
Shera hanya menganggukkan kepalanya, memberikan izin kepada dokter di hadapannya itu untuk memeriksa kondisinya. Dan selagi pria itu fokus melakukan pemeriksaan, Shera kini malah sibuk memperhatikan dokter Bian dari atas hingga bawah.
Jika di lihat dari jarak sedekat ini dokter itu rupanya terlihat sangat tampan. Sebenarnya ia memang sudah tampan, tapi entah kenapa semakin dekat dan semakin lama ia memperhatikannya dokter itu malah terlihat lebih tampan lagi.
Jas putih yang ia kenakan juga bagus, Shera sangat menyukai tampilan ala-ala dokter. Menurut gadis itu para dokter yang sedang fokus bekerja terlihat sangat keren, mereka seperti kumpulan orang-orang pintar.
“Kenapa? Ada apa, hem?” Bian bertanya kepada gadis itu selagi dirinya sibuk memeriksa.
Walaupun fokusnya tertuju kepada pemeriksaan bukan berarti ia tidak menyadari tatapan mata gadis itu yang sedari tadi terus memperhatikannya.
“Bian, bagaimana caranya jadi dokter?” Tanya Shera dengan ekspresi wajah ingin tahu.
Gadis itu nampak memiringkan kepalanya ke arah samping dan menatapnya dengan penuh tanda tanya, merasa penasaran dan seperti sedang menunggu jawaban darinya.
Mendengar hal itu, Abian pun menoleh dan menatap ke arah gadis itu. Pandangan mereka kini saling bertemu, dan mereka pun saling bertatapan antara satu sama lain.
Melihat ekspresi Shera yang penuh tanda tanya, Abian pun tersenyum lembut. Itu terlihat sangat menggemaskan, bahkan tanpa sadar ia pun mengangkat salah satu tangannya dan mencubit hidung gadis itu pelan karena merasa gemas.
“Kenapa? Apakah kau ingin menjadi dokter?” Tanyanya balik.
“Hemm... Entahlah, aku pikir aku suka jas yang kamu pakai.” Ucap gadis itu sembari mengangkat kedua bahunya.
Abian yang mendengar jawaban yang seperti itupun sontak terkekeh kecil, betapa polosnya jawaban yang gadis itu berikan kepadanya. “Jadi kamu ingin jadi dokter hanya karena suka jasnya saja? Hanya itu?” Ia bertanya dan hampir tertawa.
Sedangkan Shera hanya menganggukkan kepalanya dengan antusias seolah-olah ia bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan.
“Aku ingin memakai jas seperti ini juga!” Shera berkata sembari menyentuh kain lengan pada jas yang Abian kenakan.
__ADS_1
Melihat betapa inginnya gadis itu untuk memakai jas yang seperti miliknya ini, Abian pun tersenyum lembut dan melepaskan jasnya untuk di pinjamkan kepada gadis itu.
“Kamu mau mencobanya?” Pria itu menawarkan, dan Shera pun langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.
Begitu jas putih itu di pakaian kepadanya, sebuah senyum cerah pun terbit di wajahnya yang cantik. Gadis itu pun bertepuk tangan dan nampak begitu girang. Mungkin itu adalah hal yang sangat sederhana, namun beberapa hal yang menurut orang lain sangat sepele terkadang menjadi hal yang sangat luar biasa bagi seseorang–terutama dia yang pernah menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun dalam kehidupan dingin yang sepi.
Sesosok arwah penasaran yang terkurung di dalam satu dimensi yang kelam.
Melihat senyum lebar di wajah manis gadis itu di saat ia sedang tertawa riang, Abian pun mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ke arah Shera.
“Hei Shera! Lihat ke sini!”
Begitu gadis itu menoleh ke arahnya, Abian pun dengan sigap mengambil fotonya. Dan di dalam foto itu Shera nampak begitu cantik dengan senyumnya yang begitu cerah, benar-benar indah hingga membuat jantungnya berdegup kencang.
