
Mendengar hal itu Shera pun kini hanya terdiam, matanya kini menatap lekat-lekat pada kedua mata pria itu. Ia pun mulai merasa ragu, gadis itu mencurigai Arsenio yang akan membawanya ke hadapan sang paman.
“Apakah anda akan menyerahkan saya padanya?” Shera bertanya, namun Arsenio segera menggelengkan kepalanya dan berkata.
“Tidak!”
“Jika kau takut maka aku tidak akan membawa mu kepadanya!” Ucapnya, agar gadis itu berhenti menatapnya dengan penuh rasa curiga seperti itu.
Melihat kedalam mata pria itu yang menunjukkan kejujuran, Shera pun kini sedikit menurunkan kewaspadaannya. Kemudian ia memalingkan wajahnya dan berkata. “Saya tidak ingin menemuinya itu bukan karena saya takut dengannya!” Ucapnya, lalu ia kembali berkata. “Saya telah terikat dengan sebuah janji, dan janji itulah yang membuat saya terjebak dalam situasi seperti ini!” Lanjutnya.
Mendengar hal itu, Arsenio pun menjadi penasaran, namun ia memilih untuk tidak bertanya dan mencari topik lain untuk di bicarakan. “Ah iya, aku belum tau siapa namamu?” Tanyanya.
Dan Shera pun menoleh lalu berkata. “Shera, anda bisa memanggil saya Shera!” jawabnya.
Mendengar hal itu, Arsenio pun sedikit tersenyum tipis, namun senyuman itu terlalu tipis hingga dapat di lihat. “Itu nama yang indah!” Ucapnya yang memberi pujian.
...»»————>✥<————««...
Karena Shera begitu keras kepala dan tak ingin di bawa ke rumah sakit, Arsenio pun kini membawa gadis itu ke hotel tempat ia menginap. Namun begitu mereka memasuki lobi hotel, beberapa orang yang sedang berjalan pun nampak berhenti dan menoleh ke arah mereka dengan tatapan bingung. Para staf dan karyawan di hotel tersebut pun menghentikan kegiatannya dan nampak membeku seperti batu.
Shera yang merasa di pandangi pun kini menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata, sedangkan Arsenio yang menyadari hal itupun kini melepaskan jasnya untuk dikenakan oleh gadis itu. “Pakai ini, dan jangan memperdulikan pandangan orang-orang!” Ucapnya, dengan berbisik.
Mendengar ucapan pria itu, Shera pun hanya menganggukkan kepalanya pelan. Mengetahui kalau Arsenio sama sekali tidak memiliki rencana yang buruk untuknya, Shera pun mengikuti kemanapun pria itu pergi.
__ADS_1
Hingga mereka sampai di depan pintu sebuah kamar, Arsenio pun mempersilahkan gadis itu untuk masuk dan membukakan pintu untuknya. “Kau bisa membersihkan dirimu dan beristirahat di sini, aku akan memesan satu kamar lain!” Ujarnya.
Mendengar hal itu, Shera pun kini menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, kemudian ia membuka mulutnya dan berkata. “Apakah itu tidak masalah? Maaf jika merepotkan...”
“Itu sama sekali tidak merepotkan!” Jawab Arsenio dengan cepat, kemudian ia kembali melirik pintu kamar tadi dan berkata. “Masuklah, jangan mengkhawatirkan paman mu!... Bersamaku kau akan aman darinya.” Ucapnya, yang hanya di balas dengan anggukan kecil oleh Shera.
Gadis itu pun lalu melangkahkan kakinya masuk, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang kotor dengan debu dan darah.
Di sisi lain, Arsenio yang telah telah memastikan kalau gadis itu telah memasuki kamar pun kini meraih handphone di sakunya dan menelepon seseorang. “Bawa beberapa anak buah mu ke sini!... oh yah, dan panggil seorang dokter juga!” Ucapnya, dan setelah memberi perintah ia pun segera menutup panggilan tersebut.
...»»————>✥<————««...
