
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, beberapa siswa dan siswi kini nampak sedang berkerumun di depan area kamar mandi putri. Raut wajah mereka pun kini terlihat begitu bingung, ada juga yang terlihat panik sembari berteriak memanggil-manggil guru untuk segera datang kemarin.
“Hei, ada apa ini kok ribut-ribut?!!” Tanya seorang guru yang kini baru saja datang setelah berlari dengan tergesa-gesa.
Melihat kedatangan sang guru, salah seorang siswa pun segera berkata dengan raut wajah khawatir bercampur panik. “Pak, di dalam ada anak yang pingsan!! ”
“Iya Pak, kepalanya berdarah tuh!! ”
“Kayaknya dia udah ada di sana sedari kemarin deh!... soalnya saya udah sampai di sekolah sebelum pintu gerbang di buka. ” Ucap anak-anak lain, dengan raut wajah yang tak kalah panik.
Mendengar hal itu, sang guru pun segera membelah keramaian para siswa, kemudian ia masuk kedalam salah satu bilik kamar mandi dan mendapati adanya seorang siswi yang kini tergeletak pingsan di lantai dengan darah-darah yang bercucuran dari kepalanya.
“Astaghfirullah!!! nak, hei kamu kenapa?!! ” Guru itu berteriak dengan sangat kaget, pemandangan di pagi hari itu benar-benar sangat memilukan untuk di lihat.
Kemudian, guru itu pun menolehkan wajahnya ke belakang, melirik ke arah beberapa siswa laki-laki sembari berkata. “Kalian, cepat bantu bapak angkat dia!.... terus sisanya hubungi pak kepala sekolah!! ” Perintahnya, kemudian menambahkan. “Oh iya, di sini ada yang tau dia anak kelas mana?... kalau ada yang tau cepat kalian panggil wali kelasnya, sekalian suruh hubungi orang tua anak ini!! ” Ucapnya lagi, lalu segera membawa gadis itu pergi dengan di bantu oleh beberapa siswa yang lain.
Di sisi lain, si ketua OSIS yang baru saja datang ke sekolah dengan menaiki sepeda motornya itupun kini mengerutkan dahinya dengan heran, pandangannya kini tertuju pada segerumbulan siswa-siswi yang tampak ribut di depan kamar mandi putri.
Dan karena merasa begitu penasaran, ia pun memanggil seorang siswa yang merupakan adik kelasnya. “Hei, kamu cepat ke sini!! ” Perintahnya sembari melambai-lambai kan tangan.
Menyuruh adik kelasnya itu untuk segera mendekat ke arah nya.
“Iya kak, ada apa? ” Siswa itu bertanya dengan begitu sopan, sedikit merasa segan dengan sosok ketua OSIS yang terkenal dingin dan galak.
Dan saat siswa itu telah berada di hadapannya, si ketua OSIS pun mulai berkata. “Itu kenapa kok rame-rame? ” ia bertanya sembari menunjuk ke suatu ara dengan dagunya. “Ada anak yang berantem lagi ya?! ” Tanyanya lagi, yang menduga-duga dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Mendengar pertanyaan dari si ketua OSIS itu, siswa tadi pun menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia pun berkata. “Itu kak... teman sekelas saya katanya ada yang pingsan di dalam kamar mandi! ” Jawabnya.
__ADS_1
“Loh? kok bisa?! ” Si ketua OSIS itu kembali bertanya.
Dan siswa tadi pun mengangkat kedua bahunya dengan tidak tahu, kemudian ia kembali menjawab. “Gak tau kak, saya juga baru dengar!.... katanya temen-temen yang pingsan itu si Maya, sekarang anaknya udah di bawa ke rumah sakit sama pak guru!! ” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan dari kakak kelasnya itu.
Sedangkan si ketua OSIS yang mendengar jawaban dari adik kelasnya itupun kini mengangguk-angguk kan kepalanya, mengerti dengan kata-kata yang anak itu sampaikan. “Oh gitu ya?... ” ia bergumam dengan suara pelan, kemudian melirik siswa tadi yang kini nampak menunggu izin darinya. “Ya udah kalau gitu, kamu boleh pergi sekarang! ” Ucapnya, yang peka akan ketakutan para siswa-siswa lain terhadap dirinya.
...»»————>✥<————««...
Dari arah kejauhan, beberapa siswi perempuan kini tampak sedang bersembunyi sembari mengintip situasi sekitar. Raut wajah mereka pun kini tampak begitu panik dan ketakutan, seolah-olah mereka adalah buronan yang sedang di kejar-kejar polisi.
“Heh, gimana nih?! ” Tanya salah satu di antara mereka dengan berbisik.
Mendengar pertanyaan itu, salah seorang temannya pun berkata. “Ya mana gue tau!!... kan waktu itu kita cuman nyelupin kepala dia di WC, kok bisa sih ada darah?! ” Ucapnya, yang kini tampak bingung.
Sedangkan seorang siswi yang berambut pendek kini tampak sedang menggigit jari-jari tangannya dengan gelisah, kemudian ia menepuk bahu temannya dan berkata. "Eh, mending kita cabut aja deh!!.... gua takut ketahuan sama guru!! ” ia terdiam untuk sesaat, melirik ke sana ke mari dan kembali berkata. “Gua juga gak tau sih kenapa kepalanya si cupu sampai bisa berdarah gitu, padahal pas kita tinggalin dia masih baik-baik aja!! ” Ucapnya, yang di angguki oleh yang lain.
