
Gadis itu terus berjalan, kedua matanya menatap ke sana ke sini dengan semangat. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, namun yang jelas, senyumnya yang cerah bak sinar mentari itu benar-benar memukau mata.
Membuat semua orang yang berada di sekitarnya tak sanggup untuk mengalihkan pandangan dari sosoknya yang indah itu.
“Dia ke sini!! ” Arka berseru dalam hati.
Jantungnya kini mulai berdebar dengan tidak karuan, sosok indah itu kini tersenyum dengan lebar di saat kedua mata mereka saling bertemu dan memandang.
“Oh! Hai, kita bertemu lagi!! ” Ucap gadis itu yang menyapa dengan gembira, posisinya saat ini sedang berdiri tepat di hadapan Arka yang membatu.
Melihat pemuda di hadapannya yang hanya diam dan tidak mengatakan apapun kepadanya, Shera pun kini mengerutkan keningnya dan memiringkan kepalanya ke arah kiri dengan heran.
“Halo! Hai! selamat pagi, apa kamu bisa melihatku? ” Tanya Shera, sembari melambai-lambaikan salah satu tangannya di depan wajar Arka. Hal itu ia lakukan dengan maksud untuk mengecek apakah pemuda itu kini bisa melihat sosoknya atau tidak.
“Kenapa anak ini hanya diam saya?..... apakah dia sudah mati? ” Gumamnya dalam hati.
Dan entah bagaimana bisa ia mendapatkan asumsi seperti itu hanya karena tidak mendapatkan respon dari pemuda yang ia ajak bicara saat ini.
“Hei, kamu belum mati kan? ” Tanyanya dengan wajah polos, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh hidung Arka yang menurutnya sangat bagus dan mancung.
Namun, sebelum jari telunjuknya benar-benar menyentuh kulit wajah Arka. Pemuda itu pun dengan cepat menepisnya lalu ia berkata dengan nada kasar. “Apaan sih lo?!!.... bisa-bisanya bilang kalau gua udah mati?!!” Ucapnya dengan wajah kesal.
Kemudian ia menatap penampilan gadis itu dari atas hingga bawah lalu kemudian kembali berkata. “Lu beneran sekolah di sini?!.... kok selama ini gua gak pernah lihat?! ” Tanyanya, yang pada akhirnya mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan gadis itu.
__ADS_1
Mendengar Arka yang mulai berbicara kepadanya, Shera pun kini tersenyum dengan lembut. Kemudian ia menganggukkan kepalanya dan berkata. “Ah! itu karena dulu saya hantu, tapi sekarang tidak apa-apa, kamu dan yang lainnya sudah bisa melihat saya! ” Jawabnya, dengan begitu jujur.
Bahkan sangking jujurnya Arka sampai terbengong untuk sesaat dan menatap gadis itu dengan tatapan aneh. “Eh, nih anak lagi ngelawak rupanya!....kalau mau bohong yang masuk akal sedikit dong!!.... mana ada yang begituan?!! ” Ucapannya, dengan tidak percaya.
Padahal Shera sudah menjawab pertanyaannya dengan jujur, namun pemuda itu malah menganggapnya sebagai guyonan.
Menanggapi hal itu, Shera pun kini hanya menghela nafas panjang. Kemudian, gadis itupun melangkahkan kakinya dan berjalan melewati pemuda itu dengan wajah acuh tak acuh.
“Terserah lah, aku mau masuk saja!” Gumamnya dalam hati.
Namun, baru beberapa langkah ia menginjakkan kaki dan masuk melalui gerbang sekolah. Tiba-tiba suara Arka pun kembali terdengar dan menghentikan langkahnya. “Hei, berhenti!! ” Ucap pemuda itu dengan sedikit berseru.
Mendengar hal itu, Shera pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Ada apa?” Tanya gadis itu dengan bingung.
Shera yang mendengar hal itupun kini mulai menatap sekitarnya, melihat para anggota OSIS yang sedang memeriksa anak-anak yang lain, ia pun kini mengerti dan tanpa banyak tanya langsung berjalan mendekat ke arah seorang anggota OSIS perempuan dan berkata. “ Saya belum di periksa, tolong periksa saya! ” Ucapnya, sembari merentangkan kedua tangannya.
