
Suara rintik hujan yang cukup deras itu seakan-akan menjadi sebuah melodi di pagi hari, angin dingin nan sejuk pun menerobos masuk melalui jendela yang terbuka.
Shera yang sedang tertidur pulas pun kini mulai mengerjapkan matanya, ia terbangun, bangkit dari ranjang dan menatap sekelilingnya yang nampak asing.
“Ini bukan kamarku!” Gumamnya pelan.
Kemudian, gadis itupun menundukkan kepalanya, menatap ke arah sang kakak yang kini nampak sedang tertidur pulas dengan hanya beralaskan karpet dan sebuah bantal di kepalanya.
Melihat hal itu, Shera pun kini segera membelalakkan kedua matanya. Gadis itu nampak sangat terkejut dengan apa yang kakaknya itu lakukan saat ini.
Bagaimana bisa pemuda itu tidur di atas lantai dalam cuaca yang dingin seperti ini?
“Kakak!”
Shera segera turun dan berjongkok untuk membangunkan Ezra. Namun karena tidak ada respon, Shera pun menepuk bahu Ezra dengan tangannya dan sedikit mengguncang-guncang tubuh pemuda itu hingga ia terbangun dari tidurnya.
“Kakak, kenapa kamu tidur di sini?!” Tanya Shera, di saat pemuda itu kini telah membuka matanya dan menatap kearahnya.
Ezra yang baru saja terbangun pun kini nampak terdiam dan melamun sebenar, kemudian setelah itu ia pun mendudukkan dirinya dan berkata. “Oh, kakak lihat kamu tidurnya nyenyak banget, jadi kakak gak tega buat ngebangunin kamu!” Ucapnya.
Mendengar hal itu, Shera pun mengerutkan dahinya, kemudian ia kembali berkata. “Tapi tempat tidurnya sangat luas, itu bisa menampung dua sampai tiga orang, kakak masih bisa tidur di atas sana!” Ucapnya.
Dan Ezra pun hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia menatap ke arah jam dinding dan berkata. “Sekarang udah mau jam enam, kamu gak siap-siap buat pergi ke sekolah?” Tanyanya, untuk mengalihkan pembicaraan.
Lagipula mana mungkin ia mau berkata dengan jujur kepada gadis itu?
Sedangkan Shera yang mendengarnya pun kini berkata. “Tidak ada sekolah, sekarang hari sabtu!” Ucapnya, kemudian ia bangkit berdiri dan kembali berkata. “Sekarang sedang hujan, lebih baik kakak tidur di atas kasur dan menyelimuti diri dengan selimut yang hangat!... Aku akan kembali ke kamarku sendiri, jadi kakak bisa tidur dengan leluasa.” Ucapnya, dan setelah itu ia pun benar-benar pergi.
Ezra yang di tinggal sendirian itu pun kini menghela nafasnya, jujur saja ia masih sangat mengantuk. Dengan gerakan malas, pemuda itupun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.
__ADS_1
Posisi tubuhnya kini tengkurap, ia membenamkan wajahnya di permukaan bantal yang empuk. Menghirup aroma wangi dari gadis itu yang masih samar-samar menempel, kedua sudut bibir Ezra pun melengkung dan membentuk senyuman tipis.
...»»————>✥<————««...
Di sisi lain, Braxton dan Caroline kini nampak sedang berada di dalam ruangan yang sama. Pertengkaran memang telah berakhir tadi malam, namun suasana di antara mereka kini masih terasa canggung.
Keputusan Braxton untuk menceraikan Caroline sama sekali tidak berubah, ia masih kekeh dengan pilihan itu. Hidup selama bertahun-tahun dengan wanita seperti ini benar-benar sangat memuakkan, jika dulu masih ada ayahnya yang menghentikannya dari menceraikan wanita itu, namun sekarang sudah tidak ada lagi.
Ayahnya telah mati, dan alasannya untuk mempertahankan pernikahan ini juga sudah tidak ada.
Caroline kini nampak sedang mengemasi barang-barang nya ke dalam koper, matanya masih terlihat sembab dan sedikit merah. Sesekali ia pun juga melirik kearah Braxton yang sedang memalingkan muka, kemudian ia menundukkan kepalanya dan menatap jari manisnya yang kini nampak belang lantaran cincin pernikahan yang selama ini ia kenakan telah dilepaskan dari tangannya.
“Awas saja, aku pasti akan membalas mu!!” Gumam wanita itu dalam hati.
Ia nampak sangat marah, jelas sekali ia menyimpan sebuah dendam kepada Braxton dan keluarga ini.