“Ho'oh tuh, kan bukan kita yang bikin kepala dia berdarah!! ”
“Mangkanya, mending sekarang kita kabur aja!!.... gua pingin pulang, takut banget gue kalau sampai ketahuan sama guru! yang ada malah nanti orang tua gue di panggil terus gue di keluarin dari sekolah lagi!!” Ucap mereka.
Kemudian, tanpa membuang-buang waktu lagi merekapun akhirnya keluar dari sekolah tanpa ada satupun orang yang menyadarinya.
Dan apakah mereka kini telah menyesal atas perbuatannya?.... oh tentu tidak, alih-alih menyesal. Siswi-siswi itu bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun, yang ada hanyalah rasa takut akan hukuman.
Yang mereka pentingkan hanyalah diri sendiri saja, mereka tidak merasa kasihan ataupun perduli dengan keadaan gadis yang mereka buli kemarin.
...»»————>✥<————««...
Maya, dia adalah seorang gadis remaja berusia enam belas tahun. Sifatnya yang pendiam dan pemalu itu membuatnya tak dapat bergaul dengan teman-teman sebayanya.
Setiap hari gadis itu selalu menampakkan wajah murung, kepalanya yang selalu tertunduk ke bawah membuat rambut panjangnya jatuh dan menutupi wajah cantiknya.
__ADS_1
Saat berkomunikasi dengan orang lain gadis itu sama sekali tak pernah berani untuk saling bertatapan mata, cara bicaranya pun juga tidak lancar dan selalu terbata-bata. Membuat siapapun akan merasa enggan dan malas untuk menjalin hubungan dengannya.
Karena itulah, orang-orang pun menganggapnya sebagai gadis aneh dan mulai menjauhinya.
Di sisi lain, seorang dokter kini terlihat sedang memeriksa keadaan gadis itu dengan penuh hati-hati. Raut wajahnya pun juga tampak serius dengan kerutan mendalam di dahinya.
Dan setelah beberapa saat, ia pun bergumam dalam hati. “Hem, ada yang aneh dengan anak ini!! ” Ia menempelkan alat stetoskop di atas dada gadis remaja itu, memejamkan kedua matanya sembari mengamati suara dari detak jantung yang tidak normal.
Kemudian, ia membuka matanya kembali. Pandangannya pun kini beralih pada luka di kepala sang gadis. “Luka ini pasti disebabkan oleh benturan yang keras, tubuhnya pun terasa dingin dan basah! ” Ia bergumam, dengan lembut memegang luka di kepala gadis itu. “ Anak ini, matanya sedikit bengkak!.... apakah habis menangis? ” Gumamnya lagi, setelah memperhatikan keadaan Maya dengan lebih detail.
...»»————>✥<————««...
Di luar ruang UGD, terlihat ada dua orang guru yang sedari tadi menunggu dengan wajah cemas sembari menatap pintu yang tertutup. Salah satu di antara mereka kini nampak sedang sibuk menghubungi sebuah nomor, namun panggilannya selalu di abaikan sehingga membuatnya menjadi bingung hingga tak tau harus bagaimana.
Dan setelah beberapa saat, ia pun pada akhirnya menyerah dan menghela nafas berat sembari berkata. “Waduh, ini walinya si murid kok gak bisa di hubungi?!! ” Gerutunya dengan kesal.
Seorang guru yang berdiri di sampingnya dan tidak sengaja mendengar gumaman nya itu pun kini berkata. “Pak, kalau nomernya memang tidak bisa di hubungi sebaiknya segera datangi rumahnya aja!.... kasihan itu anaknya yang ada di dalam. ” Ucapnya, yang memberi saran dan masukan.
Mendengar hal itu, ia pun menganggukkan kepalanya dengan setuju, kemudian menepuk bahu guru tadi dan berkata. “Baik Pak, kalau begitu saya pergi dulu! ” Ucapnya.
“Bapak punya alamatnya kan? ” Tanya dari guru yang tadi.
Kemudian di jawab. “Iya pak, kebetulan saya pernah datang ke rumahnya sekali!”
“Oh begitu, iya sudah!.... bapak hati-hati di jalan, maaf saya tidak bisa ikut, soalnya kasihan kalau anak ini di tinggal sendirian! ” Ucapnya, sembari menunjuk ke arah ruang UGD yang tertutup.
Mendengar hal itu, guru yang tadi pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu ia berkata. “Engak apa-apa kok pak!....kalau begitu saya langsung ke sana saja, permisi!! ” Ucapnya, sembari melangkahkan kakinya dan segera pergi dari tempat itu.
Selang beberapa saat, pintu ruang UGD pun kembali terbuka. Membuat sang guru yang sedang menunggu sedari tadi itu pun kini menolehkan kepalanya dan menatap ke arah dokter muda yang baru saja keluar dari ruangan itu. “Dokter, jadi gimana keadaan murid saya?!.... gak ada masalah yang serius, kan?!” Tanyanya, dengan wajah yang benar-benar nampak khawatir.
Mendengar hal itu, sang doker muda itupun kini terdiam untuk sesaat. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari guru itu tadi, namun terlebih dahulu mengajaknya ke suatu ruangan lain agar dapat berbicara dengan lebih leluasa. “Mari pak, keruangan saya! ” Ia sedikit mengangkat salah satu tangannya sebagai tanda arahan.
__ADS_1
Kemudian mempersilahkan guru itu untuk berjalan mengikutinya.