
Setelah mengatakan itu, sosok nya pun kini pergi dan benar-benar menghilang dari pandangan. Seakan-akan keberadaannya tadi itu hanyalah sebuah ilusi yang tak nyata.
Shera yang melihat kepergian gadis itu pun kini berusaha mengejarnya, namun jejak atau bayangannya sama sekali tak terlihat, membuatnya hanya bisa terdiam dan termangu di tempat dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.
“Tunggu, jangan pergi seenaknya!! ” Ia berteriak dengan kesal, merasa seperti orang bodoh yang di abaikan. “Bagaimana bisa kau begitu tidak bertanggung jawab?!!.... setidaknya beritahukan sesuatu mengenai kehidupan mu dan keluargamu, dengan begitu nantinya aku tidak akan begitu kesulitan!!” Ucapnya lagi, yang berusaha untuk membuat Maya muncul di hadapannya kembali.
Namun ucapannya itu sama sekali tidak mendapat respon apapun, walaupun ia sudah menunggu selama beberapa waktu, sosok Maya tetap tidak muncul dan terlihat di hadapannya.
Menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu sia-sia, Shera pun kini menghela nafasnya dengan berat, kemudian kembali menundukkan kepalanya dan menatap bayangannya di air. “Sudahlah kalau begitu, aku akan melakukan apa yang kau minta! ” ia terdiam, kemudian kembali tersenyum. “Hem, lagipula aku sudah mendapatkan sesuatu yang bagus!.... tentu harus membalas budi, bukan?” Gumamnya, kemudian duduk di tanah sembari menikmati kesendirian di danau itu.
...»»————>✥<————««...
Angin dingin kini berhembus kencang melewati jendela kamar, mengganggu kenyamanan tidur seorang gadis hingga membuatnya meringkuk kedinginan di bawah selimut.
Melihat hal itu, sosok pria yang menjaganya sembari duduk di sebuah kursi pun kini berdiri dan melangkahkan kakinya menuju jendela. Kemudian, sebelum menutupnya pria itu terlebih dahulu mendongak ke atas dan menatap langit malam yang gelap.
“Ini sudah lewat tengah malam! ” Ia bergumam dengan suara pelan, kemudian menoleh ke belakang dan menatap wajah putrinya yang sedang tertidur lelap. “Dia masih bisa tertidur seperti itu, sepertinya keadaannya kini baik-baik saja! ” Gumamnya lagi.
Dan setelah ia selesai menutup jendela untuk menghalangi angin dingin masuk, ia pun kembali ke kursi dan duduk di sana sembari memejamkan matanya. “Sepertinya tidak apa-apa jika aku istirahat sebentar! ” Ia menghela nafas panjang. “Hari ini sungguh melelahkan, rasanya besok aku harus mengambil cuti! ” Ucapnya lagi.
Perlahan-lahan, pria itupun kini mulai tertidur. Walaupun posisinya kini sedang terduduk di sebuah kursi, namun nampaknya ia sama sekali tidak terganggu dan justru malah dapat tertidur dengan begitu lelap.
Entah karena itu adalah sebuah kebiasaan atau memang ia sudah begitu lelah dan mengantuk, namun yang jelas, tepat setelah ia menutup matanya, sosok gadis yang tadinya terlelap pun kini bangun dan menatapnya dengan tatapan bingung bercampur penasaran.
__ADS_1
“Siapa orang itu?! ” Shera bertanya-tanya sembari memiringkan kepalanya ke arah kiri.
Mungkin itu adalah kebiasaannya ketika sedang merasa bingung dan heran.
Kemudian, secara perlahan dan tanpa suara, gadis itu pun kini turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah pria tadi. Setelah itu ia pun mengulurkan tangannya, menyentuh wajah pria yang tampak begitu dewasa dengan bulu-bulu halus di bagian dagu dan rahangnya.
“Mungkinkah dia... ” Ia menggantung ucapannya, kemudian melirik sebuah foto keluarga yang terpajang di salah satu sudut dinding. “... Oho! Jadi orang inilah yang harus aku panggil ayah mulai sekarang?! ” Ucapannya lagi, sembari tersenyum penuh arti.
...»»————>✥<————««...
Mata pria itu perlahan terbuka saat sinar mentari pagi merambat masuk melalui sela-sela jendela, membuatnya merasa silau dan terganggu hingga ia terbangun dari tidurnya yang lelap.
Untuk sesaat, ia terdiam. Perlahan-lahan berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali dan menatap sekeliling ruangan dengan dahi yang berkerut. “Oh, aku masih di kamarnya... ” ia bergumam dengan suara serak, kemudian menundukkan kepalanya. “... loh? kenapa bisa aku berasa di atas kasur?.... bukannya semalam aku tidur di kursi?! ” Gumamnya lagi dengan raut wajah terkejut saat menyadari bahwa ia kini duduk di atas tempat tidur putrinya.