Setelah selesai mengemasi barang-barang miliknya, Caroline pun segera melangkahkan kakinya keluar. Ia berjalan melewati ruang keluarga, Adam dan Malina yang berada di sana pun kini saling melirik. Tidak ada satupun di antara mereka berdua yang memiliki inisiatif untuk menghentikan wanita itu. Masalah ini telah berada di luar jangkauan mereka, mereka hanya bisa diam di tempatnya dengan perasaan tak enak.
Memikirkan hal itu, Adam pun kini menghela nafasnya dengan berat. Ada-ada saja masalah yang menimpa keluarga ini, entah kapan mereka bisa hidup dengan tenang tanpa ada angin kencang yang mengganggu.
Di sisi lain, Shera yang berada di lantai atas pun kini nampak sedang memandangi kepergian Caroline dengan diam. Wajahnya sangat datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, tatapan matanya terasa sangat dingin dan kelam.
Melihat aura gelap di sekitar Caroline, Shera pun kini perlahan-lahan mulai mengerutkan dahinya. “Kebencian seorang wanita memang sangat mengerikan!” Ia bergumam, kemudian terdiam untuk sesaat sebelum melanjutkan. “Namun selama ia tidak berusaha untuk menyakiti keluarga ini, maka aku akan membiarkannya tetap hidup!” Gumamnya lagi dalam hati.
...»»————>✥<————««...
Di tempat lain, suasana hujan masih dapat terlihat dari butiran-butiran air yang membasahi kaca jendela. Arsenio yang berada di dalam ruangan itupun sedari tadi hanya duduk terdiam dengan secangkir kopi dan rokok di tangannya.
Walau suasana pagi kini terasa sangat dingin hingga menusuk kulit, namun pria itu masih tetap baik-baik saja dengan bertelanjang dada dan memamerkan otot-otot tubuhnya yang kekar dan seksi.
__ADS_1
Kemudian, saat suara ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara seseorang yang memanggil namanya, ia pun segera menolehkan pandangannya dan sedikit melirik untuk berkata.
“Kau lagi Finn? Ada apa?” Tanyanya, tanpa mau mempersilahkan anak buahnya itu untuk masuk ke dalam.
Mendengar suara tuannya, Finn pun segera menjawab dari luar. “Hanya ingin mengingatkan untuk pertemuan nanti malam, tuan!” Ucapnya singkat.
Arsenio pun menganggukkan kepalanya pelan, kemudian dengan santai ia pun berkata. “Hem, aku tau!... Sekarang pergilah, jangan menggangguku, Finn!” Ucapnya, yang segera dipatuhi oleh sang bawahan.
“Baik tuan!” Finn mengangguk, kemudian ia segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana dan membiarkan tuannya sendiri menikmati waktu.
...»»————>✥<————««...
Waktu berlalu, haripun sudah mulai petang dan memasuki waktu maghrib. Shera yang ada di dalam kamarnya kini nampak sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon sembari membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap di atas ranjang.
Sesekali ia nampak tersenyum dan tertawa ketika berbicara dengan orang tersebut, raut wajahnya pun terlihat begitu ceria dan seakan-akan menunjukkan kedekatannya dengan seseorang yang sedang berbicara dengannya saat ini.
Gadis itu memeluk sebuah bantal dan terkekeh kecil, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan berkata kepada seseorang yang berbicara melalui telepon itu. “Ah tidak-tidak!... Aku tidak sedang sibuk.” Ujarnya, lalu ia pun kembali berkata. “Arka, apakah kamu punya sesuatu untuk dikatakan kepada ku?” Ucapnya yang mulai bertanya.
Mendengar hal itu, Arka yang sedari tadi berbicara dengan Shera melalui telepon pun kini sedikit terdiam. Entah kenapa ia merasa ragu untuk mengatakan niatnya menghubungi gadis ini.
Dan setelah beberapa saat Shera menunggu jawaban, pemuda itupun kini akhirnya berkata. “Shera, sebenarnya aku mau ngajakin kamu pergi malam ini... Tapi kalau kamu gak mau ya gak apa-apa sih, barang kali kamu udah punya rencana lain, mungkin?” Ucapnya, yang terdengar begitu kaku dan canggung.
Sangat jelas bahwa saat ini pemuda itu sedang merasa sangat gugup.
“Pergi? Kemana?” Shera bertanya dan sedikit merasa penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Arka pun segera menjawab. “Ketempat yang seru, kalau kamu mau nanti malam sekitaran jam sepuluh aku bakal datang buat jemput kamu, oke?”
“Emm, oke!”
__ADS_1
Setelah sedikit terdiam beberapa lama untuk berfikir, gadis itupun pada akhir menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ajakan dari pemuda itu.