian setelah terdiam beberapa lama ia pun terkekeh. “Wah-wah, kamu tau dari mana?” Tanyanya balik, sembari meraih pistol yang ia sembunyikan dengan salah satu tangan.


Shera yang melihat pamannya memegang pistol itupun kini mengerutkan dahinya, kemudian ia berkata. “Langsung saja, apa yang om inginkan?... Kenapa om selalu mengganggu saya? Sebenarnya saya ada salah apa ke Om?!” Tanyanya, yang benar-benar merasa terganggu dengan setiap tindakan pamannya itu.


Bukannya merasa bersalah, Braxton kini justru tersenyum licik. Kemudian ia mengarahkan pistol di tangannya itu ke kepala Shera sembari berkata. “Kamu tidak pernah berbuat salah sayang, hanya saja ada sesuatu yang aku inginkan darimu!” Ucapnya, dan saat melihat gadis itu semakin mengerutkan dahinya, Braxton pun kembali berkata. “Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Jika kau mau menerima kesepakatan ini maka aku berjanji tidak akan mengganggu mu lagi!” Tawarnya.


Mendengar hal itu, Shera pun kini menatap Braxton penuh curiga. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak bisa di percaya, mendengar bahwa ia ingin melakukan kesepakatan, Shera pun merasa ragu untuk menerimanya. “Kesepakatan? Kesepakatan apa yang sedang anda maksud?!” Tanyanya, masih dengan tatapan tajam yang penuh akan kecurigaan.


Braxton pun mengambil satu langkah untuk semakin mendekat pada gadis itu, kemudian meraih pinggang rampingnya hingga jarak di antara mereka kini benar-benar tidak ada. “Habiskan satu malam dengan ku, maka aku tidak akan menganggu mu lagi!” Ucapnya, sembari berbisik tepat di telinga Shera.


Shera yang mendengar hal itupun kini segera mendorong tubuh Braxton dan melepaskan diri dari pelukannya, kemudian ia meludah ke arah wajah pria itu dan berkata. “Bia*ap! Bagaimana bisa anda berbicara seperti itu kepada saya? Apakah di mata anda saya adalah wanita murahan?!!” Ucapnya, dengan penuh amarah.

__ADS_1


Apa yang pamannya katakan itu tadi telah benar-benar merendahkan harga dirinya. Shera adalah seorang wanita terhormat, seorang nona yang memiliki harga diri yang tinggi. Mengetahui betapa kotor dan mesumnya pemikiran sang paman tentangnya, Shera pun jelas merasa sangat marah dan kesal.


Di sisi lain, Braxton yang wajahnya di ludahi itupun kini justru tersenyum dan terkekeh kecil. Kemudian ia mengusap wajahnya yang kotor dan menjilati sisa air ludah yang menempel pada tangannya tadi. “Hah, kenapa kau selalu menolak ku?” Ia bertanya dengan sedikit bergumam, kemudian meraih tangan Shera kembali dan mencengkramnya dengan sangat erat. “Aku bisa mengabulkan semua keinginan mu! Jika kau menurut dan mau menjadi wanita ku maka aku akan memanjakanmu dan memperlakukanmu seperti seorang ratu!” Ucapnya, namun segera di sangkal oleh Shera.


“Ratu mana yang di perlakukan seperti seorang pel*cur?!!... Anda jelas memandang saya seperti wanita penghibur yang menghangatkan ranjang anda di malam hari!!” Ucapnya, dengan nafas yang mulai mengebu-ngebu.


Braxton yang mendengar hal itupun kini mulai kehilangan kesabarannya, gadis ini begitu keras kepala dan sangat sulit untuk di tahlukkan. “Baiklah jika kau berfikir seperti itu... ” Ia menjeda, menarik gadis itu agar masuk kedalam mobil dan menindih tubuhnya di kursi bagian belakang. “... Maka sekarang aku akan menunjukkan kepadamu, bagaimana caraku memperlakukan para wanita seperti mereka!” Ucapnya, lalu tanpa aba-aba pria itupun segera menyerang Shera dengan beberapa kecupan di leher dan menahan kedua tangan gadis itu agar tidak bisa memberontak.


“Aaah! Apa yang kau lakukan?!! Dasar baj*ngan! Bia*ap!! lelaki hidung belang!!” Teriak Shera sembari memaki-maki pamannya itu atas tindakannya yang kurang ajar ini.


“Jika kau terus mendekat maka aku akan menembak!” Ucapnya, yang mengancam sembari mengarahkan pistol tersebut ke kepala pamannya itu.


Sedangkan Braxton yang melihat hal itupun kini nampak begitu tenang, alih-alih merasa takut pria itu kini justru tersenyum miring dan berkata. “Hem? Coba saja! Aku ingin melihat seberapa besar keberanianmu.” Ucapnya, yang seolah-olah dirinya begitu yakin bahwa gadis itu tidak akan sanggup menembak dan membunuhnya dengan tangannya sendiri.


Namun...

__ADS_1


Dorrr!!!!


Suara tembakkan itu terdengar begitu kencang, Braxton yang berfikir bahwa dirinya kini telah tertembak pun memejamkan kedua matanya erat-erat. Namun setelah beberapa saat, ia pun tidak merasakan apapun, semuanya terasa hening.


Merasa kalau ada sesuatu yang aneh, Braxton pun perlahan-lahan mulai membuka matanya. Dilihatnya sekujur tubuh, bersih dan tidak ada luka atau percikan darah sedikitpun. Kemudian, pandangannya pun beralih untuk menatap Shera, namun rupa-rupanya gadis itu kini telah menghilang dan tidak ada di tempatnya lagi.


“Kemana dia?!” Braxton menengok kesana-sini, mencari-cari keberadaan gadis itu yang keberadaannya sudah tidak terlihat lagi oleh mata.


Dan selagi ia melirik sekitarnya, secara tidak sengaja ia pun melihat bekas tembakkan pada salah satu bagian sisi mobilnya. Braxton yang melihat hal itupun kini menjadi semakin yakin bahwa gadis itu tadi memang sengaja mengarahkan tembakkan nya ke arah lain agar tidak mengenai dirinya.


“Dia jelas-jelas tidak bisa membunuhku!” Gumamnya pelan.


Namun yang jadi pertanyaannya adalah, kemana gadis itu pergi?.... Braxton hanya memejamkan kedua matanya selama beberapa detik, posisi gadis itu tadi masih tepat berada di bawah tubuhnya, pintu mobil pun juga masih tertutup rapat, lalu bagaimana bisa gadis itu melarikan diri?... Apakah dia hantu yang bisa menembus dinding?


“Ck, pergi ke mana kau?!” Braxton menggeram rendah, kemudian mulai menyalakan mobilnya untuk mencari keberadaan Shera yang menghilang secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Awas saja kalau tertangkap, walaupun kau menjerit atau menangis sekalipun aku tetap tidak akan pernah melepaskan mu!” Ucapnya, yang benar-benar ingin memiliki gadis itu sebagai wanitanya walaupun tahu kalau ia adalah keponakannya sendiri.


__ADS_2