Di dalam kamar mandi saat ini, suara air yang mengalir deras dari shower pun terdengar, aroma sabun yang wangi pun menyebar ke seluruh ruangan. Shera yang mengguyur tubuhnya dengan air pun kini nampak terdiam, kedua matanya terpejam erat, darah yang ada di wajah dan sekujur tubuhnya kini telah bersih, namun samar-samar itu menciptakan warna merah pada air yang mengalir di bawah kakinya.
“Oh tidak, apa yang harus aku pakai?... Tidak mungkin aku memakai bajuku kembali, itu sudah kotor!” Gumamnya, sembari melirik pakaiannya yang benar-benar nampak berantakan dan tidak layak lagi.
Namun selang beberapa saat, suara ketukan pintu pun terdengar. Shera yang menyadari hal itupun segera berjalan menuju pintu dan sedikit membukanya untuk menengok siapakah orang yang ada di luar.
“Siapa?” Shera bertanya, dan saat ia membuka pintu pandangannya pun langsung bertatapan dengan sepasang mata yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
Arsenio kini nampak terdiam dan membeku, gadis itu sebelumnya terlihat seperti hantu kecil dengan darah dan pakaian yang compang camping. Namun sekarang ia terlihat sangat berbeda, darah yang menutupi wajahnya kini telah hilang, Arsenio dapat melihat wajah cantik nan manis itu dengan sangat jelas.
Gadis itu memiliki kulit yang putih mulus, terlihat sangat lembut dan halus hingga ia ingin mencium dan menggigitnya dengan rakus. Bibir gadis itupun juga terlihat sangat menggoda dengan warna merah ceri yang manis. “Haruskah aku melahapnya?” Ia bertanya dalam hati.
__ADS_1
Namun, begitu ia melihat kedua mata gadis itu yang menatapnya dengan tatapan polos dan bingung, hati nuraninya yang sangat jarang berbicara itupun mengatakan tidak. Seolah-olah sedang menyuruhnya untuk menahan diri dan tidak merusak kepercayaan gadis itu terhadapnya.
“Ah, sial!!” Ia bergumam dalam hati, memaki dirinya sendiri yang hampir dibutakan oleh nafsu.
Merasa tak sanggup jika harus bertatapan dengan kedua mata gadis itu terus menerus, Arsenio pun membalikkan badannya dan berkata. “Bajumu pasti telah kotor, kau bisa menggunakan milikku untuk sementara!” Ucapnya, sembari menyodorkan sebuah kaos polos miliknya tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
Melihat hal itu, Shera pun kini tersenyum tipis. Kemudian ia meraih kaos tersebut dan berkata. “Terimakasih!”
“Cepatlah, kau akan kedinginan jika terus berada di kamar mandi!” Ucap Arsenio.
...»»————>✥<————««...
Tak butuh waktu lama bagi Shera untuk berganti pakaian, gadis itu kini melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju balkon tempat Arsenio berdiri saat ini.
“Sir, aku sudah selesai!” Ucapnya, yang membuat pria itu kini segera menoleh ke belakang dan melirik nya.
Melihat kalau gadis itu kini sedang memakai pakaiannya, tanpa sadar jantungnya pun kini mulai berdetak kencang. Pakaian itu nampak sangat kebesaran pada tubuh mungil gadis itu, lutut dan sikutnya bahkan tidak terlihat, di sisi lain itu justru malah memamerkan leher dan bahunya yang indah.
Arsenio bisa melihat leher jenjang gadis itu dengan sangat jelas, rasanya ia seperti ingin meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Namun entah karena ini sebuah godaan atau cobaan untuknya, Arsenio pun lagi-lagi berusaha keras untuk menahan dirinya sendiri.
“Itu.... Pakaian itu nampak bagus saat kau kenakan!” Ucapnya, yang berusaha untuk memberi pujian walaupun dirinya merasa sangat canggung.
Sedangkan Shera yang mendengar hal itupun kini terkekeh, lalu gadis itu berkata. “Sir, anda punya selera humor yang bagus. Namun aku tahu kalau penampilanku saat ini benar-benar buruk!” Ucapnya, dengan nada gurauan.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Arsenio pun kini tersenyum miris. Perkataan gadis itu tidaklah salah, penampilannya kini memang terlihat benar-benar buruk, namun itu dalam artian yang berbeda.