“Apa itu?” Shera berjalan mendekat ke arahnya, mengintip layar handphone yang Abian pegang dan melihat wajahnya sendiri.
“Oh itu aku!” Gadis itu berseru dengan riang. Dan bukannya marah karena di foto secara tiba-tiba, gadis itu justru malah merasa antusias. “Ayo ambil gambar ku lagi!” Ia merengek, mulai bersikap manja.
Shera pun mulai mengambil pose seolah-olah ia adalah seorang dokter, meniru-niru apa yang Abian lakukan saat sedang fokus memeriksa.
Sedangkan Abian yang melihat hal itupun hanya bisa terkekeh kecil dengan tingkahnya, mereka berdua pun juga sempat berpose bersama, dengan kedua tangan yang di silangkan di depan dada dan ekspresi yang penuh kepercayaan diri.
Hingga tak lama kemudian sebuah ketukan pintu pun terdengar dari luar ruangan.
“Permisi!” Suara seseorang yang begitu tidak asing pun terdengar di telinga Shera.
Gadis itupun segera beranjak dari tempatnya dan membuka pintu ruangan dengan wajah yang masih di hiasi dengan senyuman lebar.
__ADS_1
“Kakak!”
Ia membuka pintunya, tersenyum cerah ke arah sang kakak dan berputar badan untuk memamerkan jas putih yang ia kenakan saat ini.
"Lihat, ini sangat keren!” Ucap gadis itu dengan sangat girang.
Di sisi lain Ezra yang masih berdiri di luar ruangan itupun nampak tertegun dengan penampilan adiknya saat ini. Pasalnya, sedari ia sibuk mengangkat telefon dari teman-temannya. Dan karena ia tidak ingin membuat gadis itu terlambat dari jadwal pemeriksaannya, Ezra pun menyuruhnya untuk pergi duluan.
Namun baru beberapa menit ia melepaskan pandangannya entah apa yang telah gadis nakal ini lakukan.
“Shera, punya siapa ini?” Ezra bertanya dengan bingung.
Kemudian Shera pun menjawab. “Ini milik Bian, dia meminjamkannya kepadaku!” Ucapnya, sambil menunjuk ke arah tempat Abian berdiri saat ini.
Mendengar hal itu, Ezra pun segera mengalihkan pandangannya ke arah tempat yang Shera tunjuk. Melihat seorang pria yang berdiri sembari tersenyum ke arah adiknya, tiba-tiba perasaan Ezra pun menjadi tidak enak.
“Bian? Kenapa kamu memanggil namanya dengan begitu akrab?” Pemuda itu mendengus dan bergumam dalam hati, jelas saat ini ia sedang kesal.
Sedangkan di sisi lain, melihat kehadiran seseorang yang di panggil oleh gadis itu dengan sebutan ‘kakak’ Abian pun melangkahkan kakinya mendekat dan menyapa pemuda itu dengan ramah.
“Halo, saya Abian!” Ucapnya sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Ezra yang masih menatapnya pun kini menerima uluran tangan Abian dan menjabat tangannya dengan wajah tersenyum sembari menahan kesal.
“Senang bertemu dengan anda. Saya Ezra, kakaknya Shera!” Ucapnya dengan nada yang begitu ramah.
Walaupun wajah pemuda itu kini sedang tersenyum dan nada bicaranya terkesan begitu bersahabat, namun entah kenapa jabatan tangannya terasa seperti cengkraman. Apakah pemuda ini sedang mengancamnya? Memperingatkannya untuk tidak terlalu dekat dengan adiknya?
__ADS_1
“Kakak, Bian itu orangnya sangat baik!” Ucap Shera yang membuat suasana hati Ezra kini bertambah buruk.
Dan dengan senyum yang di paksakan, pemuda itu pun berkata. “Iya, tapi kembalikan jas milik dokter itu!” Ucapnya dengan tegas, sangat tidak nyaman rasanya melihat benda milik pria lain terus-menerus menempel di tubuh gadis kesayangannya ini.