Melihat kelakukan gadis yang entah siapa namanya itu, dirinya yang tidak lain adalah wakil ketua OSIS itupun kini terkekeh dan berkata. “Loh, kamu ini mau di periksa apa mau minta peluk?” Tanyanya, dengan nada bicara yang terkesan bergurau.
Namun, setelah itu ia pun mulai memeriksa kelengkapan seragam yang Shera kenakan sebelum membiarkan gadis itu pergi.
Sedangkan Arka yang melihat hal itupun kini memasang wajah tak suka, dan dalam hati ia pun berkata. “Padahal masih ada aku, tapi kenapa malah minta sama yang lain?! ” Gumamnya dalam hati.
Entah ia kini sedang merasa kesal atau kecewa.
__ADS_1
...»»————>✥<————««...
Di dalam kelas saat ini, beberapa siswa nampak sedang asyik bercanda gurau dengan teman-teman sebangkunya. Ada pula para siswi perempuan yang berkumpul di satu meja dan terlihat sedang menggosipkan sesuatu yang menarik.
“Hah? Serius?!.... bukannya dia masih sakit?! ” Tanya salah satu siswi kepada temannya dengan wajah terkejut bercampur penasaran.
Sedangkan temannya yang mendengar hal itupun kini menganggukkan kepalanya dan menjawab pertanyaan itu tadi. “Iya, masak sih gua bohong?!.... dan lagi, ternyata dia itu sebenarnya cantik banget loh!” Ucapnya, lalu kemudian ia melirik sekitarnya untuk berjaga-jaga apakah orang yang sedang mereka bicarakan itu ada apa tidak. “Tapi yang bikin gue penasaran, kok tiba-tiba sekarang dia glow up ya?!.... padahal dulu dia itu kelihatan suram banget!.... rambutnya di tutup-tutupin gitu sampek mukanya gak kelihatan, terus kalau ngomong suka gagap-gagap dan gak nyambung kayak anak autis!!” Ucapnya lagi, yang membuat teman-temannya kini mulai merapat dan ikut bergosip mengenai salah satu siswi yang sekelas dengan mereka itu.
“Iya juga sih!.... tapi kalau boleh jujur, gua tuh sebenernya kasihan sama dia!... pingin gua ajak ngomong tapi rasanya kayak gimana gitu, soalnya gua takut kalau nanti malah ikut jadi sasaran bully kakak kelas!! ” Ucap dari siswi yang lain.
Kemudian, beberapa anak yang lain pun kini menganggukkan kepalanya dengan setuju. Karena jika di ingat-ingat, anak yang bernama Maya itu sering kali menangis di dalam kelas setelah mendapat perundungan dari kakak-kakak kelas mereka yang kejam.
Dan di saat para siswi yang sedari tadi bergosip itu terdiam, tiba-tiba suara seseorang yang kini duduk di tengah-tengah mereka pun terdengar dan berkata. “Oh, betapa malangnya anak itu!...... mendengar cerita dari kalian, saja jadi merasa sedih!! ” Ucap Shera, sembari menyeka setetes air mata iba di pipinya.
Sedangkan para siswi yang baru menyadari keberadaannya pun kini berteriak kaget dan menatap Shera dengan kedua mata mereka yang terbelalak lebar.
“Lo...Loh?!.... Se... Sejak kapan?!! ” Gumam dari salah seorang siswa dengan wajah pucat.
Entah karena merasa kaget atau takut dengan kemunculan gadis itu yang datang secara tiba-tiba dan duduk tepat di tengah-tengah mereka tanpa ada seorang pun yang menyadari.
Yah, bisa di bilang mereka memang terlalu fokus hingga terbawa suasana. Tapi bukan berarti mereka tidak akan menyadari keberadaan seseorang yang masuk ke dalam kelas, apalagi jika orang itu sampai duduk di tengah-tengah mereka yang posisinya kini sedang berkerumun dan melingkar rapat.
Hal itu jelas sangat tidak masuk akal!!!
__ADS_1