Suara lembut nan jernih itu tiba-tiba terdengar dan menarik perhatiannya, membuatnya secara otomatis menoleh dan menatap sosok gadis yang duduk di kursi tempatnya tidur semalam.
“Maya__”
“Tolong panggil saya Shera! ” Ucap gadis itu, yang tiba-tiba memotong kata-katanya di saat ia baru saja menyebut namanya.
Mendengar hal itu, kerutan di dahinya pun semakin bertambah dalam. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang putrinya itu katakan. “Shera? siapa itu?.... kenapa papa harus memanggilmu Shera? namamu kan Maya! ” Ucapnya, sembari menyibak kan selimut dan duduk di tepi ranjang.
Berbeda dengan reaksinya saat orang lain memanggilnya dengan nama ‘Maya’ dan bukan ‘Shera’, gadis itu kini sama sekali tidak marah ataupun berteriak kesal.
__ADS_1
Alih-alih menunjukkan emosinya, ia kini justru malah tersenyum lembut dan menjaga sikapnya dengan begitu sopan dan anggun. “Papa, cedera di kepala saya ini membuat sebagian besar ingatan saya hilang!... ” Ucapnya, kemudian menundukkan kepalanya dan menatap buku diary yang ia pegang. “... Saya tidak mengingat apapun tentang kalian, dan bahkan saya tidak ingat apapun tentang diri saya sendiri! ” Ucapnya lagi, dengan raut wajah sedih.
Apa yang ia katakan barusa itu jelas adalah sebuah alasan, walaupun setengahnya memang merupakan sebuah kebenaran lantaran ia benar-benar tidak tahu mengenai keluarga ini dan Maya.
“Omong kosong apa itu?!! ” Pria itu bersuara dengan nada bicara penuh penekanan. “Jangan bercanda seperti itu dan berhentilah bersikap aneh!!” Ucapnya lagi, dengan begitu tegas.
Walaupun ia sudah menunjukkan wajah galaknya, namun gadis itu masih tetap tenang dan menjawab ucapnya dengan tanpa rasa takut sedikitpun. “Saya tidak sedang bergurau, Pa! ”tegasnya, yang nampak begitu serius. “Saya benar-benar tidak mengingat apapun!.... saya merasa asing dengan nama Maya, saya juga merasa sangat asing dengan tempat ini, saya hanya mengingat bahwa nama saya adalah Shera dan bukan Maya, hanya itu! ” Ucapnya lagi.
Mendengar penjelasan putrinya yang terdengar seperti omong kosong itu, sang ayah pun segera berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah gadis itu dengan wajah marah. “Jangan berbohong!! Bagaimana bisa ada orang yang tidak mengenali dirinya sendiri?!! ” Tanyanya, dengan tidak percaya.
Bahkan karena sangking terkejutnya dengan perkataan putrinya itu, ia tanpa sadar meninggikan nada bicaranya hingga terkesan membentak.
Kemudian, ia memperhatikan putrinya itu dari atas hingga bawah. Sekilas memang tampak seperti orang yang sama, namun entah kenapa pria itu merasa asing dengan putrinya sendiri.
Dari gelagat, sifat, gerak-gerik, dan logat bicara, semuanya begitu berbeda. Ia bagaikan orang asing, orang asing yang tidak pernah dirinya kenal.
“Maya, kamu tahu sendiri bukan kalau papa paling tidak suka di ajak bercanda seperti ini?!!” Pria itu berkata dengan nada mengancam, berharap bahwa putrinya itu akan merasa takut dan menghentikan permainan konyol ini.
Sedangkan Shera yang mendengar hal itu pun kini menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dari duduknya dan menatap sang ayah sembari berkata. “Untuk apa saya melakukan candaan yang sia-sia seperti ini?... ” Ia balik bertanya dengan ekspresi wajah yang begitu menyakinkan. “... Pa, saya sendiri juga sedang merasa kesulitan!.... ketidak tahuan saya akan segala hal membuat saya merasa tertekan!” Ucapnya lagi.
Kemudian, ia menunjukkan buku diary yang ia pegang, lalu menyodorkan nya dan memperlihatkan semua isinya. “Semalam saya terbangun, dan menemukan buku diary yang sepertinya adalah milik saya!... ” Ia terdiam, sengaja untuk memberi jeda agar suasananya lebih terasa dramatis. “.... Saya membacanya, saya membaca semua isi dari buku diary ini dengan harapan bahwa nantinya setelah saya selesai membaca ingatan saya akan kembali!... namun nyatanya tidak, sampai sekarang saya sama sekali tidak mengingat apapun.” Ujar nya, dengan nada bicara yang terdengar lirih.
Sungguh terlihat seperti seseorang yang benar-benar dalam kesulitan.
__ADS_1